
"iya... mau ngapain datang kemari?"
Sudah hilang rasa hormat Ku untuk Suami ini, saya tidak ingin melihatnya.
"Boru... bapak sudah memberi jaminan cincin perkawinan bapak ke raja Huta, dan besok inang Simatua harus wajib membayar denda adat itu. tolong Boru..... tolong cabut denda adat itu."
"jika Tiur cabut denda nya, Mamak akan cabut dari hidupmu Tiur." ujar Mamak.
Syukurlah.... akhirnya Mamak pulang bersama Tulang dan Nantulang Mak Saor, serta Saor.
"tidak akan pernah Mak, kita hanya boleh berpisah karena maut."
Mamak tersenyum sinis ke arah Bapak, karena jawaban dariKu.
"Mak Tiur... Apakah kamu sudah tidak ada empati lagi terhadap Ku? saya bapaknya anak-anak, apa aku salah mintak tolong kepada anak ku sendiri?
Adikku di penjara, kakakku menderita seperti ini. dimana hati nurani mu Mak Tiur?
"pak Tiur... kamu yang tidak punya empati, dan kamu juga yang tidak punya hati nurani. kau membiarkan aku sendirian bekerja keras untuk menghidupi anak-anak kita.
sementara kamu hanya memikirkan keluarga mu saja, apa pantas kau disebut sebagai bapak?
Tiur.... apakah kamu menginginkan Suami mu ini tinggal disini lagi ?
"ngak Mak. Tiur hanya menunggu anak ini lahir dan bercerai."
Ku jawab pertanyaan Mamak dengan lantang dan tegas.
"sebaiknya kalian semua keluar dari sini sebelum saya panggil kan raja Huta." ujar Tulang Pak Saor setengah berteriak.
Akhirnya mereka keluar juga dari rumah ini, terasa tenang Seketika. saya yakin jika sudah bercerai nantinya mereka akan tetap datang dan tentunya masalah akan selalu berdatangan.***
Tanpa terasa Malam Natal umum telah tiba, Aku seperti Putri Raja yang di kawal dua dayang-dayang cantik yaitu Saor dan Ningsih.
Seperti biasanya malam natal umum seperti ini sangatlah ramai, dan prosesi begitu hikmat dan damai.
Hampir tiga jam lebih dan akhirnya selesai, ntah kenapa aku ingin sekali makan bakso. Saor sebagai penikmat bakso langsung mengajak kami ke tempat langganan Nya.
__ADS_1
Ya lumayan bagus tempat Nya, dan juga ramai. percuma ada Saor jika tidak dapat meja, mulut cerewet dari Saor langsung beraksi dan kami akhirnya dapat meja di pojokan dengan lokasi yang tepat.
"Indah.... Rani.... sini aja gabung, biar aku traktir." ujar Saor yang melihat kedatangan indah dan Rani, pelanggan ke-dua Ku yang sekaligus membuat usahaku maju.
Saor, Rani, Indah adalah tiga sahabat yang dikenal centil di kampung ini. selain cantik-cantik mereka juga pintar di sekolah Nya.
Mereka bertiga juga yang membuat Ku sering cemburu, karena mereka punya bapak yang menyayangi mereka. dengan Begitu sopan nya mereka berdua menyalami tanganku dan tangan Ningsih. lalu duduk di dekat Saor.
"girls.... pesan sepuas hati Kalian, biar saya yang bayar."
"asyik..... terimakasih Soar....." ujar Rani dengan mentel.
Makanan dan minuman kami sudah tersaji di depan kami berikut dengan cemilan yang lainnya, setelah doa panjang dari Saor, akhirnya kami menyantap makanan yang tersaji.
"tahu ngak kak, semua Ternak Mertua kakak sudah di jual berikut dengan anak-anak ternaknya."
"benar itu Ran... kata Mamak, rumah mereka yang di beli kak Maria dulu. yang di samping rumah pak olo itu sudah di jual. sawahnya juga sudah dibeli Bapak Ku.
Tinggal rumah lah sekarang sama kebun kopi Simaremare yang belum terjual. itulah kalau mulut Jabir yang suka fitnah orang." sahut Indah terhadap omongan Rani.
