
Suasana Aula Desa hening seketika, dan hingga akhirnya suara bisik-bisik dari warga mulai terdengar dan terakhir hampir membuat keributan.
"Amang raja Huta (Pemangku adat), memang Mak Iren yang sangat keterlaluan. yang suka mencampuri urusan orang lain.
Saya punya anak lajang yang sangat baik, anak saya itu guru PNS di SMP negeri 1. hanya karena Anakku menegur si Gabe, Mak Iren datang ini datang ke rumah memakai-maki Ku.
Karena Mak Iren ini sangat marah, langsung ku tanyakan sama anakku dan Mak Iren langsung pergi begitu saja setelah dijelaskan oleh anak ku tanpa ngomong sekata apapun.
Dan yang sakitnya amang raja Huta, Mak Iren ini menggosipkan saya ke banyak warga lainnya, katanya ngak becus urus anak lah, Saya di Katai Mak Iren gila, pengemis lah. sakit kuping ini mendengar Nya raja Huta.
Amang Raja Huta (pemangku adat), saat ini juga saya menuntut tutur muccung (mendenda Adat karena merasa di fitnah) kepada Mak Iren." ujar seorang ibu yang merasa difitnah dan dirugikan.
"amang raja Huta (pemangku adat), saya juga mau nuntut tutur muccung kepada Mak Iren. karena dia menuduhku menggelapkan uang persembahan Gereja.
Saya ngak pernah menggelapkan uang persembahan Mak Iren, saya hanya guru parirende (guru paduan suara atau pengajar paduan suara). tapi mulut mu itu Mak Iren menuduh Ku mengambil uang persembahan. saya itu ngak pernah berurusan dengan uang kas Gereja." kata seorang ibu-ibu yang merasa di rugikan Karena fitnah dari ibu mertuaku.
"amang raja Huta (Pemangku adat), saya juga menuntut tutur muccung kepada Mak Iren. dia telah menyebarkan fitnah ke warga lainnya, Mak Iren berkata keluarga akan terlantar dan jatuh miskin karena utang di Bank. tapi itu tidak benar Amang Raja Huta, pihak bank memang mendatangi rumah Ku dua Minggu yang lalu.
Tapi bukan untuk menyita harta kami, pihak Bank itu mau menawarkan pinjaman yang lebih besar lagi karena hutang kami ke bank sudah mau lunas.
Si Mulut Jabir ini (suka fitnah atau juru gosip) sudah menjelek-jelekkan keluarga Ku kepada banyak warga, bahkan sampai di Gereja pun Mak Iren si mulut Jabir ini tidak henti-hentinya menyebarkan gosip buruk tentang keluarga Ku."
Bertambah lagi yang menuntut kepada ibu mertuaku, kali ini datang dari keluarga terpandang di kampung ini.
"amang raja Huta (pemangku adat) saya juga nuntut tutur muccung kepada Mak Iren, Boru Ku (putriku) yang masih duduk di bangku SMA di fitnah Nya.
Boru ku di Katai hamil dan akan segera menikah karena menempa dress dan Kebaya ke Inang Tiur.
Emangnya apa salah Boru ku yang sudah beranjak dewasa menempah dress dan Kebaya?
Harus wanita bunting yang berhak menempa Kebaya atau dress?
__ADS_1
Amang Raja Huta (Pemangku adat) saya ngak tega melihat Boru Ku menangis di kamar karena di Katai bunting sama perempuan gila itu." ujar seorang Bapak sambil menunjuk ke arah mertuaku dengan penuh amarah.
Ya Tuhanku.... kenapa aku harus punya mertua bar-bar seperti ini, ternyata bukan hanya aku jadi korban fitnahnya.
"tenang-tenang bapak-ibu, satu-satu dulu kita kita selesaikan. pertama kita selesaikan dulu mengenai Tiur dan Mertuanya ini." kata pemangku adat dengan tegas dari podium.
"inang Mak Iren dan Tiur, maju ke depan dan duduk di kursi sidang adat itu." perintah Pemangku adat dengan jelas.
Aku dan ibu mertuaku duduk bersebelahan, dan Pemangku adat meminta Kepala lingkungan untuk duduk diantara kami berdua untuk menghindari Adu fisik.
"sekarang saya ingin mendengar penjelasan dari Tiur terlebih dahulu ya, silahkan pahoppu (Cucuku). " pinta Pemangku adat.
