
Oppung boru Ruth dengan tegasnya menyuruh para warga untuk bubar dan tinggal kami disini bersama Oppung boru Ruth.
Begitu banyak nasihat dari oppung Boru Ruth kepadaKu dan kepada bapak, akan tetapi bapak tidak sanggup melihat wajahku yang yang berair karena air Mataku.
Setelah oppung boru Ruth pulang, bapak dan Mamak aku mintak pulang. aku ingin menenangkan diri dulu.*
Aku terbangun karena mimpi dan ternyata sudah jam 4 pagi, Aku langsung beraktivitas seperti biasanya.
Semuanya sudah selesai tepat jam 7 pagi, bayam muda dari kebun yang ku petik menjadi sayur untuk sarapan pagi ini.
Selesai makan dan cuci piring, langsung menyiapkan minuman Kopi untuk tukang yang sudah datang untuk kerja membangun lapak jahit Ku dan aku menyetrika pakaian.
Tulang pak Saor sudah datang untuk mengawasi Tukangnya dan aku melanjutkan aktivitas menjahit.
"Waouuuuu.... ini lapak tempat Edak menjahit nanti ya?" tanya Uli yang sudah Tiba.
"iya Edak, oh ya Kebaya Edak belum selesai satu lagi. tapi dua dress dan satu kebaya sudah selesai kok."
Ucapku kepadanya Sembari menunjukkan hasil jahitan Ku dan langsung di pilih Nya yang berwarna pink. tidak berapa lama Uli sudah keluar dari balik tirai itu.
"cantik kali Edak, masalah yang lainnya gampang lah itu. untuk sekarang ini hanya butuh dress ini aja, karena ada acara di Gereja. disana juga ada anak rantau yang tampan.
Kemarin waktu Ferdinand martuppol (tunangan) Nantulang Mak Saor sangat cantik, katanya Edak yang mekeup. aku mau juga dong."
Uli memintaku untuk meriasnya, dan langsung deh aku berkreasi. untuk riasan wajah sudah cukup sekarang tinggal rambut, hanya aku cocang dan sedikit memakai hispray agar awet dan selesai.
"waouuuuu..... terimakasih Edak yang hebat.... tulang pak Tiur... Uli cantik kan....."
Dengan begitu percaya diri, Uli pamer di hadapan tulang pak Saor dan dihadapan 4 orang tukang lainnya.
"cantik dek.... mau jadi istri Abang?" jawab salah tukang yang masih Muda.
"hee.... mangnya berani berhadapan dengan mamak Ku." jawab Uli yang langsung membuat nyali anak muda itu ciut.
Uli beralih berputar-putar di depan cermin besar itu dan kemudian meraih tasnya.
"Edak.... princess mau pergi dulu ya, untuk mencari pangeran berkuda yang tidak manja." ujarnya sembari lenggok lenggok di hadapan tulang pak Saor dan para tukang.
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah Uli menyindir Ku atau menyindir bang Andri, tidak berapa lama Mamak datang dan langsung ngobrol dengan tulang pak Saor.
Tulang pak Saor adalah Adik laki-laki kandung Mamak, dan Tulang pak Saor tidak pernah Akur dengan Bapak. akan tetapi Tulang pak Saor sangat menyayangi Mamak sebagai kakak kandungnya begitu dengan ku sebagai bere Nya.(keponakan).
"masih ada lauk yang bisa dimasak di kulkas itu Inang? (putriku, panggilan ibu kepada putrinya). tanya Mamak setelah masuk ke dalam rumah.
"ada Mak, tadi pagi Tiur beli dari pak ojak yang bawa gerobak itu."
"iya dah, mamak masak ya." ujar Mamak sambil berjalan menuju dapur.
Langsung lanjut aktivitas menjahit, tidak berapa lama suara langkah mamak terdengar di dapur.
"subur kali tanaman mu itu lah, nanti Mamak ambil lagi. kebun itu sudah seperti pasar, lumayan lengkap." kata Mamak dari Dapur.
Mamak menghampiri Ku sambil membawa air minum di botol besar dan meletakkan di atas meja jahit Ku.
"jangan lupa minum air putih yang banyak, kasihan nanti pinggang Mu."
"iya Mak, terimakasih kasih ya Mak." jawab kepada Mamak.
