MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Anak Manja itu Kembali Lagi


__ADS_3

"Suami Mu belum pulang ya?" Mamak bertanya sangat pelan.


"belum Mak."


"ya sudah, biar aja ibu mertua Mu itu menyusui anaknya sampai kenyang."


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Mamak, walaupun garing tapi begitulah keadaannya.


Selesai makan malam, Mamak langsung pulang dan aktivitas menjahit ku lanjutkan kembali sambil menunggu bang Andri pulang.


Sudah jam 11 malam bang Andri tidak kunjung pulang juga dan aku putuskan untuk istirahat di kamar. setelah beres-beres dan langsung berlalu ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok Gigi.*


Setelah bangun tidur tepat jam 5 pagi dan melakukan aktivitas sebagai mana biasanya. dan kemudian lanjut menjahit.


Dress Indah dan Rani selesai, sekarang tinggal Kebaya. baru saja memulai, dari kejauhan terlihat ibu mertuaku bersama Gabe anak gadisnya yang belum menikah datang menghampiriku dengan mengendarai motor bebek keluaran terbaru.


Dress yang siap ku jahit dan Kebaya yang akan jahit sengaja aku pajang, kali aja mereka berdua tertarik buat Kebaya atau dress.


"enak ya kamu duduk santai disini, sementara Suami Mu habis di tatar bapaknya di rumah karena aduan mu." ujar ibu mertuaku yang langsung duduk dihadapan Ku.


Ngoceh saja sepuas Mu, emangnya aku peduli dengan keadaan anakmu? gumam Ku dalam hati sebagai pelipur lara hati karena omongan mertuaku ini yang sangat pedas.


Ibu mertuaku terlihat geram, sementara putrinya sibuk melihat dress pesanan Indah dan Rani yang sengaja ku pajang.


"Tiur.... kau sengaja memajang dress dan Kebaya dan kamu berharap aku akan memuji mu gitu."


Ucap Gabe dengan sangat angkuhnya, tapi pandangan matanya tidak luput dari dress dan Kebaya itu.


"bukan urusan mu Gabe, dan lagian saya ngak butuh pujian dari mu."


Mamaknya terlihat emosi karena merasa di kacangin (dicuekin). begitu juga dengan putrinya.


"apa mau kau sekarang? mau cerai iya?"


Lagi-lagi ibu mertuaku bertanya dan tidak ku jawab, aktivitas menjahit tetap lanjut. ibu mertuaku terlihat begitu emosi tapi berbeda dengan putrinya yang asyik memandangi dress dan Kebaya yang terpajang.


"apa Mamak mu tidak mengajari kau sopan santun? heii.... ini orang tua yang ngomong."

__ADS_1


Trak ....Trak..... tak..... tak....


Gunting besar dan tajam aku ketok-ketok di atas meja, ibu mertuaku langsung terdiam dan ciut. tangan Gabe putrinya langsung di tarik Nya untuk pulang.


"haaaaaaaa.... akhirnya pengacau itu pulang." dan lagi-lagi aku bicara diriku sendiri.


Karena sudah mumet akibat datang Nya gangguan, pintu dan jendela besar ku tutup. Aku ingin melihat ternak dan tanaman ku untuk melepas kepenatan.


Setelah membersihkan kandang dan memberi cemilan untuk ternak sekarang beralih ke kebun.


Cabe dari polibag sudah di pindahkan ke kebun dan ku pindahkan satu persatu, setelah itu menambahkan pupuk kompos dan siram.


Menyiapkan makanan ternak kemudian mandi dan kembali menjahit, tidak terasa sudah jam 4 sore. Kebaya Indah sudah selesai. dan saatnya untuk memberi makan ternak.


Kemudian mandi dan masak untuk makan malam ku, setelah itu aktivitas menjahit lanjut lagi. baru satu jam menjahit. bang Andri pulang bersama kedua orang tuanya. aktivitas menjahit aku hentikan dan beres-beres.


Setelah bang Andri masuk bersama kedua orang tuanya, aku langsung ke dapur untuk membuat kopi.


Tiga gelas kopi sudah aku sajikan kepada mereka bertiga dan tatapan mata ibu mertuaku begitu menyeramkan.


"inang parmean (menantaku), suami ini sudah Ku nasihati, dan berjanji akan menafkahi mu. lapang kan lah hatimu inang parmean untuk menerima Andri ini sebagai Suami.