"bou Mak Reman melihat mertua kakak tadi siang di toko mas, menjual masnya yang selama ini dibanggakan Nya.
Keluarga Rani memang bukan orang kaya, tapi kami tidak pernah meminta belas kasihan orang lain. Rani dan Adek-adek di nafkahi dengan baik dan layak oleh bapak dan Mamak dan Rani juga tidak pernah mintak apapun ke mulut Jabir itu. tapi kenapa aku selalu di hina Nya? aneh kan?.
"sama ran.... aku kesal liat si mulut Jabir itu."
"hello..... kita disini mau makan ya, bukan mau bahas si mulut Jabir kalian itu. paham......" paham Ketua.
"gitu dong, nurut sama ketua kelas." ujar Saor dengan Nada Suara yang melengking itu
Aku dan Ningsih hanya tersenyum menanggapi tingkah dari tiga sahabat itu.
"adek-adek yang Cantik, berkat kalian pamer. usaha kakak mendapatkan rejeki yang baik. jadi..... setelah makan bakso ini kita berangkat ke pasar malam natal itu.
per orangnya silahkan pilih sepasang sandal cantik, 5 pasang aksesoris Apapun itu dan masing-masing sepasang baju tidur. kakak yang akan traktir. setuju.....
"s...e....t...u....j...u...........
__ADS_1
kami hanya Lima orang tapi suara dari meja kami ini mampu membuat tempat ini jadi heboh karena bising.
"bang Jago...... oh.... bang Jago....... bang Jago bang Jago bang Jago bang Jago bang Jago bang Jago....
"Abang dengar loh Saor.... bising kali dah kayak burung beo."
"bang Jago.... Saor cantik ngak memakai dress ini.?
"kalau Saor ngak cantik, sudah ku usir kau tadi. total semuanya 150 juta, cepat bayar...
"150 juta...... Abang mau cepat kaya supaya bisa jalan-jalan ke Jerusalem ya? nih... 150 ribu.... yang Abang pikir nya bakso emas yang kami makan?
"karena kalian semuanya cantik-cantik, cukup bayar 100 ribu aja, ini saya kembalikan 50 ribu lagi untuk jajan mu besok. sudah sana pulang.....
Akhirnya kami di usir juga, wajarlah orang kami bising kali. seru.... dan sangat lucu.
Kami berangkat lagi ke pasar Malam, yang biasanya ada sekali setahun sepanjang Desember sampai awal Januari.
Di toko aksesoris mereka bertiga berulah lagi, tapi sepertinya yang punya toko tidak mempermasalahkan Nya.
Masing-masing sudah menemukan yang inginkan dengan dramatis dan lanjut ke penjual sandal, dramanya juga demikian dan kemudian lanjut ke toko pakaian.
Dan lagi-lagi drama itu terjadi lagi, yang rebutan warna lah, ukuran dan sebagainya. dan pada akhirnya selesai juga memilih. di ujung persimpangan ada seperti kafe.
Karena merasa haus dan ingin nongkrong akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kafe itu.
Dan ternyata pemilik Kafe adalah Bapak Uda Nya Rani, dan tanpa basa-basi kami langsung menuju meja yang dianggap ketiga sahabat itu aman dan nyaman.
Setelah kami duduk dan memesan minuman berupa jus dan cemilan, kami berphoto Selfi bersama.
Tidak berapa lama pesanan kami diantar kan oleh seorang laki-laki yang seumuran dengan Tulang pak Saor.
"Boru Uda datang juga dengan membawa teman-temannya yang cantik-cantik, ini pesanan kalian semua dan selamat menikmati.
belanja kalian sini Uda simpan di kasir, nanti mau pulang mintak ya sama Uda. biar meja kalian longgar....
"iya uda.... terimakasih Uda....
__ADS_1
Oh... ternyata Uda nya Rani, pantasan langsung beliau yang mengantarkan pesanan kami.
Saor terlihat bengong dengan tatapan matanya menuju pintu masuk Kafe, dan ternyata bang Andri yang datang bersama seorang perempuan Muda.