
Hanya Fernando yang belum menikah, karena menunggu kesiapan dari calon istrinya yang masih sangat muda yaitu Saor.
Saor adalah pariban dari Fernando, dan cinta mereka sudah melekat, setelah pernikahan Gabe dan Roy. akhirnya Fernando di tempat kan di Medan ini. dan tidak jauh dari kediaman kami ini.
(pariban adalah sepupu yang bisa di nikahi, Putri dari saudara laki-lakinya mamak yang bisa di nikahi oleh saudara yang laki-laki)
Mamak berpesan kepada Fernando, untuk menunda menikah dengan Saor. dikarenakan Saor masih terlalu muda, biarkanlah dulu Saor menikmati masa mudanya dan sambil menunggu Fernando untuk berkarir.
Usulan tersebut disetujui oleh orang tua Saor, begitu juga dengan kedua belah pihak.
tanpa terasa sudah hampir akhir tahun saja dan kami di sibukkan dengan orderan yang sangat banyak.
Tapi kami tetap semangat untuk mencari cuan di hari besar ini.**
Pagi-pagi sekali aku mencium aroma yang sangat menyengat. ternyata itu berasal dari badan bang Bastian yang masih berdoa pagi.
Selesai berdoa bang Bastian mencium kening Ku dan itu aku tolak karena aku tidak sanggup mencium bau badan yang menyengat.
"pakai pake parfum apa sih? bau."
Dengan heran dan penasaran bang Bastian mencium tubuhnya, dan kemudian menolah ku.
"apa bau badan, tapi belum pernah adek komplain mengenai bau badan Abang?"
"sana menjauh bang."
uach.....uach.......
Rasanya mual banget dan terlihat bang Bastian sangat kwatir dan langsung memberikan minyak kayu putih.
Agak tenang sedikit tapi ketika bang Bastian mau mendekat malah membuat ku muntah lagi, mungkin karena panik bang Bastian langsung lari dari kamar.
Tidak berapa lama bang Bastian datang bersama mamak.
"dah berapa lama ngak haid Mak Elazer?"
Pertanyaan dari mamak langsung membuat berpikir, aku dan bang Bastian sudah menikah hampir enam bulan dan terakhir haid satu minggu sebelum pernikahan.
"terakhir sebelum kami menikah Mak."
Mendengar jawaban dariKu, mamak langsung melirik bang Bastian.
"Amang, tolong siapkan mobil ya. kita bawa Istrimu ini ke bidan dekat sini aja. bidan Yanti."
"apa yang terjadi Inang?"
__ADS_1
"sudah, nanti aja bidan yang menjelaskan ya."
Bang Bastian langsung gerak cepat, dan akhirnya kami bertiga langsung menuju bidan Yanti yang tidak jauh dari sini.
Begitu sampai di Klinik bidan Yanti, bagian perutku langsung di periksa. Klinik ini lumayan lengkap, bidan Yanti melakukan USG terhadap perut Ku.
"istri pak Bastian sedang hamil 17 Minggu nih, seluruh anggota tubuh sudah mulai sempurna, dan detak jantung normal."
Terlihat bang Bastian meneteskan air matanya dan terus menerus menatap layar hitam putih itu.
"istriku hamil, terimakasih Tuhan."
Bidan Yanti hanya tersenyum menanggapi tingkah bang Bastian yang terlihat begitu bahagia, seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
USG sudah selesai dan kami di minta duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan bidan Yanti.
"selamat ya Bu Tiur dan selamat pak Bastian, dan selamat juga buat ibu karena akan menjadi Nenek.
Ibu Tiur, kesehatan anda sangat baik, pertahanan iya. perbanyak makan sayur, buah dan minum air putih.
Tadi hanya USG 3 dimensi aja, minggu depan tolong ke dokter Ahli kandungan untuk USG lebih lanjut, nanti akan saya buat rekomendasi nya ya.
Bapak-ibu, ini hanya untuk berjaga-jaga. karena peralatan medis di ahli kandungan tersebut jauh lebih lengkap, nantinya dokter akan merekomendasikan lebih lanjut lagi.
