MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Kebahagiaan ku yang Terusik.


__ADS_3

Uli sudah pulang dan aku lanjut menjahit untuk menyelesaikan pesanan Uli, waktu berjalan tanpa terasa dan sudah jam 12 siang dan perut mulai kelaparan.


Makan siang dan beraktivitas lainnya kemudian mandi dan lanjut menjahit, waktu terus berjalan dan dua dress milik Uli sudah selesai. saat nya memberikan ternak makan.


Selesai semua Nya langsung mandi dan lanjut menjahit sembari menunggu bang Andri pulang.


Sudah jam 10 malam dan satu kebaya milik Uli selesai dan lanjut mengerjakan Kebaya kedua.


Tanpa terasa sudah jam setengah satu malam dan kebaya hampir jadi, dari balik pintu terdengar suara bang Andri.


Ternyata bang Andri pulang diantar oleh bapak mertua, hummm... seperti anak TK yang harus diantar oleh orang tuanya.


Setelah bapak mertuaku pulang kami berdua langsung masuk kamar untuk istirahat, dan bang Andri bersikap manis dan ternyata dia minta jatah urusan ************ Nya.


Karena aku masih istrinya dengan terpaksa aku layani, rasanya hambar. tidak kenikmatan sedikitpun aku rasa semuanya hambar.


Bang Andri sudah puas dan langsung tertidur pulas di sampingku, dan aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan kemudian tidur.**


Seperti biasa bangun jam 5 pagi dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga pada umumnya, selesai dan langsung Mandi.


"bang.... bangun bang....."


Suamiku yang manja akhirnya bangun dan duduk bersila di ranjangnya, pandangan ke sana kemari seperti orang kebingungan.


"dek... mana sarapan dan Kopi Abang?"


uhmmm.... dasar anak manja, tanpa menjawab Nya ku langkahkan kakiku keluar kamar dan menuju meja makan.


Selesai makan dan cuci piring kemudian lanjut menjahit, setelah beberapa saat kemudian bang Andri muncul di hadapanku.


"dek... mintak uang saku." ujar bang Andri.


Sesuai dengan nasihat dari Uli untuk tidak memberikan uang kepada bang Andri dan aku hanya terdiam.


"dek .. mana uang sakunya." pintanya seperti anak kecil yang memaksa.

__ADS_1


"aku... bukan mamak Mu, sana mintak uang sama Mamak Mu."


"adek kan Istriku, sudah seharusnya memberiku uang saku. kalau ngak aku ngak pergi kerja." ujarnya dengan mengancam untuk tidak bekerja


Aku hanya diam, dia kerja atau ngak. tidak akan pernah berpengaruh bagiKu, jika bang Andri gajian pasti akan diberikan nya kepada Mamaknya.


Karena tidak mendapatkan respon dariku, bang Andri masuk kamar dan kemudian keluar yang sudah berganti pakaian.


Bang Andri langsung rebahan di ruang tamu sambil menonton televisi, dia terlihat begitu menikmati acara yang tayang di televisi itu.


"dek ...... buatin Abang kopi dan goreng pisang." ujarnya dengan memerintah seperti raja.


Lagi-lagi aku cuekin, bang Andri ku anggap seperti tidak pernah ada dan yang meniduri Ku adalah hayalan Ku semata.


Dari kejauhan terlihat ada dua pickup yang datang menuju rumah dan akhirnya tiba di depan rumah, ternyata itu adalah oppung Boru Ruth yang membawa bahan bangunan untuk membuat lapak jahit di depan rumah.


"oppung.... "


Langsung ku sambut oppung Boru Ruth dan memeluknya, dan kami ngobrol dengan asyik. tiba-tiba saja bang Andri menghampiri kami.


Mendengar perkataan dari bang Andri, oppung Boru Ruth langsung menghampiri Nya sementara barang-barang bahan bangunan tetap di turunkan, tidak satupun diantara mereka yang memperdulikan keberadaan dan ucapan bang Andri.


