MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Rejeki yang Tidak Ku Duga.


__ADS_3

"kak.... kalau di kebun kopi si mare-Mare digadaikan ke Oppung Tagor, terus yang di Bank?"


"ngak sampai otak kakak ke situ dek, yang kakak tahu hanya menjahit supaya dapat uang."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami hanya bisa tertawa lepas dan itu bisa membuat Ku rileks, jiwa Ku yang hampir terguncang ini.


"Mamak buat kolak, mau ngak?" ujar Mamak.


"mau......."


Dengan kompaknya kami semua berkata mau, karena memang setiap masakan Mamak sangatlah enak.


Hampir satu jam kami menunggu kolak buatan Mamak sambil lanjut menjahit, dan kini kolak itu sudah tersaji di depan kami.


"selamat siang kak Tiur.... selamat siang Kakak-kakak semuanya. bou masak kolak..... mau......." Tiur yang datang naik becak dengan barang bawaan satu karung langsung nyosor mencicipi kolak buatan Mamak dan membiarkan supir becaknya mengangkat barang bawaan Nya.


"apa sih ngak buat calon Meaen. (calon menantu)." ujar Mamak.


Soar jadi salah tingkah, tapi ada yang berbeda dengan wajah Ningsih. gadis Muda nan cantik itu.


"Ningsih.... kok terlihat kesal gitu? Ningsih cemburu ya karena calon menantunya Mak Tiur?" ucap Mak Pingky, yang paling senior diantara kami.


"ngak ah..... " jawab Ningsih singkat.


"Saor suka sama bang Nando, kalau kak Ningsih suka yang mana?" kata Soar yang sudah memegang mangkok berisi kolak.


"oh.... bagus lah." ujar Ningsih dan kembali tersenyum.


"uhmmm.... baru tahu sekarang, Ningsih mengira kalau Saor menyukai pak Polisi itu. eh rupanya pak tentara yang diinginkan Saor." timpal Mak Pingky seraya tersenyum.


"oh... jadi itu sebabnya toh Ningsih bersedia membantu Tiur untuk beres-beres rumah dan memelihara ternak. gitu toh....."


"nggak-nggak gitu, kan Ningsih anak yatim-piatu. tapi setelah ketemu dengan Oppung boru Ruth dan semuanya, rasanya seperti punya keluarga lagi. dan Oppung boru Ruth juga menitipkan Ningsih ke kak Tiur.


Sebagai keluarga Ku yang baru, dan Ningsih juga merasa nyaman dengan kak Tiur. jadi apa salahnya untuk saling membantu sesama keluarga. Ningsih ikhlas membantu" jelas Ningsih dengan malu-malu.

__ADS_1


"cie cie..... yang mau jadi keluarga." ujar Mak Esra.


"ya sudah, bou ngak akan ikut campur dalam urusan asmara anak-anak bou. semua terserah mereka semua, dan bou juga ngak mau menyesal kelak nanti karena perjodohan.


inilah yang pertama dan terakhir, biarlah anak-anak bou memilih calon pasangan masing-masing." ucap Mamak dengan ekspresi wajah nya yang sedih.


"oh... begitu..... kok kakak ngak tahu iya ?"


"wajarlah kak Tiur ngak tahu, waktu dan tenaga kakak terkuras mengurus mertua kakak yang gerot itu." sanggah Saor menanggapi pertanyaan ku disela-sela makan kolak.


"sudah ah..... malas mendengar si Jabir itu, lebih baik kita makan kolak......" ujar Nantulang Mak rado.


"betul sekali yuk kita makan...., Ningsih.... kakak sudah cukup mengenal mu, kamu itu gadis baik, cantik dan ramah serta sopan dan pekerja keras. kakak ngak ada alasan untuk menghalangi adik-adik ku memilih pasangan hidupnya kelak nanti.


Kakak juga berharap Ningsih berjodoh dengan Rifan, dan asal Ningsih tahu, Adikku itu tidak manja dan tentunya tampan dan pekerja keras."


"itulah yang buat Ningsih menyukai pak polisi itu, selain tampan. pak polisi tegas dan berwibawa." sambung Mak Pingky.


