
Pagi-pagi sekali kami sudah masak, sementara bou Mak Rada bersih-bersih sekitar rumah dan kemudian mengurus ternaknya.
Semuanya sudah bangun dan kemudian beres-beres, Oppung Doli Sanggap meminta sepasang pakaian kepada Rifan untuk di pakainya ke rumah Bapaknya Andri nanti.
Rifan dengan bercanda memberikan Pakaian kepada Oppung Doli Sanggap, dan hal membuat kami tertawa lagi.
Rifan berkata kalau Oppung Doli Sanggap akan terlihat seperti anak Muda jika memakai pakaian Nya, dan itu langsung disambut oleh Oppung Doli Sanggap.
Setelah semua sudah berkumpul di ruang tamu, kami sarapan bersama. begitu nikmat dan bahagia. hidangan kami sederhana tapi kebersamaan ini yang membuat Nya menjadi Begitu nikmat.
Selesai makan kami beres-beres untuk berangkat ke rumah Bapaknya Andri dan kami menunggu seseorang perwakilan dari Pemangku Adat.
"Mak Elazer, sebenarnya bou sangat malas melihat Mamaknya Iren. sebenarnya sangat enggan ikut kalian ke sana.
Tapi karena Elazer ikut serta, makanya bou harus ikut.
Bou ngak mau terjadi sesuatu ke Elazer, nanti biar Bou aja yang menggendong Elazer ya."
Ujar bou Mak Rada, sebenarnya demikian juga denganku. Jika mengingat semua perlakuan dan sikapnya Mamaknya Andri rasa tidak Sudi untuk melihat Nya lagi. tapi Aku sudah berjanji kepada bapaknya Andri untuk datang melihat Nya dan akan berusaha memaafkan semua kesalahannya.
Aku hanya menghormati Bapaknya Andri, karena beliau termasuk bijaksana. bapaknya Andri datang baik-baik ke rumah dan memohon untuk Kepada kami agar bisa menjenguk si Beliau itu dan memaafkan Nya.
"emangnya bou Begitu bencinya ya melihat bou Mak Iren?" tanya Simson yang penasaran akan penuturan dari bou Mak Rada.
"ngak terungkapkan lagi Bapak, bou memang hanya punya kebun cabe 3 rantai dan bou biasa kerja di kebun kopi Nya Ito pak Saor.
(dalam tradisi Batak, keponakan laki-laki akan di panggil Bapak oleh Bou Nya).
Amangboru Mu tukang, jika tidak ada kerjaan ikut ito pak Saor untuk mengolah sawah Nya. jika hanya mengandalkan Kebun cabe itu masih kurang untuk keluarga.
Bou tidak pernah sedikitpun meminta kepada Mak Iren bou mu itu, tapi caci maki dan hinaan bou itu sangat membekas di hati ini.
Itok pak Saor yang selalu membantu keluarga Bou, baik dari segi ekonomi keluarga maupun dukungan lainnya, dan Ito pak Saor serta keluarga Nya tidak pernah sekalipun menghina Bou.
Jika hanya bou yang di hina Nya, bou masih bisa terima. tapi Mak Iren sudah menghina anak-anak bou dan keluarga Bou.
__ADS_1
Mak Iren berkata kalau anak-anak bou hanya akan menjadi pembantu orang lain dan tidak akan bisa bersekolah.
Tapi semua perkataan Nya tidak satu pun yang benar, hanya Rada yang tidak melanjutkan ke bangku perkuliahan. karena sudah nyaman kerja sama oppung Boru Ruth.
Adik-adiknya sekarang semuanya sudah kuliah, hanya tinggal si Anggi yang masih SMP.
Lihatlah bou Sudah punya banyak ternak dan hinaan Nya berbalik kepada Nya."
Ujar Bou Mak Rada dengan raut wajahnya yang terlihat sedih saat menceritakan kisahnya yang selalu dihina oleh Mamaknya Andri.
Bapak langsung mendekati bou Mak Rada dan memegang kedua tangannya seraya menatap mata bou dengan sendunya.
"Ito, saya ito kandungNya Mak Iren mintak maaf atas semua tingkah dan sikapnya Mak Iren kepada Ito.
