MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Prahara Keluarga Andri.


__ADS_3

POV Andri.*


Termenung sendirian di sudut ranjang itu, matanya berurai air matanya. semuanya sudah terjadi panggilan sidang perceraian dari pengadilan sudah di tangannya.


"Andri.... kenapa melamun seperti ini? dan Kenapa belum Mandi? ngak kerja kamu mang?" ujar Mamak nya Andri.


"ini surat dari pengadilan Mak, Tiur sudah menggugat cerai."


"iya bagus dong, kita kan ngak perlu keluar uang untuk menggugatnya, oh Gimana kabar si Dona? apa kalian jadi Menikah?"


"si Dona itu bondon Mak, dia mendekati Ku hanya untuk sebagai topengnya. agar anak yang dikandung bisa punya Bapak."


"apa..... tapi nggak-nggak apa, syukur sudah ketahuan. jadi kamu ngak kena getahnya. mangnya ngak kerja hari ini?"


"Andri sudah tidak bekerja lagi Mak, Karena SK honorer sudah berakhir. itu semua karena Tiur mengadu ke semua orang. Tiur berkata kepada orang-orang kalau Andri selingkuh dengan Dona Mak."


"makin menjadi-jadi ni si Tiur, ayok ikut Mamak. kita temui Istrimu itu."


"Tiur bukan Istriku lagi Mak, lagian rumahnya sudah kosong. Ntah kemana dia pergi!.


"tanya sama Tulangnya, bapak si Saor itu, ayok jalan."


Pagi itu juga Andri dan Mamaknya menemui pak Saor. sesampai nya di rumah pak Saor, mereka tidak menemukan siapapun. menurut kata tetangganya, pak Saor sedang jalan-jalan ke Siantar yang diajak Tiur. tapi kemungkinan sebentar lagi pak Saor dan keluarganya akan segera pulang.


benar kata tetangganya, tidak berapa lama. Pak Saor dan keluarganya tiba di rumahnya dan mereka kaget melihat keberadaan Andri dan Mamaknya di depan rumah mereka.


"pak Saor.... dimana Tiur?" Mamaknya Andri bertanya.


"apa urusannya dengan Mu? emangnya kamu siapanya?"


"saya mertuanya, cepat katakan dimana Tiur?"


"eh mulut Jabir, kau itu mantan Mertuanya, ngak gunanya kami memberi tahu dimana keberadaan Tiur." ujar Mamaknya Saor tidak kalah sengit Nya.

__ADS_1


"gara-gara si Tiur itu, Anak saya di pecat dari kerjaan Nya. dasar Menantu pembawa sial."


"eh mulut Jabir, kau dan anak mu yang membawa sial. anak mu dipecat kok Tiur pula yang kau salah kan." balas Mamaknya Saor dengan nada suara yang tinggi.


"Mak Iren, silahkan pergi sebelum saya panggil kan Raja Huta (Pemangku Adat) mangnya masih kurang bayar Tutur Muccung Nya?(denda adat karena memfitnah orang).


Andri dan Mamaknya langsung beranjak pergi, terlihat benar raut wajahnya begitu kecewa.


Sesampai di rumah Andri melihat Tulangnya (pamannya) yang duduk lemas di sofa tua itu, seperti ada beban hidup yang tiada berkesudahan.


"Tulang dari mana? tanya Andri dengan suara lemahnya.


(seharusnya Andri, memanggil Nya Amang\= karena putrinya di dinikahinya. tapi berhubung karena Andri sudah bercerai dengan Nya, makanya di panggil nya Tulang kembali).


"Tulang dari Rumah lama, tapi ternyata sudah di jual Mak Tiur. oh iya tadi oppung Togar datang, katanya mau menyita kebun kopi Simaremare?" ujar Bapaknya Tiur.


"Itok ini bodoh kali lah, istrimu jual rumah tapi kamu ngak kebagian Apapun. harga dirimu sebagai seorang Suami sudah di injak-injak Nya, heran deh, laki-laki ngak bisa berbuat sesuatu!."


"kan memang harta warisan dari orangtuanya Mak Tiur."


