MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Kesepakatan Tanpa Kepastian.


__ADS_3

"pak Tiur.... rumah, sawah dan kebun itu adalah milik keluarga Ku. saya mintak tinggalkan semua itu. saya kasih waktu paling lama satu bulan ini." pinta Tulang pak Saor kepada bapak.


"Mak Tiur.... kamu kok tega sama Ku? aku mau tinggal dimana?" tanya bapak kepada Mamak seraya menangis.


"kamu jauh lebih tega pak Tiur, cukup saya menderita selama ini. Setelah kematian Mamak Mu, saya pikir itu adalah akhir penderitaan Ku, ternyata jauh lebih sakit karena kau terlalu membela kakak mu itu.


Masalah kau mau tinggal dimana? tanya aja sama kakak kau itu. terserah kamu mau tinggal dimana. jika perlu kau tinggal di kuburan Mamak kau itu yang sudah cantik itu." jelas Mamak kepada bapak.


"cukup.... sekarang kita ke masalah Andri dan Tiur, Apa ada solusi lain?" tanya Pemangku adat.


"oppung Raja Huta, Karena bapak sudah menghabiskan Mahar Nya yang artinya saya tidak bisa meminta cerai dari bang Andri.


Oppung raja Huta, Natua-tua (penatua) bapak kepala Desa dan bapak Kepala lingkungan. tolong berikan saya kelonggaran dan sedikit keadilan, jika bang Andri tidak menceraikan Tiur, ijinkan saya meminta satu permintaan.


Saya ingin bang Andri membuat pernyataan dan janji secara tertulis, kalau bang Andri tidak boleh memberikan semua gajinya kepada Mamaknya dan juga saya ingin bang Andri bersedia untuk tidak menjadi tukang ngadu ke Mamaknya.


Saya juga ingin bang Andri untuk belajar menjadi suami yang bertanggung jawab dan tidak lagi menjadi anak manja.


Surat pernyataan dan janjinya di tandatangani oleh semua yang hadir di rumah ini, dan jika bang Andri mengingkarinya maka saya bisa mintak cerai tanpa denda adat dan denda mahar.


Melihat perilaku Mertuaku dan bang Andri, yang suka mengungkit harta, saya ingin menambah perjanjian hasil pendapatan pribadi sebagai suami Istri. sekalipun bang Andri menandatangani perjanjian ini kelak nanti, Tiur ngak yakin kalau gaji bang Andri akan diserahkan kepada saya istrinya.


Saya tidak mau penghasilan Ku dan jika ada harta yang akan di waris kan kepada saya, di ganggu oleh bang Andri dan keluarganya. saya tidak menggangu apapun pemberian dari mertuaku."


"Abang mau dek, dan Abang bersedia melakukannya." jawab bang Andri secara tiba-tiba.


Semua perhatian tertuju kepadanya, akan tetapi wajah Mamaknya terlihat emosi dan seakan-akan ingin menghajar Ku.


"setuju.......


Semua berkata setuju, kecuali ibu mertuaku dan Bapak. aku ngak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.


"terimakasih atas perhatiannya Nya dan partisipasi Nya sehingga masalah ini sudah mendapatkan solusi.

__ADS_1


Disini juga saya membawa dokumen berupa perjanjian, sebagai jaga-jaga. hanya perlu menambahkan poin-poin yang lainnya. dan saya sudah membawa stempel desa dan juga materai untuk melegalkan secara Hukum pernyataan dan perjanjian yang akan di buat.


Inang Tiur ini dokumen yang sudah dibuatkan oleh pegawai desa, silahkan tambahkan poin-poin perjanjian Nya dan perlihatkan kepada suami Mu."


Draf Pernyataan dan perjanjiannya sudah cukup baik, saya menambahkan poin-poin yang saya inginkan.


Tidak lupa juga dengan poin penghasilan dan sebab akibat Nya, setelah selesai aku serahkan ke bang Andri.


Bang Andri langsung menandatangani dokumen itu dan kemudian para tamu hadir secara bergantian dan terkahir ibu mertuaku tanpa membacanya. dan akhirnya kepala desa memberikan cap nya dan membubuhkan tandatangan tangannya.


"sebagai Raja Huta (pemangku adat) dengan menyatakan kalau permasalahan ini sudah selesai, dengan perjanjian yang telah di sepakati.