Saya tahu Gimana sakit nya Ito rasakan, dan aku mengerti apa yang Ito rasakan saat ini.
Saya Mohon tolong maafkan ito Mak Iren, tolong maafkan Ito, agar Mak Iren bisa tenang istirahat nantinya."
Pinta Bapak kepada bou Mak Iren, dan lagi-lagi aku kagum melihat perubahan baik dari Bapak.
Kemudian meraih tangan Mamak dan juga tangan nya Andri, Bapak memeluk kami bertiga dan terdengar suara tangisan Bapak saat memeluk kami bertiga.
"kak, bang Rifan, Oppung Elazer Boru.....
Ujar Bapak Sembari melepaskan pelukannya dari kami dan menundukkan kepalanya, setelah menyeka air matanya, bapak kemudian menatap ke arah kami bertiga.
"Bapak Mintak maaf atas perlakuan bapak kepada kalian, bapak tahu apa yang bapak rasakan saat itu serta bapak tidak paham kenapa bapak bisa melakukannya.
Bapak sungguh mintak maaf, Oppung Elazer Boru. tolong maafkan saya, jauh dari lubuk hati ini aku masih sangat menyayangi mu."
Ucap Bapak dengan tegas Nya saat bicara dengan Mamak.
"iya oppung Doli Elazer, mari kita sama-sama melupakan masa lalu dan kita menatap depan." jawab Mamak ke Bapak.
Kami hanya bisa berpelukan, dan perlahan kami melepaskan pelukan kami.
__ADS_1
Uda pak Simson terlihat mendekati keluarga Nya dan kemudian meminta maaf atas semua perlakuan Nya yang Selalu menyakiti Inang Uda dan Adek-adek itu.
Setelah mendapatkan maaf dari istri dan anak-anaknya, Uda pak Simson mendekati kami kemudian meraih tangan kananKu dan tangan Nya Rifan.
"Boru, amang. Uda sangat berterima kepada kalian berdua, dan juga Lisa serta Fernando. yang telah membantu Uda untuk menyatukan keluarga Uda kembali.
Kalau bukan karena kalian, Uda pasti akan menyesal seumur hidup.
Di penjara tidak masalah bagi Uda, tapi kehilangan adek-adek mu dan inang Uda adalah hal yang terpahit dalam hidup Uda.
Terimakasih Amang Rifan, terimakasih Boru. Uda kagum dan bangga punya anak dan Boru yang sangat hebat." ujar Uda pak Simson dengan begitu tenang Nya.
"sama-sama Uda, Rifan juga bersyukur kalau Uda sudah sadar. sehingga Adek-adek tidak sakit hati berkelanjutan.
Adek-adek, Inang Uda. terimakasih ya sudah mau memaafkan Uda."
Kami hanya bisa berpelukan, rasanya nyaman dan bahagia. setelah semua penderitaan dan drama kehidupan yang menyakitkan. kami bisa berkumpul dan saling memaafkan.
"Nga sae be hamu marsihaolan? ngak boi Hita mangalakka?"
(dah siap kalian berpelukan? dah bisa kita lanjutkan perjalanan kita?)
ucap Oppung Doli Sanggap karena kami terhanyut kebersamaan dan cinta kasih keluarga.
"sudah dong oppung, yuk kita berangkat." jawab Simson sambil menggandeng tangan Oppung Doli Sanggap.
Kami semua berangkat ke rumah Nya Andri untuk melihat keadaan Mamaknya.
Butuh waktu 10 menit dengan menggunakan mobil dan akhirnya kami sampai di rumah Andri.
Kami di sambut oleh Pemangku Adat dan rombongannya tapi kami tidak melihat Andri berada Disini.
Keadaan Mamaknya Andri terlihat sangat menyedihkan, lidah Nya yang terkadang menjulur dan kondisinya tubuhnya yang struk.
Benar-benar menyedihkan, tapi setelah melihat Ku, Beliau seperti marah dan lidahnya yang menjulur bisa normal kembali.
__ADS_1
Pemangku Adat menyuruh kami duduk di dekatnya sementara Pemangku Adat dan rombongannya duduk dibelakang kami.