"ngak bisa Itok Ku, cuman sawah dan rumah ini harta ku yang tersisa. dan itu adalah warisan dari kedua orang tua kita. dan itu juga harta pertama orang tua kita. Kebun kopi Simaremare jual, kan nanti masih ada satu lagi kebun kopi Kalian."


"ngak bisa pak Tiur, rencananya rumah ini juga mau ku jual dan beli rumah baru Andri yang lebih kecil dari ini."


"ngak bisa Itok Mak Iren, rumah dan sawahku jangan di jual. nanti untuk kedua anak laki-laki, Rifan dan Fernando. pokoknya rumah ini dan sawah tidak boleh di jual, lagian hutang di Bank Nya sudah ku lunasi kok dari sisa uang pinjaman koperasi dan bentar lagi itu sawah akan panen, setengah untuk pelunasan dan setengah lagi untuk kita Makan."


"sudahlah pak Tiur, anak-anak mu tidak memperdulikan kamu, buat apa memikirkan mereka lagi?"


"tidak Itok Mak Iren, mereka tetap lah anakku. sudah cukup lama mereka ku buat menderita. setidaknya kalau mereka menikah ada yang bisa ku berikan sebagai Bapak Nya.


"sudah cukup, aku lagi pusing ini. Surat panggilan pengadilan sudah datang tapi Tiur entah kemana?"


Ujar Andri sembari memberikan surat panggilan sidang perceraian dari pengadilan, Bapaknya Tiur langsung lemas mendengar kabar putrinya.

__ADS_1


"kemana mereka pergi bere? tanya bapak Tiur dengan raut wajahnya yang sedih.


"ntah lah Tulang, tapi rumah Nya sudah kosong dan rumah yang di tempati nya sudah dibeli oleh anaknya kepada Desa."


"belum sempat pula ku lihat Cucu Ku, bahkan tulang tidak tahu apakah cucuku laki-laki atau Perempuan. Andri..... apa kamu yakin itu bukan anak mu?"


"Aku yang salah Tulang, itu anak kami berdua. Tiur masih gadis waktu kami menikah, dan Tiur bukanlah seperti gadis lainnya di luar sana."


"sudah..... sekarang bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?" tanya Mamaknya Andri dengan lemas.


"ntah Itok Mak Iren, Aku hanya bisa pergi ke sawah. nanti mau nanam kacang panjang disekitar nya untuk tambahan."


Ucap bapak Tiur sembari beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah itu.


Andri dan Mamaknya hanya terduduk lemas di sofa usang itu, tidak banyak hal bisa dilakukannya.


"Mak.... itu cucu Mamak, bagaimana kalau Andri mengambil anak Ku itu lagi dan memaksa Tiur agar bisa kembali menjadi Istriku?"


"mau pake apa Andri melawan Tiur? Tiur itu bukan orang bodoh. di tambah lagi kamu sudah pengangguran."


"Mamak bukanya ngasih solusi, tapi buat otakku jadi mumet." ucap Andri sembari berlalu ke kamarnya.


Andri kembali duduk di ranjangnya, dia melihat kembali photo album pernikahannya dengan Tiur.


"Tiur..... anak kita apa kabarnya? apakah jenis kelamin anak kita? kenapa kamu tidak memperlihatkan anak kita kepadaku bapaknya?


Ujar Andri Sembari memperhatikan wajah cantiknya dari Istri Nya.


Andri bahkan tidak tahu jenis kelamin dari anaknya, dia hanya membolak-balik photo album pernikahannya.


"Tiur..... Aku memang salah, tidak seharusnya aku melepaskan istri sehebat kamu. kamu benar Tiur, aku ini laki-laki sampah yang tidak berguna."


Andri hanya bisa merenungi nasibnya yang ditinggal istri dan anaknya yang baru lahir, air matanya mengalir di pipinya.

__ADS_1


Rasanya begitu hambar, seharusnya Andri sudah menggendong anak pertamanya. tapi karena kebodohannya sendiri dia menjadi menderita seperti ini.


Digugat cerai sama istrinya, di pecat dari pekerjaan, di tipu daya oleh Dona. lengkap sudah penderitaan hidup Andri.


__ADS_2