Saya berharap masing-masing pihak menepati janjinya, demi kebaikan bersama.


Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada semua Nya.


Kepada Kepala Desa saya berikan waktu sebagai penutup sidang adat ini secara Resmi."


"baik, terimakasih bapak-ibu yang pada akhirnya kita sudah mencapai tujuan kita, kepada pak Tiur dan Mak Tiur, kalian sudah resmi bercerai secara adat.


Kalian sudah cerai dan pak Tiur silahkan tinggalkan yang bukan hak pak Tiur. untuk Andri mohon untuk menepati janji sebagai laki-laki sejati.


Semoga pernikahan kalian berbahagia Selalu, dan disini juga untuk yang terakhir nya. saya memberikan kesempatan kepada semua yang ada disini jika ada yang keberatan. waktu dan tempat saya persilahkan untuk berbicara."


Ucap kepala untuk memberi ruang dan waktu untuk komplain atau menyanggah hasil kesepakatan malam ini.


Susana hening dan tidak ada satupun yang berkata atau menyampaikan sesuatu. dan akhirnya kepala Desa berdiri begitu juga dengan Pemangku Adat.


"baik.... karena tidak ada yang komplain atau berbicara, dengan ini sidang adat saya tutup. Horas.... Horas.... Horas....."


Satu persatu satu para tamu pulang, begitu juga dengan bang Andri yang pulang bersama keluarganya.


Tapi Bapak masih terduduk di tempatnya, saya tidak melihat penyesalan di wajahnya yang ada hanya amarah.

__ADS_1


"pak Tiur, silahkan pulang. kami mau istirahat. marsapata tu ho sude nabarnit na di taon ni si Tiur. (kamu lah yang menanggung karma dari penderitaan Tiur).


Ujar mamak kepada bapak, dan akhirnya bapak pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Ku, sangat kecewa terhadap Bapak.


Seperti kata Uli dalam surat Nya, yang iri melihat Saor yang mendapat kasih sayang dari Bapaknya. demikian juga denganku.


Sejak kecil Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari bapak demikian juga dengan adik-adik Ku.


Perhatian Bapak dan kasih sayangnya selalu kepada orang tua nya dan juga kepada ibu mertuaku sebagai kakaknya.


Dulu Aku sering melihat Mamak menangis dan selalu menyeka air matanya ketika melihatKu atau adik-adik ku.


Aku hanya tamatan SMK Tata busana di ibukota kabupaten dan semua Mamak yang membiayai Nya.


Akhirnya aku Merantau ke pulau Jawa dan bekerja di pabrik konveksi dan akhirnya aku bisa membantu Mamak untuk biayai sekolah adik-adik Ku.


"Bere.... kami pulang dulu ya." ujar Tulang pak Saor.


Setelah mengantarkan mereka sampai di depan rumah, Bersama Mamak kami kembali ke dalam rumah dan istrihat di ruang tamu.


"Inang (panggilan Mamak kepada Putrinya) .... m..a...a..f kan Mamak ya, mamak ngak bisa lagi hidup dengan bapak mu. dan hanya ini bisa Mamak perbuat untuk Mu." kata Mamak sambil memelukku.


"Tiur sudah cukup mengerti Mak, Tiur juga tahu semuanya. Tiur tahu kalau Mamak sering menangis karena bapak dan keluarganya. Mamak adalah yang terbaik untukku."


Setelah agak tenang Ku lepaskan pelukan Mamak dan Ku tatap wajahnya yang penuh dengan penderitaan.


"Mak... terimakasih karena sudah membela Tiur dan Aku janji akan selalu bersama Mamak."


Setelah berhasil menenangkan Mamak yang akhirnya Wanita yang Kucintai itu bisa tidur di ruang tamu.


Aku hanya bisa meneteskan air mata dengan menahan suara tangisanku, Aku tidak yakin dengan janji yang telah kami sepakati akan dilaksanakan oleh bang Andri.


Dulu juga bapak pernah berjanji untuk menjadi suami yang baik untuk Mamak, tapi orang tua bapak mampu membuat bapak berpaling lagi dan mengingkari janjinya.

__ADS_1


Jika bang Andri masih selalu bersama Mamaknya, maka bang Andri tidak akan pernah bisa berubah.


__ADS_2