
Pagi harinya kami pulang kembali ke Medan, kali ini Rifan yang menyetir. perjalanan hampir 7 jam dan akhirnya kami sampai Juga di rumah.
Tulang dan Nantulang Mak Saor langsung kembali ke rumahnya, karena Saor sudah menunggu di sana.
"Bapak..... terimakasih karena sudah menepati janji." ujar Lisa Seraya memeluk Bapak.
"terimakasih Boru atas sambutan, undangan Martuppol dan pesta pernikahan Nya sudah kami sebar di kampung." sanggah Bapak.
"oh iya.... Bapak nanti kerja Nya sama Lisa aja ya. jangan sama kakak, karena pegawai kakak itu sudah Banyak."
"ngak mau, Bapak mau nya satu kerjaan dengan Mamak Mu. dan kakak bilang bapak bertugas sebagai penanggung jawab penyimpanan bahan. jadi Nantinya tiap hari bisa bertemu dengan Mamak Mu."
"ih.... bapak ini lah, tapi Nantinya bantu Lisa ya pak.
Bapak..... Lisa ingin bapak kerja sama Ku, biar tiap hari kita temuan."
"jangan maksa dong dek, terserah bapak mau kerja dimana."
"iya kak.... lagian ada Tulang pak Rado, pak Esra dan juga Tulang pak Saor yang bantuin Lisa, harus berbagi ya kak." jawab Lisa sembari tersenyum.
"Kakak sudah pulang.... bawa apa dari kampung Kak." ujar Rada yang datang bersama Ningsih.
"baru saja nyampe, itu ada di tas oleh-oleh dari bou untuk Rada dan Ningsih. ngak tahu apa isi Nya. besok bou dan Amang Boru akan nyusul datang kemari."
Rada dan Ningsih langsung berlari ke arah pintu, karena barang-barang masih di bagasi mobil.
"oppung....... " teriak Ningsih karena kami kedatangan oppung Boru Ruth.
Antara bingung dan heran tapi senang juga akan kedatangan oppung Boru Ruth.
Mak Esra, Mak Rado, Mak indah dan Mak Rani. kami semua membawa oppung Boru Ruth ke ruang tamu untuk ngobrol.
"oppung... Ningsih kangen, oppung kok bisa di Medan? bukan di Jakarta? oppung tahu dari mana tempat tinggal kami? senang kali Ningsih ketemu sama oppung. oppung apa kabar? oppung sudah makan?"
"satu-satu dong nanya? oppung jadi bingung mau jawab yang mana Ningsih...
oppung juga kangen sama Ningsih dan yang lainnya, oppung sekarang tinggal daerah dekat sini di rumahnya Ruth.
Kalau yang di Jakarta itu si Diana dan Gopas, sementara yang tinggal di Medan Bapaknya si Rut, anak siapudan ku. (anak paling bontot)
(sesuai tradisi Batak, orang tua tinggal bersama anak laki-laki yang bontot).
__ADS_1
Kemarin si Ruth menjahit Kebaya Disini, katanya ada Photo oppung yang terpajang setelah di tanya sama pegawainya ternyata ini tempat kerjanya Kalian.
jadi deh oppung kemari, karena kangen sama Kalian semua."
Ningsih Begitu bahagianya saat oppung Boru Ruth datang ke rumah ini, berulang kali Ningsih memeluk oppung Boru Ruth.
"Mak Elazer.... kamu luar biasa, oppung mu tidak salah memilih mu sebagai penerus Ku."
"tapi oppung...."
"ngak ada tapi-tapian sayang, semuanya harus berubah, tapi yang lebih membuat Oppung Bahagia karena anak-anak Oppung kamu bawa semua.
Mak Esra, Mak Pingky, Mak Rado, Rada, dan Boru pudan ku Ningsih.
Oppung benar-benar bahagia melihat kalian semua sehat dan sukses."
"terimakasih juga buat Inang oppung boru Ruth yang sudah perduli sama kami, Inang kami semua sudah punya rumah pribadi Disini." ujar Mak Pingky seraya tersenyum.
"puji Tuhan..... Tiur.... terimakasih ya sayang, berkat kamu, anak-anak Oppung bertambah sukses."
