MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Apakah Aku Anak Yatim?


__ADS_3

Sinar matahari pagi sudah menerangi alam sekitar, selesai beraktivitas seperti biasanya dan kemudian sarapan.


Bersama Mamak, kami kembali ke rumahku dan wajah Mamak sudah seperti sediakala. sesampai nya dirumah, Ningsih dan teman-teman lainnya sudah menyambut kami dengan tersenyum.


"kak... tidak nyangka loh jahitan kita sebanyak ini. dan model kakak yang di katalog setengahnya sudah kami buat, sebagian besar sudah fitting. tapi kami ingin kakak ngecek dulu sebelum finishing."


"okey.... tapi kakak liat ternak dulu ya, kangen soalnya."


"ternak sudah makan dan kandangnya sudah bersih. oh iya kak, Bou Mak Rado sudah ku panggil untuk Payet kebaya."


"terimakasih ya Ningsih, terimakasih juga buat semuanya."


"sama-sama" ujar semuanya serentak.


"kak.... suami kakak datang tuh" ujar Ningsih.


Dengan mengendarai motor bebek, bang Andri menemui Ku. kendaraan nya sudah di parkir kan di samping dan langsung menarik tanganKu.


Mamak langsung menuju belakang rumah ketika bang Andri tiba, terlihat seperti buru-buru saat bang Andri menarik tanganku hingga akhirnya kami sudah sampai di kamar kami.


"Abang ngak kerja? jam segini kok keluyuran?"


"hari ini Abang ijin dari kantor, dek.... kata Mamak. sebagai istri adek harus membantu Mamak untuk melunasi Denda Tutur Muccung (denda adat karena memfitnah orang lain).


Sudah berapa hari ngak pulang, begitu pulang ke rumah mintak uang atas perintah Mamaknya.


"dek.... kita ini keluarga, mamak ku adalah adik kandung dari bapak Adek. seharusnya kita saling membantu. kemarin adek bilang punya uang banyak dan cincin emas, berikan semua untuk Abang.


kata Mamak, Adek wajib membantu sebagai istri Abang. saat ini orang-orang sudah pada ngumpul di rumah untuk menagih Tutur Muccung."


Ucap bang Andri dengan gamblangnya, pake acara kata Mamak lagi. memang nya mamak nya itu siapa?


"Mamak Mu kan orang kaya, masa mau pinjam sama orang yang miskin dan melarat? oh ya, tolong sampaikan kepada Mamak Mu. kalau Istrimu ini adalah orang miskin dan melarat. "

__ADS_1


"kok gitu dek, kalau adek ngak ngasih uang nanti Mamak marah."


"mangnya saya peduli?"


"kubilang adek sama Mamak Ku." ujar bang Andri lalu pergi.


'Ya Tuhanku, kok gini amat punya suami'


Daripada pusing mikirin si anak manja itu, lebih liat ternak dan kebun sayur Ku. Mamak yang merapikan makanan ternak tersenyum saat melihat Ku datang menghampiri Nya.


Tanpa bertanya, Mamak lanjut membersihkan area kandang. sementara Aku beralih ke kebun, beberapa rumput yang bisa di makan ternak ku ambil, setalah banyak langsung ku bawa ke kandang untuk menjadi cemilan ternak.


Selesai urusan ternak dan kebun, langsung mandi dan Kemudian bersiap untuk kerja. sementara Mamak tetap berada di dapur setelah cuci tangan dan cuci muka.


Kami berdiskusi mengenai pola Kebaya dan dress dan akhirnya kami menentukan pola untuk setiap Kebaya dan dress pesanan.


Tidak berapa lama, Mamak sudah di lapak menjahit kami dengan wajahnya yang segar dan terlihat pakaian Mamak sudah berganti.


"Makanan sudah siap iya kalau mau makan." ujar Mamak sambil meraih kebaya yang mau di Payet.


Langsung dong kami angkat tangan semua, karena kami semua adalah penggemar kopi. di dapur semua bahan makanan lengkap, kulkas dua pintu dari oppung Boru Ruth mampu menampung banyak makanan.