"ah..... kok Tante Mak Pingky tahu?"


"dalam sekali...... lanjut...,." ujar Saor sambil menyendok kolak ke mangkoknya.


"lanjut lanjut... tapi dah nambah 2 kali juga kolak Nya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami tertawa karena sanggahan dari Nantulang Mak Rado.


"Saor bawa apa di karung besar itu?" Karena dari tadi aku belum sempat bertanya tentang barang bawaan Saor dalam karung besar garis tiga itu.


"itulah kak yang Saor omongin di rumah bou itu, jadi dalam karung itu adalah contoh bakal gratis dari pabrik yang ada di ibukota kabupaten itu. dan ada beberapa songket juga."


Dengan bantuan Ningsih dan Mak Pingky kami membuka karung besar garis tiga itu. dan isi Nya sangat menakjubkan. bakal kain yang berkualitas tinggi serta songket yang Cantik dengan warna senada dengan bakal.


"cantik kan kak? oh iya kak ini daftar produk mereka dan ini contoh barang-barang Nya dalam katalog terpisah.


dan ini daftar harganya, yang katanya sudah termasuk ongkos kirim."

__ADS_1


Ya ampun.... Begitu detailnya dan lengkap Nya. aku suka semua bahannya. dan kebetulan juga bakal kami sudah menipis, dan harga disini begitu miring. mungkin karena langsung dari pabriknya dan minimal pembelian yahh lumayan lah.


"sistem pembayarannya gimana Saor?"


"barang sampai di tempat tujuan baru dibayar." jawab Saor dengan begitu santai.


Langsung deh buat daftar yang harus ku beli, karena merasa uangKu cukup untuk membelinya dan langsung ku serahkan ke Saor daftar yang aku pesan.


"kakak pesan melalui Saor gitu? dan sebanyak ini?" tanya Saor yang keheranan.


"lah... kan Saor yang menawarkan ke Kakak, jadi sama siapa kakak membeli Nya?"


"Kakak tahu ngak jika Saor berhasil melakukan pesanan ini maka Saor akan menerima fee penjualan. dan ini sudah melebihi target dari pabrik itu kak.


Aku tersenyum kepadanya, dan Saor langsung meraih handphone Nya dan seketika itu juga dia langsung berbicara dengan seseorang melalui handphone itu.


Lumayan lama juga Saor bertelepon dengan menyebutkan satu persatu pesanan Ku, hingga akhirnya Saor Selesai menelpon dan tersenyum melihat kami semua.


"selesai kak, Saor tinggal nunggu bonus nih ceritanya.


Kakak Ku yang cantik.... buat kan Saor dress yang cantik lagi dari bakal yang barusan ku bawa itu. untuk upah jahit Nya, nanti kakak Saor temani untuk mengambil makanan ternak kakak. cocok kakak rasa.?"


"cocok... tapi ngambil makanan ternak sekarang bersama kakak."


"iya... Saor temani kak Tiur tu jalan-jalan ke ladang. lumayan buat refreshing liat tanaman yang hijau.


Kakak pigi aja, biar kami yang handle. Kakak butuh pemandangan yang segar setelah semua yang terjadi. lagian juga makanan ternak kakak sudah mau habis itu." sanggah Ningsih.


"tidak masalah, ayok kak. nanti kita makan siang di kebun aja sama bapak dan Mamak disana." kata Saor sambil menarik tanganku.


Setelah pamit ke teman-teman dan Mamak, kami berdua langsung pergi menuju kebun orang tua Saor.


Hanya butuh waktu 20 menit jalan kaki, kami berdua sudah sampai di gubuk buatan Tulang pak Saor.


Ternyata mereka sedang makan siang, dan kami berdua ikut nimbrung, kebun ini dengan angin sepoi-sepoi selera makan ku jadi meningkat.


Rasanya begitu Nikmat apalagi di temani keluarga yang ku cintai dan keluarga panutan Ku. seorang Ayah yang menyayangi putrinya yang membuat Ku cemburu.

__ADS_1


__ADS_2