Kata bapak mertuaku dengan begitu berwibawa, yang berbeda jauh dengan anaknya.


"masalah gaji bang Andri itu terserah nya Amang, dan saat ini saya tidak berhak untuk menuntut cerai karena Tidak akan sanggup membayar denda adat serta hutang Adat yang terdahulu.


Mau tidak mau saya harus menerima bang Andri karena tidak ada pilihan lain. Amang tenang aja, saya tidak akan menuntut Apapun selama tidak tinggal serumah dengan mertua."


"maaf Inang parmean (menantaku), sepertinya ada keterpaksaan disini. jika seandainya Andri yang menceraikan mu dan kami tentunya yang akan membayar denda adat, apa Inang parmean tidak takut di cela orang-orang dan cap sebagai istri membawa aib?"


Ya... betul kata bapak mertuaku, Adat di daerah ini sangat luar biasa. perceraian adalah aib bagi keluarga pihak perempuan tapi tidak dengan pihak keluarga laki-laki.


Kucoba untuk tidak menangis dan berpura-pura untuk tegar walaupun hati ini menjerit.


"seperti yang Ku sampaikan, saya tidak punya pilihan. dan belum bercerai saja, saya sudah menjadi bahan gunjingan.


Saya adalah istri yang tercela Dimata banyak orang disini, hanya tinggal menunggu gelar aib dan di usir dari kampung ini Amang.

__ADS_1


Mulut lemes dari anak amang serta mulut istri Amang yang menjadikan saya menjadi bahan gunjingan di kampung ini."


Ibu mertuaku terlihat sangat geram, sementara bapak mertua hanya terdiam dan menunduk. bang Andri tetap nyosor duduk semakin dekat dengan Mamak Nya.


"inang parmean, tolong berikan kesempatan kepada Andri dan mulailah hidup baru."


"Amang.... firman Tuhan dan janji sucinya sanggup disangkal oleh bang Andri, dan selama bang Andri masih dibawah ketiak Mamak Nya, tentunya tidak akan pernah berubah Amang.


Sekali lagi saya tegaskan Amang, saya tidak punya pilihan. Amang tidak perlu repot-repot datang seperti ini untuk mengantar bang Andri pulang.


Saya selalu siap menjadi istrinya dan akan berusaha melayani bang Andri semampuku, inilah takdir hidup Ku Amang."


"inang parmean, saya titip kan anakku kepadamu dan berharap kalian berdua bisa berbahagia."


"Amin.....


Aku Amin kan harapan bapak mertuaku, walaupun itu terlihat mustahil. tapi jika Tuhan berkehendak mungkin saja, karena hanya Mukjizat yang sanggup mengubah bang Andri.


Kedua orang tua bang Andri sudah pulang, dan tinggal kami berdua yang terduduk di ruang tamu ini yang beralaskan tikar pandan pemberian tulang pak Saor.


"Abang sudah makan?"


Berusaha mencoba mencairkan suasana, tapi bang Andri tidak menjawab pertanyaan Ku dan malah berlalu ke kamar. dan kemudian aku susul.


"Aku ngak ada uang untuk pegangan besok." ujar bang Andri.


Tas ku raih dan kuberikan uang 50 ribu sejumlah sepuluh lembar, tapi sepertinya bang Andri tidak puas dengan jumlah uang yang Aku berikan.


"mana cukup ini, Mamak bisanya memberi uang saku satu juta untuk seminggu." ucapnya dengan raut wajahnya yang kesal.


Uang yang ditangannya langsung aku ambil lagi dan ku tatap tajam ke arahnya.


"kalau begitu, Abang mintak saja sama Mamak kau itu. kan Abang memberikan semua gaji mu ke Mamak Mu."


"Ish.... itu lagi yang adek bahas, kata Mamak, harus adek yang ngasih Abang uang."


ih ..... ingin rasanya ku jahit mulut anak manja ini, tapi masih Ku tahan. tidak elok jika melakukan kekerasan terhadap suami, apa kata dunia?

__ADS_1


"kata saya, mintak sana sama mamak kau. sekalian ***** (mintak di susui dengan ASI) sana sama mamak Mu."


Perkataan dariKu langsung membuat nya terdiam, dan ku tinggalkan bang Andri di dalam kamar karena kesal. takutnya nanti anak mami itu ku hantam.


__ADS_2