Pak Bastian, tolong di jaga ketat istri dan calon anaknya ya."
"siap Bu bidan, kami melaksanakan semua saran dari Bu bidan.
Tapi kenapa harus ke dokter ahli kandungan lagi? bukan ibu sudah ahli kandungan?"
bidang Yanti tersenyum menanggapi pertanyaan dari bang Bastian.
"pak Bastian, saya bidan. jadi untuk berjaga jaga alangkah lebih baiknya ke dokter Ahli saja.
Ahli kandungan lebih dalam mempelajari tentang ilmu kandungan.
Misalnya ibu Tiur ini penjahit khusus pakaian perempuan sementara bapak penjahit khusus pakaian laki-laki.
mungkin bisa aja bapak menjahit pakaian perempuan tapi sepertinya kurang maksimal, Begitu dengan saya dan dokter Ahli kandungan pak."
"Bu bidan tahu pekerjaan kami berdua?"
"tahu lah pak, ini stelan jas baru yang bapak buat kan untuk suami ku, dan ini Kebaya baru ku yang di buat istri Bapak.
Saya bahkan dapat diskon loh, wajarlah bapak ngak ingat saya karena pelanggan bapak dan ibu banyak."
__ADS_1
"pelanggan yang dibawa oleh Lisa loh bang, masa Abang lupa? dah 4 kali Bu bidan menjahit sama kita."
"10 kali loh Bu, makanya saya dapat diskon."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
kami hanya bisa tertawa karena ekspresi dari bidan Yanti, dan bidan ini juga yang membantu Nisa dalam kelahiran anak pertama.
Minggu lalu Bu bidan datang bersama rombongan Nya ke ruangan untuk membuat kan seragam Kebaya untuk acara pernikahan keponakan.
Setelah menebus vitamin dan susu nya di apotek kami pun pulang ke rumah, sepanjang perjalanan bang Bastian hanya tersenyum aja.
Kini kami sudah duduk di sofa ruang tamu ini dan bou Mak Ria menyambut kami dengan menyajikan air minum.
"bou juga sudah bisa menebak kalau Elazer akan punya Adek lagi?"
Ujar bou Mak Ria seraya menuangkan air minum tersebut ke gelas kami.
"kok bisa Bou?"
"bou lihat dari dada mu dan juga kaki mu yang sudah mulai bengkak, Mak Elazer aja tidak menyadari nya."
"iya... iya.....
pantas akhir-akhir ini dadaku agak ngeri-ngeri gitu, oh bang bas. kenapa Abang ngak nanya anak kita laki-laki atau perempuan?"
"laki-laki atau perempuan itu sama bagiKu sayang, yang penting kamu dan calon anak sehat."
Mamak hanya tersenyum saat mendengarkan penuturan dari Bastian, dan persamaan terasa tenang.
"Mak Elazer, mulai hari hanya bisa melayani tamu 1 orang dalam satu hari. karena Rada, dan Ningsih serta anak baru itu sudah bisa menghandle nya.
sayang hanya perlu evaluasi gambar dan hasil aja."
"setuju, bila perlu hanya melihat hasil saja, tidak perlu kerja lagi sampai Cucuku lahir."
"betul itu Inang, mulai besok adek hanya melihat hasilnya aja."
Mamak dan Bang Bastian sudah menyuruhku lebih tepatnya memberikan perintah kepada ku agar istrihat lebih banyak.
Bapak yang baru tiba di rumah setelah pulang berkunjung dari rumah Lisa, ikut-ikutan juga memberikan perintah yang sama.
Aku bisa melawan lagi, tiga sekaligus menjadi lawan Ku. tapi sebenarnya aku sangat bahagia sekali.
Inilah kebahagiaan Ku yang sangat Besar, dulu waktu hamil Elazer saya tetap bekerja, sekarang bang Bastian suamiku tercinta jauh lebih pengertian.
__ADS_1