"begini oppung, Inang Simatua Ku ini (mertuaku) tiba-tiba datang ke rumah sambil marah-marah dan mengatai Ku Menantu pembawa sial karena putrinya bernama Uli kabur dari rumah Nya.
Memang Edak Uli datang ke rumah Ku untuk menempa dress dan Kebaya, untuk di pakainya di acara Gereja dan pesta pernikahan Ferdinan anak kepala desa.
Inang Simatua Ku ini, mengatai Ku dan Mamak Ku sebagai wanita pembawa sial yang akhirnya berujung pertengkaran."
"iya karena Tiur yang menghasut Uli untuk kabur dari rumah." jawab ibu mertuaku.
"dari mana Inang Mak Iren tahu kalau Tiur lah yang menghasut Uli untuk kabur?"
"itu sangat jelas amang raja Huta (pemangku adat) anakku saja di hasut nya untuk meninggalkan rumah kami supaya si Tiur bisa menguasai semua penghasilan Anakku."
Mertuaku ini sangat luar biasa, pernyataan jelas-jelas tidak masuk akal.
"haaa.... untuk menguasai penghasilan anak mu? kan si Andri itu suami dari Tiur, iya jelas dong di Andri dan Tiur harus satu rumah dan satu kamar. inang Mak Iren.... seorang suami itu seharusnya memberikan semua penghasilan kepada istrinya.
Saya juga memberikan semua penghasilan Ku kepada istriku dan Istriku yang mengaturnya.
Jadi Inang Mak Iren mau gimana?" tanya Pemangku adat dengan nada yang merendah.
__ADS_1
"suruh anaknya di masukkan ke perut mamak lagi, amang raja Huta." ujar seorang ibu-ibu yang ikut hadir dalam sidang adat ini.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Para warga menertawai omongan ibu-ibu tadi, memang sungguh lucu dan membagongkan dan menakjubkan pernyataan dari ibu mertuaku ini.
"tenang.... tenang.... bapak-ibu. pak Iren tolong jelaskan apa saran dari pak Iren." Pemangku adat akhirnya bertanya kepada bapak mertua.
"Saya juga tidak tahu harus berbuat apalagi, yang membuat ikatan adat perjodohan adalah Istriku, pak Tiur dan juga Mertuaku dulu.
Dengan menikah kan Andri yang berharap bisa mengurangi beban ku dan berharap bisa berbahagia dengan Tiur, tapi semuanya jauh dari harapan Ku."
"pak Iren... jalan satu-satunya adalah cerai, saya ngak sanggup melihat putri Ku menderita karena istrimu itu." ujar mamak menyanggah omongan bapak mertuaku.
"baik, dan kalian harus siap membayar hutang Adat dan mahar yang kami berikan." jawab ibu mertuaku dengan lantangnya.
"amang raja Huta (pemangku adat), keluarga ku tidak akan sanggup membayarnya jika ada kelipatan denda adat dan Hutang Adat. hanya tiga pihak yang membuat hutang Adat itu.
apakah Boru ini (putriku) harus terus Menderita dibawa siksaan mertuanya sendiri. dulu Mertuaku dan Mak Iren selalu memperlakukan aku dengan sangat kejam dan mereka membuat ikatan hutang Adat yang tidak masuk akal itu untuk membuat Putri Ku semakin menderita.
Cukup aku saja yang menderita karena adat amang raja Huta, tolong beri kami kebijakan. atau apakah Adat ini hanya untuk menyiksa orang yang tidak mampu seperti keluarga Ku.
Amang raja Huta (Pemangku adat) saya mohon tolong putriku dari ikatan hutang Adat ini menjerat ini, Boru ku tidak tahu tahu apa-apa dan kenapa harus Boruku yang terjerat dengan Hutang Adat yang tidak masuk akal itu?. saya Mohon amang raja Huta."
Pinta Mamak ku yang bermohon kepada Pemangku adat sambil mengepalkan tangannya seperti memohon kepada raja.
Dalam tatanan hukum adat di kampung ini, Pemangku adat mempunyai kedudukan tertinggi. aparat desa hanya berhak di administrasi kependudukan warganya.
Segala permasalahan warga harus melalui Pemangku adat, bahkan jika pihak berwajib ingin menangkap warga harus seizin dari Pemangku adat.
Mulai dari urusan tanah, air, bahkan udara sekaligus di atur oleh pemangku adat. demikian juga dengan acara Adat kelahiran, pernikahan dan kematian. semua pemangku adat yang mengambil Alih.
__ADS_1