MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Mak Iren Meninggal.


__ADS_3

Ternyata proses pemindahan Mak Iren yaitu mantan ibu mertuaku termasuk cepat juga, jam 5 sore sudah langsung masuk ke rumah sakit.


Untuk saat Pasien belum stabil, hanya mamak dan bapak yang menemani pak Iren ke rumah sakit untuk menjenguk beliau.


Setelah jam delapan malam, mamak, bapak dan amangboru pak Iren sudah kembali ke rumah.


"pak, kok cepat kali pulang nya. emangnya bou itu ngak di tungguin ya?"


Bapak tidak menjawab pertanyaan dariku tapi malah menoleh amangboru.


"ngak seperti sakit biasa inang Mak Elazer, berkunjung hanya di waktu-waktu tertentu saja."


"begitu amangboru, terus bagaimana keadaan Bou?"


"semakin parah, bahkan saat dia masih di ikat di tempat tidurnya karena sering mengamuk."


"jadi kapan kita bisa kumpul lah Eda? siapa tahu saja nantinya ada perubahan setelah bertemu dengan Eda?"


"besok Inang, Iren juga ikut hadir sekaligus membawa pastur. untuk mendoakan kesembuhan bou mu.


Bou mu semakin menjadi-jadi, sorot matanya yang penuh dengan dendam dan amarah. ditambah lagi anak kesayangan yang pergi meninggalkan dia.


Itulah kalau bersekutu dengan Iblis, jadinya seperti ini. awalnya kebahagian semu yang ditawarkan, dan pada akhirnya hanya penderitaan yang di peroleh."


Sorot mata amangboru pak Iren begitu lemas, dan kami langsung membawa ke dapur untuk makan malam.


Selesai makan malam, amangboru kembali ke mes karyawan untuk istirahat. demikian juga dengan kami semuanya untuk beristirahat.**


Bangun seperti biasanya, setelah beres-beres dan kami sarapan. setelah itu kami menunggu amangboru pak Iren untuk di rumah ini.


Rencananya hari ini adalah untuk menjenguk Mamaknya Iren, mantan ibu mertuaku yang berada di rumah sakit jiwa.


Setelah kumpul akhirnya kami berangkat, ternyata jarak nya tidak jauh. hanya menempuh 20 menit perjalanan akhirnya kami sudah tiba di rumah sakit jiwa itu.


Iren yang memakai pakaian Biarawati atau suster, Riama, Devi, Maria, Uli dan Gabe sudah menunggu kami di ruang tunggu.


Pak Iren langsung menangis seketika saat melihat ke enam Putrinya sudah berkumpul, seperti reuni keluarga yang begitu menyayat hati.


Mantan bapak mertuaku bersujud di hadapan ke enam Putrinya, memang sangat memilukan. biasanya anak yang bersujud di kaki orang tuanya, tapi ini kebalikannya.


Iren putri pertamanya langsung membopong Bapaknya.


"bapak tidak seharusnya bersujud di kaki kami, manusia adalah tempatnya khilaf dan berdosa. ayo bangun pak, bapak adalah kehormatan kami."

__ADS_1


Ujar Iren dengan begitu lembut nya, derai air matanya mengalir menghalangi lembut nya wajahnya yang begitu tenang.


Mereka ber enam secara bergantian memeluk Bapak nya, untuk menguatkan hati bapaknya.


Setelah agak tenang, ke enam Putrinya mendekati Mamak, bapak dan juga pak Rado.


"Nantulang, saya Iren. Putri bapak dan Mamak yang paling besar.


Saya mewakili keluarga, mamak dan Andri. memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada nantulang atas semua perbuatan mamak selama ini.


Kami ber enam merasakan apa yang telah di lakukan oleh mamak ke nantulang, saya benar-benar mintak maaf."


Dengan berurai air mata, mamak memeluk Iren begitu juga dengan yang lainnya secara bergantian berpelukan.


Setelah mengatakan sepatah dua kata ke bapak dan juga ke pak Rado, kemudian Iren langsung memelukku.


Omongan nya tidak jelas saat memeluk Ku dikarenakan tangisannya yang tiada berakhir.