Untuk makan siang serta minuman dan puding saya tanggung, untuk urusan memasak tentunya kami gantian. begitu juga untuk buat minuman dan Snack.


Ningsih sudah menyajikan kopi dan goreng pisang untuk semuanya, istrihat sejenak dan kemudian lanjut menjahit.


Belum berapa lama menjahit, bapak datang bersama bang Andri yang boncengan dan langsung ke duduk di depan mejaKu.


Mamak di cegah oleh Ningsih dan Nantulang Mak Rado, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan.


"Boru.... ngak kasihan liat mertua Mu dalam kesulitan? tolong buka lah hati nurani mu, ingat kita ini keluarga"


Ucap bapak dengan gampangnya, mendidih darah ini mendengar perkataan bapak.

__ADS_1


"bapak Ku..... tolong buka hati Nurani mu sebagai seorang bapak, oh iya bapak tahu ngak kalau adek-adek semua pulang? ngak kan pak? ingat pak.... kami keluarga bapak, anak kandung bapak.


Bapak ngak kasihan melihat kami berempat yang dianggap orang lain sebagai anak yatim, apa bapak ngak kasihan melihat kami yang menghadapi masalah tanpa bantuan dari Bapak?


"Boru.... situasinya berbeda, Mertua mu butuh banyak uang untuk membayar Tutur Muccung. kalau ngak bisa bayar, keluarga Mertua mu akan di usir dari kampung ini."


"bapak.... Boru ini dan tiga anak bapak yang lainnya butuh uang banyak, Boru mu yang cantik ini, butuh uang banyak untuk membeli rumah dan membesarkan usaha.


Lisa, Rifan dan Fernando juga butuh uang banyak untuk membeli rumah nya masing-masing dan membangun bisnisnya. kalau kami anak-anak bapak ngak punya, nantinya kami ngak bisa punya rumah. apa yang harus kami lakukan pak?"


"Boru.... kenapa keras kepala seperti Mamak Mu?"


"bapak kenapa selalu mementingkan kan keluarga bapak dan kakak Bapak? kenapa watak bapak sama dengan watak kakak Bapak, sama-sama rakus dan tidak tahu diri."


Ku jawab semua omongan bapak dengan nada suara yang rendah nan lembut, biar bagaimanapun "HORAS PARGOMGOM" ini adalah Bapak ku yang harus ku hormati.


"Boru... tolong mertua mu kali ini aja, bapak Mohon Boru."


Seumur-umur bapak belum melakukan sesuatu untuk kami anak-anaknya, tapi demi kakaknya. bapak rela memohon-mohon kepadaKu.


Air mata dan emosi Ku masih bisa ku tahan, aku tidak mau Mamak ikut emosi karena melihat Ku menangis.


"Bapak.... Tiur Mohon kali ini aja sama bapak, tolong sayangi kami anak-anak Mu.


Bapak.... tahu ngak kalau Tiur, cemburu melihat Saor yang sangat di sayangi oleh bapaknya.


Indah dan Rani, diberikan uang oleh Bapaknya untuk menjahit kebaya dan dress. yang buat Tiur sangat cemburu saat mereka bertiga diantar Bapaknya untuk mengambil hasil jahitan nya kemari dan pamer di hadapan Bapak Nya.


Tapi apalah daya Tiur pak, punya bapak tapi Serasa anak Yatim. bahkan Bapak ku sendiri tega menjual Ku demi uang dan mahar 300 juta agar bisa membangun kuburan serta untuk membelikan motor kepada ponakan Nya.


"kok Tiur tahu kalau bapak membelikan motor untuk Gabe?"


Kali ini aku tidak bisa menahan air Mataku, mengalir begitu saja di Pipiku.

__ADS_1


"bapak sebaiknya pulang sebelum ku panggil Tulang pak Saor. atau mau Tiur panggilkan Oppung Raja Huta (pemangku adat)."


Setelah bapak pulang bersama bang Andri, Mamak memelukku dengan begitu hangat Nya, pelukan Mamak mampu membuat hatiku sangat tenang.


__ADS_2