Setelah aku minum dari botol minum besar barulah Mamak kembali ke dapur. tidak berapa lama, tidak berapa lama Mamak sudah datang menghampiri ku dengan membawa nampan berisi kopi dalam teko serta goreng pisang.
Tulang Pak Saor bersama empat orang tukang sudah duduk di kursi pemberian Tulang pak Saor dan Mamak langsung menyajikan kopi serta goreng pisang Nya.
"pak Rado... kira-kira berapa lama lapak itu siap di buat?" tanya Mamak ke pak Rado, kepala tukang Nya.
"besok sudah siap nya ito (panggilan kepada sepupu perempuan, karena Mamak dan pak Rado satu marga)"
"baguslah kalau begitu, oh Tiur. kenapa oppung Boru Ruth mau memberikan semuanya untuk mu?" tanya mamak di sela-sela kami sedang ngopi.
"oppung itu yang datang kemari Mak, Tiur kirain mau marah karena pelanggan Nya sudah ku ambil, tapi datang kemari untuk meminta Tiur meneruskan usahanya.
Oppung itu mau tinggal di rumah anaknya yang di Jakarta, tapi karena pegawai Nya. oppung Boru Ruth tertunda berangkat ke Jakarta.
Oppung boru Ruth mempercayakan Tiur meneruskan usahanya karena temannya Saor dan Nantulang pamer kepada Oppung boru Ruth."
"pamer ya... hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha"
__ADS_1
Ujar pak Rado sambil tertawa, begitu dengan yang lainnya.
"semua mesin jahitnya beserta karyawan dan juga bakal kain stoknya diberikan secara gratis untuk Tiur dengan syarat aku buatin Kebaya dan dress untuk oppung Boru Ruth."
"mungkin oppung Boru Ruth mau nyari Suami lagi."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Ujar salah satu tukangnya yang paling muda, dan dia yang menggoda Uli tadi pagi. dan kami semua tertawa lepas karena ocehan Nya.
"iya ito, oppung Boru Ruth mintak Ijin kepada Ku dan Edak mu. untuk membangunkan lapak jahit di depan rumah untuk bere.
Rumah oppung Boru Ruth akan di sumbangkan ke gereja, katanya rumah itu mau di bongkar untuk jalan masuk ke gereja yang dibelakang rumah Nya. karena jalan ke gereja itu hanya setapak aja, dan tentunya mobil tidak bisa lewat.
Oh iyaa, oppung Boru Ruth juga bilang. jika ada mau beli peralatan rumah Nya silahkan temui oppung Boru Ruth. nanti bisa cincai cincai lah harganya, dan hasil penjualan akan diberikan kepada pegawainya dan sebagian lagi di sumbangkan untuk gereja juga."
Kata Tulang pak Saor dengan sangat rinci, Mamak langsung mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu maksudnya.
Perlengkapan masak oppung Boru Ruth sangat mewah dan bagus, dan inilah saatnya untuk beraksi.
"Mak... nanti sore kita temui oppung itu ya."
"okey.... oh iya, dulu kan Mamak sebagai tukang Payet nya oppung Boru Ruth, jadi bisalah Tiur rekrut Mamak sebagai tenaga Payet.
Mamak kebanyakan nganggur, Tiur tahu sendiri kalau kita cuman punya sawah dan kebun cabe itu. itu biasanya di kerjain bapak mu seorang diri." pinta Mamak yang sok imut.
"bisa di atur Mak, sekarang mamak Payet dulu Kebaya pesanan Edak Uli itu, dikit aja di depan Nya untuk menambah kesan mewahnya."
"Uli pesan kebaya sama mu?" tanya Mamak dengan heran.
"iya Mak, karena Saor pamer dihadapan Nya saat acara muda-mudi di kampung seberang."
Jawab Ku ke Mamak, sementara Tulang pak Saor hanya tersenyum mendengar perkataan Ku.
"habis Mamak masak ya, itu lagi masak rendang ayam. untuk kita makan nanti." ujar mamak.
"Bere.... Nantulang Mu juga sebagai tenaga Payet di rumah oppung Boru Ruth, rekrut juga dong Nantulang Mu itu." Pinta Tulang pak Rado.
__ADS_1
...Hanya menggeleng kepala untuk menjawab permintaan dari tulang pak Rado, memang keluarga pak Rado tidak mempunyai lahan pertanian di kampung ini, dan itu artinya aku tidak perlu repot-repot mencari tambahan pegawai yang ahli dalam Payet....