
"percuma juga jika Ku jelaskan sama Abang, bang Aku mau istirahat. Abang mau pulang atau tidur disini?"
"Abang mau tidur saja, Abang kangen sama Adek."
Tanpa Ku tanggapi Aku langsung menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka, setelah itu balik kamar.
Bang Andri sudah rebahan diatas kasur menungguku dengan senyuman Nya, setelah berbaring di dekatnya. bang Andri mengelus pipiku.
Aku paham maksudnya, Dia ingin meneruskan urusan arus bawah Nya, biar bagaimanapun bang Andri adalah Suamiku sudah sepantasnya aku melayaninya hasratNya.
Sudah Lupa beberapa kali bang Andri menunaikan kewajiban untuk menafkahi batinku, tapi aku tidak pernah merasakan apapun. aku hanya menjalankan tugas Ku sebagai istri untuk menjaga hasratnya.
Hasrat bang Andri sudah terpuaskan, tapi tidak Denganku. Suamiku bisa meraih Tubuhku tapi tidak dengan cintaku.
Cintaku dan kasih sayang Ku tertinggal jauh di luar pulau nan jauh dari tempat ini. Hanya malam pertama yang Ku nikmati, karena membayangkan wajah kekasihku yang tertinggal.***
Bangun jam 5 pagi seperti biasanya dan beraktivitas. setelah sarapan tersaji dan Selesai mandi serta berpakaian, Ku Bangun Kan bang Andri yang masih tertidur.
"mana kopi dan sarapan Abang?"
Lagi-lagi perintah yang menyebalkan itu keluar dari mulut Suamiku yang manja, Aku langsung menuju meja makan untuk sarapan.
Sudah selesai sarapan dan nyuci piring, duduk bersantai sejenak. barulah bang Andri tiba di meja di makan ini dengan Memakai dinas kerjanya.
"dek... mintak uang saku dong." ucapnya di sela-sela sarapan.
"bang... tahu diri lah, sudah ngak ngasih nafkah. tahu nya cuman Mintak uang sama istri, mana harga dirimu sebagai Suami."
Bang Andri langsung berhenti makan setelah mendengar jawaban dariKu dan bangkit berdiri lalu pergi.
Masa bodoh dengan sikapnya, dan piring makananNya langsung ku bereskan dan lanjut aktivitas lainnya.
Karena pekerjaan banyak, kami semua langsung menjahit. dan pesanan satu Tim sudah selesai untuk fitting.
__ADS_1
Tepat jam 1 siang setelah makan, tim 1 sudah datang untuk fitting. dan tidak ada kendala. kami langsung buat tim kedua dan tim ke-tiga.
disela-sela kesibukan kami ada dua ibu-ibu yang mendatangi tempat kami mengais rezeki. dan langsung ku sambut dengan senyuman manis ku.
"Mak Magira (panggilan kepada calon ibu setelah menikah di kalangan). jangan bilang kalau Mak Magira, tidak mengenal kami berdua."
"kenal lah, oppung Boru Nia dan guru biologi SMP Ku yang sangat cantik."
"kalau saya kenal ngak?"
"kenal dong, oppung Boru Riduan. guru SD Ku yang cerewet."
"ada-ada aja kamu Mak Magira, oppung ngak perduli ya kalian sibuk atau ngak. pokoknya kami berdua datang kemari untuk buat kebaya seperti kebaya istri camat itu." ujar oppung Boru Riduan.
"tenang guru-guru yang Cantik. ngomong-ngomong, masih ngajar kah ibu guruku yang Cantik?"
"ngak lagi Magira, sekarang ini kami sibuk gendong cucu sambil berpesta."
"enak oppung Riduan. iya sudah sini biar Tiur ukur Badannya. sebenarnya ukuran ibu guru sudah ada dari catatan Oppung boru Ruth, tapi takutnya nanti salah. kan sekarang hanya berpesta saja."
"oppung Boru Nisa dan Oppung Boru Riduan, kita ngopi dulu yuk. ngomong-ngomong bawa gula ngak?"
(maksud nya adalah gula untuk penderita diabetes atau pencegahan).
"jelas dong oppung Magira" jawab oppung Boru Riduan yang selesai ku ukur Badannya.
Selesai mengukur badan oppung Boru Nisa, ku temani mereka duduk sambil ngopi Begitu juga dan teman-teman yang lainnya.
"Mak Magira... tahu ngak, 4 hari yang lalu kami membawa Natua-tua marga ke rumah mertua Mu?" tanya Oppung Nisa.
