
Entah berapa jam Aku tertidur, dan terbangun karena suara Ternak ku yang ribut mintak makan siang, sambil bersiul membersihkan kandang dan kemudian memberikan mereka makan siang berupa daun ubi jalar dan daun ubi jalar.
Setelah itu Mandi dan bersiap-siap untuk makan siang karena Mamak sebelumnya sudah menyiapkan makan siang untukku, duduk di meja makan sambil mengecek handphone apakah ada pesan BBM (BlackBerry messenger). tapi yang tunggu tidak kunjung ada, bahkan sampai selesai makan pun balasan pesan dari bang Andri tidak ada juga.
Selesai makan dan cuci piring, aku berlalu ke meja jahit Ku yang lama. untuk mengusik kejenuhan ku gambar sketsa kebaya dan dress yang baru.
Karena saking bahagianya, bahkan aku bisa menggambarkan 20 jenis kebaya baru dan 5 dress dan akhirnya Mamak dan Ningsih sudah pulang yang diantarkan Tulang Pak Saor naik becak barangnya.
Makanan ternak yang mereka bawa langsung di rapikan di belakang dan ternak langsung di urus oleh Mamak, sementara Ningsih bersama Tulang Pak Saor menemui Ku di meja jahit ini.
"selamat ya Bere, semoga calon pohoppu ku (Cucuku) ini sehat terus demikian juga kamu Bere, dan semoga Suami bisa berubah menjadi lebih baik setelah mendengarkan berita bahagia ini. "ujar Tulang Pak Saor dengan raut wajah bahagia.
(menurut tradisi, baik saudara laki-laki dan saudara perempuan dari pihak Mamak. akan di panggil Oppung kelak nanti oleh anak-anak Ku, demikian juga panggilan kepada dari pihak Bapak).
"Amin...."
"selamat ya kak, semoga kakak dan si adek sehat-sehat dan semoga kakak menjadi keluarga yang bahagia."
Amin......
Hanya bisa berkata Amin, akan harapan dan permohonan dari Tulang pak Saor dan Ningsih demikian juga diriku yang penuh dengan permohonan ini. dan Tulang pak Saor pamit pulang dan Ningsih ke dapur.
Semuanya sudah bersiap untuk makan malam, dan tanpa menunggu kehadiran bang Andri. bahkan sampai selesai makan pun bang Andri tidak kunjung pulang ke rumah.
"Boru...Mamak mau pergi ke gereja untuk latihan acara Natal nanti. bisa Mamak tinggal?"
"ngak apa-apa, bou pigi aja. biar Ningsih yang nemanin kak Tiur. karena Ningsih kek mana-mana kok. ntar kalau bang Andri pulang, Ningsih susul bou ke Gereja." jawab Ningsih.
"iya sudah kalau begitu, Ningsih... bou titip ya Eda mu."
Ningsih hanya mengangguk seraya tersenyum dan kemudian membereskan piring bekas makan kami.
"kak... ini air hangat Nya, Ningsih cuci piring dulu. setelah kita nonton di ruang tamu."
Ucap Ningsih sambil membawa piring bekas makan kami ke wastafel sederhana itu, karena memang tidak banyak piring kotor sehingga Ningsih cepat selesai mencuci piring. dan kini calon Adik Iparku itu sudah datang menghampiriku di meja makan ini Seraya tersenyum.
__ADS_1
"kak ..... ngak ada vitamin atau obat yang harus kakak minum gitu dari Dokter Nya?" tanya Ningsih dengan gamblang Nya.
"untung kamu ingat tin, bentar biar Kuambil kan?"
"kakak duduk aja, tinggal bilang aja dimana kakak menaruhnya." sanggah Tiur.
Aku hanya menunjukkan tas kecil yang biasa ku bawa dan Ningsih memberikan tas tersebut kemudian mengambil termos dan air minum biasa.
Sebenarnya hanya vitamin dan tambahan susu hamil yang di resep Dokter dan setelah minum vitamin tersebut Ningsih masih tetap menatapKu.
"susu hamil nya ngak sekalian kak? biar Ningsih buatkan, kan ada takarannya."
