
Tanpa terasa sudah tahun baru, walaupun tahun baru kali ini tanpa kehadiran adik-adik tapi berkat keluarga Tulang Saor, Ningsih dan Mamak membuat tahun baru ini jauh lebih bermakna dan khidmat.
Setelah selesai persiapan, kami semua yang menginap di rumah Tulang pak Saor berangkat ke gereja bersama untuk ibadah tahun baru.
Begitu sampai di Gereja, jemaat terlihat berkumpul di halaman gereja dan terlihat pak Camat yang di dampingi keluarga nya diserbu oleh jemaat lainnya.
"pak camat... apa bapak sengaja memelihara si Gatal itu di Kantor?" ujar seorang ibu-ibu dengan bersuara lantang.
"tidak bapak-ibu, dia juga di tempat oleh Pemkab ke kantor. dan bukan saya yang merekrutnya."
"tapi bertindak dong pak Camat, dari dulu. kampung kita ini aman-aman saja."
"baik bapak-ibu, tanggal 5 nanti kami semua akan masuk Kantor, dan disitu baru bisa saya proses. sekarang kita masuk ke gereja dulu dan mari ibadah.
jangan gara-gara perempuan itu, ibadah kita tergantung dan Ketenteraman hancur. mari kita bersama-sama berdoa agar kita bisa hidup rukun dan memulai awal tahun dengan baik. mari bapak ibu kita masuk.....
Barulah para jemaat masuk dengan tertib ke dalam Gereja, tapi kali ini perempuan itu tidak ikut ibadah tahun baru ini.
Selesai ibadah di Gereja kami kembali berkumpul di rumah tulang pak Saor. dan bersama-sama kami merayakan tahun baru dengan penuh sukacita.***
Tanpa terasa sudah tanggal 3 Januari, saya berangkat sendirian ke ibukota kabupaten untuk urusan deposito ke Bank.
Butuh waktu 2 jam lebih dalam perjalanan dan akhirnya sampai juga di terminal, naik becak menuju Bank.
Antrian customer servis hanya dua orang, satu sudah selesai dan kini giliran ku. setelah di cek dan ternyata sudah jatuh tempo awal Desember kemarin.
Setelah cek rekening ternyata totalnya 912 juta Rupiah, hasil deposito 8 tahun kerja. itu berawal dari bonus yang ku terima dan rajin menabung.
Setelah keluar dari Bank, aku menuju klinik kandungan dan bersyukur Klinik tersebut sudah buka.
dari hasil pemeriksaan, calon anakku dalam keadaan sehat dan Normal. menurut perkiraan Dokter anak saya berjenis kelamin laki-laki.
Laki-laki atau perempuan, itu sama bagiku. sama-sama adalah anugerah yang diberikan kepadaku. Hukum adat yang membedakan jenis kelamin tidak berlaku bagiKu.
__ADS_1
Aku hanya di kasih vitamin dan susu hamil yang direkomendasikan oleh dokter Nya dan Aku pulang.**
Sesampai di rumah kabar tersebut langsung ku sampaikan ke Mamak dan juga Tulang pak Saor.
kami berkumpul di rumah Tulang pak Saor sambil ngopi.
Handphone berbunyi dan ternyata Lisa yang menghubungi, setelah Selesai menelpon aku langsung memeluk Mamak dan Nantulang Mak Saor.
Lisa memberitahu kalau penjual tanah sudah bersiap untuk transaksi dan kami pun langsung mengatur rencana.
Singkat cerita, kami berangkat ke Medan. Aku temani Tulang pak Saor dan Nantulang serta dan Mamak, sementara Saor dan Ningsih tinggal untuk menjaga rumah dan Ternak.
Saat di terminal Medan, kami di jemput oleh Lisa bersama seorang laki-laki yang seumuran dengan Nya.
Setelah kenalan ternyata namanya Pangeran dan calon suami dari Lisa Adikku. kami naik mobil pribadi Pangeran menuju rumah kontrakan Lisa untuk sekedar ganti pakaian.