"ngak tahu oppung, karena Tiur sibuk menjahit. demi sesuap nasi. emangnya ada oppung?"
"Kepala puskesmas yang baru itu bernama Dokter Royani, dia itu menikah dengan semarga oppung Doli mu (menyebutkan Suaminya). Dokter Royani itu kan bukan orang Batak. jadi Dokter itu juga sudah mabalu (janda), dengan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.
__ADS_1
Dokter Royani sudah di tempat kan Setahun lalu untuk menggantikan Dokter Lukas yang sudah pensiun.
Nah.... saat itu anak laki-lakinya yang sudah lajang yang juga Dokter di puskesmas itu yang bernama Ales..... Alex Namanya. dan jatuh hati kepada Eda mu, si Maria yang cantik itu.
Saat martandang (menemui si Maria ke rumah nya untuk pendekatan), ketika tahun baru kalau ngak salah. dan mertua mu yang Gilak itu langsung merestuinya. ya wajar dong dokter gitu loh.
Nah... situ itu juga Mertua mu itu langsung mintak panjar Sinamot (Mahar) 10 juta kepada Alex.
Mana ada orang mau martandang bawa uang cash 10 juta kan? akhirnya si Alex menemui Mamaknya dan membicarakan niatnya untuk melamar Maria.
Berhubung Alex sudah menyukai Maria, akhirnya mendesak Mamaknya untuk melamarnya.
Dokter Royani kan ngerti cara melamar anak orang. jadi di tanya lah sama rekan sesama Dokter di puskesmas.
Besok malamnya pergi dokter Royani bersama anaknya dan juga rekan kerjanya untuk melakukan hori-hori dingding (memperjelas hubungan asmara anaknya kepada pihak perempuan) atau disebut mangalehon tanda. dan itu sesuai dengan saran dari rekannya. dan memang itu sudah tepat.
Saat itu juga Mertua mu itu langsung mintak panjar Sinamot sebesar 40 juta yang awalnya mintak 10 juta.
nah rekannya sudah menyampaikan kalau sinamot itu dibahas saat marhusip nantinya (pembahasan tentang mahar acara adat dan susunan tata acara serta biaya-biaya yang diperlukan, pihak laki-laki akan mendatangi pihak keluarga perempuan dengan membawa perwakilan keluarga dan perwakilan marga, serta perwakilan satu kampung.
akan tetapi marhori-hori dingding dan marhusip biasanya digabungkan jika masing-masing calon mempelai dari daerah yang berada dan jaraknya jauh. itu dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya.). tapi mertua mu itu ngeyel mintak panjar Sinamot 40 juta. bagi orang Batak ngak ada istilah panjar Sinamot, yang ada adalah pertanda itupun bukan berbentuk uang. minimal sarung atau ulos jika tidak sanggup membeli emas.
"tunggu dulu oppung, bukannya saat marhori-hori dingding sudah bisa menerima Sinamot ya?" tanya Ningsih yang penasaran.
"ngak ..... tapi bisa membahas Sinamot jika digabungkan dengan acara marhusip, itupun jika calon mempelai jaraknya jauh.
Kalau satu kampung itu tidak bisa, habis marhori-hori dingding, lanjut lagi marhusip. kemudian marhata Sinamot dan sebagainya. tapi sekarang sudah disingkat demi menghemat biaya dan waktu.
Marhori-hori dingding (**memperjelas hubungan asmara anaknya kepada pihak perempuan, disini pihak laki-laki membawa makanan dan juga pertanda untuk calon mempelai wanita, bisa berupa ulos, sarung atau cincin emas.
Akan tetapi ini bagi yang sudah pacaran atau kedua calon mempelai sudah sepakat untuk menikah**).
Lanjut Marhusip gabung dengan marsundutan serta marhata Sinamot ( **ini pada umumnya yang dilakukan, untuk mempersingkat waktu dan menghemat biaya. disini membahas mengenai besaran Mahar, acara adat, jumlah ulos yang diberikan oleh pihak par Boru atau keluarga perempuan kepada pihak laki-laki saat pesta adat pernikahan.
__ADS_1
Disini pihak perempuan yang harus menyediakan makanan berupa daging ternak saat menjamu pihak laki-laki. karena pihak laki-laki sudah membawa keluarga besarnya, perwakilan dari marga, dan perwakilan dari satu kampung.
tapi mahar belum di berikan kepada pihak perempuan**.)*******