"Eda, sudah ya Eda. semuanya sudah berlalu, mari kita menata masa depan. jauh dari lubuk hati Ku, semuanya sudah aku maafkan.


Mari kita sudahi semuanya, sudah saatnya kita bersama dan saling memaafkan.


Bou membutuhkan kehadiran ke enam Boru nya yang sudah lama meninggalkan nya.


Sebelum masuk ke ruangan Mamaknya, terlebih dahulu mereka ber enam menghapus air matanya dan merapikan penampilan masing-masing.


Ternyata kami masih menunggu dua pastur yang di ajak oleh Iren, tidak berapa lama kemudian yang kami tunggu sudah datang.


Romo Lukas dan Romo Benny, bersama-sama kami masuk ke ruang rawat Mak Iren. mantan ibu mertuaku.


Ruangan VIP khusus pemberian dari Suami nya Maria, Mak Iren dalam kondisi di kaki dan tangan nya yang terikat, begitu melihat ku dan mamak. Mak Iren menatap kami berdua dengan tatapan sadis.


Hingga akhirnya aku dan mamak menjauh, dan ke enam Putrinya langsung mendekati nya.


"mak, ini kami ke enam Boru mamak. kenapa mamak jadi seperti ini?"


'ha.... ha.... ha.... ha.... ha... Ha.... ha.... ha.... ha.... ha...ha.... ha.... ha.... ha.... ha... ha...ha..


ha.... ha.... ha.... ha.... ha... Ha.... ha.... ha.... ha.... ha...ha.... ha.... ha.... ha.... ha... ha...ha..


Beliau hanya tertawa tapi raut wajahnya dan sorot matanya begitu menyeramkan, kedua Romo itu langsung maju menghadapnya.


Romo Lukas langsung memercikkan air suci ke wajah Mak Iren seraya mengucapkan doa-doa, dan terlihat Mak Iren semakin marah.

__ADS_1


"tutup mulut kurang ajar........"


Begitu yang di ucapkan nya secara berulang-ulang, dan sesekali mengerang kuat. sorot matanya yang begitu menyeramkan.


Romo Lukas dan Romo Benny, terus menerus berdoa dengan suara yang kuat dan Mak Iren semakin mengerang semakin kuat.


"ise do hamu padua? buasa ro hamu padua manggugai ahu."* dialog Batak.


(siapa kalian berdua? kenapa kalian berdua menggangu Ku?")


Ucap Mak Iren kepada kedua Romo tersebut, akan tetap kedua Romo itu tidak berhenti berdoa.


"hehe ma ho Sian inang on, palua sude." ujar Romo Lukas.


(pergilah kau dari tubuh, lepaskan semua).


Romo Lukas dan Romo Benny tetap berdoa, dan Mak Iren semakin mengerang.


"dang di ahu, dang di hamu. Anggo inatta on nga marpadan hami, padan na suboi muse."


(ngak jadi milikku, kamu pun ngak bisa memilikinya. kami sudah membuat perjanjian dengan nya)"


Begitu kuatnya suara Mak Iren, air suci itu di percikkan kembali ke wajah Mak Iren.


ah..... ah...... Ah..... ah...... Ah..... ah...... ah.....


Suara Mak Iren begitu kuat dan akhirnya tidak sadarkan diri, dan kedua Romo itu tetap berdoa dengan suara yang lantang.


Kedua Romo itu sudah mengucapkan Amin yang mengakhiri doa nya, dan perlahan-lahan Mak Iren membuka matanya.


Kemudian melirik Iren dan kemudian memandangi kami satu persatu, air matanya mengalir dan perlahan-lahan kedua matanya tertutup.


Seperti nya ada salah, Romo Lukas mencek hidung dan kemudian menoleh ke Iren.


Bapak langsung berlari keluar dan tidak berapa lama bapak datang bersama dokter dan satu orang perawat.


Dokter tersebut memeriksa Mak Iren dan kemudian berusaha memompa dadanya, tapi sepertinya itu sia-sia.


Dokter berulang memastikannya, dan akhirnya Dokter tersebut menoleh ke arah Amang Boru.


"pasien sudah meninggal pak, perwakilan keluarga silahkan menghadap ke administrasi."


Ujar Dokter tersebut dan berlalu bersama perawat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2