Tepat jam 10 siang, kami sudah sampai di kantor Notaris yang di tunjuk oleh penjual. dan setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kami tandatangan perjanjian jual beli di hadapan Notaris.
Setelah itu kami pergi ke bank untuk pelunasan, dan kemudian kami berangkat lagi ke kantor Notaris untuk menyerahkan Bukti pembayaran.
Rumahnya memang sederhana tapi tanahnya yang luas, rumah itu masih bersih dan kami ke dalamnya.
"kak Tiur.... saya tahu tujuan kakak membeli tanah ini, yaitu untuk mendirikan usaha diatas tanah ini.
oh iya kak, saya kontraktor sekaligus sebagai arsitek dan saya sudah menggambarkan bentuk bangunan yang akan berdiri di atas tanah. silahkan dilihat kak...."
Pangeran melebarkan kertas berukuran A3 dan menjelaskan setiap detail dan fungsi Nya dan itu sangatlah mengagumkan.
Dananya yang di butuhkan, mulai dari ijin bangunan sampai bangunan berdiri membutuhkan biaya yang lumayan banyak.
Kalau di kurangi dari sisa yang kumiliki sekarang ini, kekurangannya 350 juta lagi. dan Tulang pak Saor hanya tersenyum menanggapi Nya.
Dengan perjanjian kerja di hadapan notaris yang sama, ku transfer 150 juta ke rekening perusahaan milik pangeran untuk segera bekerja dan kami pun pulang ke kampung lagi.
__ADS_1
Selama 7 jam dalam bus akhirnya kami sampai juga di rumahku, Saor dan Ningsih langsung menyambut kami dengan suguhan sarapan dan Kopi panas.
Selesai sarapan kami lanjut ngopi, yang duduk di meja makan yang sederhana ini.
"Ito pak Saor dan Eda Mak Saor. saya ingin menjual sawah, kebun dan rumah. sudah ada yang nawar sebesar 312 juta untuk ke-tiga Nya."
"ngak masalah. setuju...."
"cie.... bapak dan Mamak ku kompak benar..." ledek Saor kepada kedua orang tuanya yang sangat kompak menjawab.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Akhirnya kami tertawa lagi disaat obrolan yang serius ini. dan itu karena sanggahan dari Saor.
"jadi seperti janji Tulang, rumah ini nanti akan ku jual dan ku pinjaman atau istilahnya Tulang nanam modal ke usahanya Bere lah.
Tahun depan Saor sudah tamat SMA, dan Tulang akan menggadaikan kebun dan sawah. nanti tolong Carikan di Medan yang jauh dari tempat usaha bere untuk lapak Saor nantinya.
"terimakasih Tuhan ku..... terimakasih Tulang.... terimakasih Nantulang.... terimakasih Mak.... terimakasih Saor.... terimakasih Ningsih.... terimakasih Tuhanku....
"oh iya kak, dulu almarhumah kedua orang tua ku ada meninggal Kebun dan rumah yang telah di jual oleh Tulang Ku.
saat itu Ningsih dapat bagian 110 juta dan tambahan gaji ku selama ini totalnya sudah mencapai 200 jutaan lah kak.
jadi Ningsih juga ikut menanam modal sekaligus sebagai karyawan kakak."
Ujar Ningsih sembari memberikan buku tabungan kepadaKu dan aku hanya bisa memelukNya sambil menangis.
Tanpa hentinya aku bersyukur kepada Sang Pencipta atas rejeki ini. tidak ku sangka dengan niat yang tulus dan ikhlas akan mempermudah proses pengembangan bisnis ku ini.
Keluarga Ku yang tercinta mendukung Ku, baik dari doa, tenaga dan juga dukungan moril.
Inilah yang disebut mukjizat dan Anugerah, langkah untuk melakukan hal besar di awali dengan kemudahan setelah semua penderitaan yang ku terima.
__ADS_1
Tuhan memang Maha adil, ada harapan bagi hambanya yang berserah dan berusaha.