"anak manja.... sana pigi ke mamak Mu, ***** sana sama mamak Mu biar cepat besar. karena anak manja ngak ngerti bisnis, sana.... sana..... ***** sana sama mamak Mu."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami semua tertawa mendengar perkataan dari Oppung boru Ruth, dan bang Andri terlihat sangat marah dan langsung pergi entah arah mana.


Pekerjaan lanjut lagi, dan para tukang langsung bekerja sementara aku dan oppung Boru Ruth langsung masuk ke rumah untuk fitting dress dan Kebaya.


"Tiur..... oppung suka, oppung ngak salah memilih mu sebagai penerus Ku." ujar oppung Boru Ruth.


Setelah selesai fitting oppung Boru Ruth langsung pulang, dan berapa lama Tulang pak Saor dan istrinya tiba di rumah ini begitu juga dengan Mamak.


Tulang pak Saor mengawasi para tukang, sementara Mamak dan Nantulang Mak Saor masak di dapur.

__ADS_1


Makan sudah tersaji, tapi tukang belum mau makan kata sebentar lagi. karena Kebaya Mama sudah selesai ku jahit akhirnya Ku berikan dan langsung di pakainya dibalik tirai itu dan kemudian keluar.


"Edak (panggilan sesama ipar perempuan) Mak Saor.... cantik kan kebaya ku ini?" tanya Mamak kepada Nantulang Mak Saor.


"cantik.... Bere... Nantulang mau dong dibuatin lagi." ujar Nantulang Mak Saor setelah melihat Kebaya yang dipakai Mamak.


Permintaan dari Nantulang Mak Saor langsung aku setujui, dan tibalah saatnya kami semua makan siang.


Tanpa terasa hari sudah sore, tukang sudah pulang demikian juga dengan Mamak dan Tulang pak Saor serta istrinya.


Ternak sudah diberi makan oleh mamak Sebelum pulang, kebun sayur juga di urus Mamak dan juga Nantulang Mak Saor.


Pondasi lapak menjahit sudah jadi, dan saatnya untuk mandi. selesai mandi langsung lanjut menjahit, baru saja mulai menjahit ibu mertuaku dengan suara cempreng berteriak-teriak dari luar pintu.


Setelah pintu aku buka, ibu mertuaku datang bersama bang Andri dan juga Gabe dan mereka bertiga tidak mau masuk ke dalam rumah.


"dasar menantu kurang ajar, berani-beraninya kamu mempermalukan Anakku. asal kamu tahu ya anak ku ini sarjana, tidak sepantasnya seorang sarjana dipermalukan oleh perempuan yang tidak berpendidikan."


Kata mertuaku dengan membabi buta langsung Ku tinggalkan mereka bertiga yang berdiri di depan pintu.


Aku lanjut menjahit dan mereka bertiga masuk dan berdiri didepan meja jahit Ku, ibu mertuaku dan Gabe bertolak pinggang sementara Suamiku berada di belakang Mamaknya.


"kamu menantu kurang ajar, ngak ada sopan santun mu. dasar tidak berpendidikan, miskin, melarat lagi. ampun aku lihat Menantu seperti ini, ya Tuhan kuatkan hamba ini."


Air Mataku masih bisa ku tahan dengan semua hinaan Nya, dan aku terus fokus menjahit sambil mendengarkan hinaan dari ibu mertuaku.


"he... dengar ngak sih mamak ngomong, Tiur... mana sopan santun mu." ujar Gabe dan itu tidak ku sahut.


"kamu ngak ngerti Adat? dasar tidak berpendidikan, menantu sampah." ibu mertuaku lagi-lagi melancarkan makiannya.


Karena suara ibu mertuaku dan Gabe yang sangat kuat sehingga para warga lain berdatangan ke rumah dan karena itu aktivitas menjahit ku berhentikan dan membereskan semuanya.


"Bapak ibu.... lihat menantuku ini, tidak ada sopan santun Nya, Mertua nya ngomong tidak di gubrisnya. kan kurang ajar sekali."


Meja jahit Ku sudah rapi, dan kemudian aku berjalan ke arah bang Andri dan menariknya keluar dari belakang Mamaknya.

__ADS_1


__ADS_2