"ntar lagi Ning, masih kenyang loh."
"ya sudah, kita selonjoran di ruang tamu yuk sambil nonton sinetron."
Ningsih mengiring Ku ke ruang tamu dan membuat membuat sandaran Badanku, hingga posisi wenak.
"Ning.... kamu ngak merasa di manfaatkan oleh kakak dan Mamak? maaf kakak tidak mau memanfaatkan orang lain demi kebutuhan Ku."
"kakak tahu kan kalau Ningsih anak yatim-piatu? bapak dan Mamak meninggal dunia ketika Ningsih masih kelas 5 SD kak dan saat itu Ningsih di tampung oleh Tulang.
Ningsih bukannya mendapatkan perlindungan dari keluarga Tulang, tapi kebalikannya. Ningsih jadi pembantu dan perlakuan mereka sangat kasar terhadap Ningsih.
Kelas 3 SMP, Ningsih di tinggalkan keluarga Tulang karena di pindahkan kerjanya ke kota lainnya. dan akhirnya Oppung boru Ruth yang menampung Ku, hari-hari aku belajar menjahit hingga bisa menguasai nya.
Di hadapan oppung Boru Ruth, baru Ningsih merasakan menjadi manusia dan tentunya nyaman.
Setelah bertemu dengan kakak dan Bou rasanya sangat begitu nyaman. aku ingin tetap seperti ini, walaupun kelak nantinya Ningsih tidak berjodoh dengan bang Rifan.
Baik Oppung boru Ruth dan kakak serta bou, sama-sama memberiKu kenyamanan seperti dekapan hangat keluarga yang utuh.
Sebagai sesama keluarga, yang Ningsih lakukan menurutku wajar kak. banyak yang sudah ku terima saat bersama bou dan Kakak, terlebih-lebih terhadap bang Rifan.
Aku sadar akan posisi Ku, pendidikan hanya sampai SMA. yatim-piatu itu dan beginilah diriku apa adanya.
__ADS_1
Tapi aku aku mencintai dan menyayangi bang Rifan, dan juga menyukai dan menyayangi bou serta kakak yang setiap hari bersama Ku.
Namanya cinta yang tidak harus memiliki, jika kelak suatu saat nanti Ningsih tidak berjodoh dengan bang Rifan, aku tidak akan menyesal.
Karena Ningsih sudah mendapatkan kasih sayang dari bou dan juga kakak terlepas kasih sayang dari oppung Boru Ruth.
Ijinkan Ningsih seperti ini kak, dan jadilah kakakku."
"mau jadi kakak atau kakak ipar?"
mendengar pertanyaan dariku, Ningsih menatapku dengan tersenyum kembali.
"dua-duanya, Ningsih ngak bisa memilih diantara keduanya. "
Mendengar penuturannya langsung ku peluk gadis cantik dan berhati lembut itu. dan ku lepaskan pelukan kemudian memegang kedua tangannya yang hangat.
"sebenarnya kakak juga berharap kamu itu menjadi Iparku, dan sangat cocok buat Rifan. Rifan itu agak sombong dan terlihat kaku. jadi sangat cocok Bertemu dengan gadis secantik kamu yang berkepribadian lembut.
Tapi semuanya itu di tangan Tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa berharap. dan kakak juga berharap kita selama nya menjadi saudara."
Kali ini Ningsih yang memelukKu, pelukan hangat dari Nya membuat hati ini tenang. orang lain yang bisa menjadi keluarga yang mampu menghibur dan menghangatkan hatiku yang gusar ini.
Tanpa ku minta Ningsih membuat kan susu hamil untukku dan kemudian duduk disamping ku sembari menonton televisi.
Susu hamil sudah habis tapi bang Andri tidak kunjung pulang, hingga akhirnya kami berdua sampai ketiduran di ruang tamu ini.
Tok..... tok..... tok.....
"Tiur..... buka..... Tiur... buka.....
itu Suara bang Andri dengan suara yang terdengar kuat.
Kenapa bang Andri demikian?
apa yang terjadi?..
__ADS_1