"sama-sama Oppung, semua ini juga karena oppung dan juga kerja keras anak-anak Oppung."
"pak Tiur... saya senang kamu duduk di samping Tiur."
"iya Inang, saya juga senang dan bahagia bisa sadar kembali. dan saya juga bersyukur istri dan anak-anak Ku bersedia menerima Ku kembali. Inang benar, kalau suatu saat pasti saya menyesal karena telah melalaikan keluargaku sendiri.
Saya benar-benar sangat menyesal, dan juga bersyukur kalau saya belum terlambat untuk sadar."
"syukurlah Amang, tambah bahagia rasanya melihat keluarga ini bahagia."
"oppung.... Lisa akan Martuppol lusa, dan segera menikah. setelah itu baru Rifan dan Ningsih." ujar Rada yang turut bahagia.
"uhmmm.... sudah oppung duga, sebenarnya oppung sangat setuju. secara pak Polisi yang Boru pudan oppung loh...."
"iya dong Inang, nanti Inang aja yang menerima Sinamot Ningsih. kan Amang juga satu Marga dengan Ningsih, dan itu artinya Ningsih juga Boru nya Inang." sanggah Bapak dengan percaya diri.
"ya wajib lah, dan itu harus. kan saya Mamaknya nya Ningsih." jawab oppung Boru Ruth seraya tersenyum.
"terimakasih oppung sudah mau menjadi orangtuaku, sebenarnya hal itu sudah kami bahas berdua dengan bang Rifan, iya kan Bang?" ujar Ningsih seraya melihat ke arah Rifan.
"iya benar itu oppung, bahkan Rifan sudah meminta Nomor handphone oppung. rencananya setelah selesai pernikahan kak Lisa, kami berdua akan menghubungi oppung, untuk membicarakan hal ini.
__ADS_1
Tapi oppung sudah disini, itu artinya hubungan Ku dengan Ningsih di Restui sama Tuhan dan keluarga."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
kami tertawa karena penuturan yang lucu nan kocak dari Rifan yang mampu membuat Ningsih menjadi malu.
"oppung ngak mengharap Sinamot yang besar, cukup kasih rumah yang layak untuk Ningsih, sayangi dan cintai Boru pudan Ku ini."
"rumah tinggal renovasi dikit lagi oppung, dan itu semua dari bang Rifan. rumah juga atas nama Ningsih.
oppung.... bang Rifan itu laki-laki sejati dan pria idaman nya Ningsih."
"puji Tuhan..... terimakasih.... terimakasih... rasanya bahagia sekali."
"Inang..... oh Inang...... oppung Boru Ruth....
Suara itu memanggil oppung Boru Ruth, dan setelah tiba di ruangan ini ternyata itu adalah Mamaknya Ruth. dan suara itu membuat Oppung boru Ruth berhenti bicara.
"Kenapa Mak Ruth? kok cepat kali mau jemput?"
"siapa yang jemput, aku kesini mau nempah Kebaya untuk Acara pernikahan nya si Pangeran, kalau untuk martuppol masih ada kebaya ku yang sudah ku jadi."
Ningsih langsung menuntut Mak Rut untuk duduk di sofa.
"kakak mau model seperti apa? biar Ningsih yang buatkan."
"itu loh Ning.... seperti kebaya pink yang di pakai Inang, katanya di jahit oleh anaknya Inang.
Cantik kali kakak tengok, sudah kakak coba Kebaya inang itu, ternyata kekecilan untukku. masa kakak kalah sama oppung-oppung. kan ngak lucu."
"kakak tunggu sini, biar Ningsih ambil meteran." ujar Ningsih lalu berlalu setengah berlari ke arah kamarnya.
"guys..... ini nih menantu Ku, sama kayak si Ruth. eloknya mereka berdua sepakat mau Kebaya dan dress oppung."
"samaKu ngak kuat Inang, terakhir Nya sama si Ruth."
jawab Mak Ruth dengan wajahnya yang memelas karena ketahuan mencoba Kebaya Mertuanya.
Kami hanya tertawa karena ekspresi Nya yang lucu, mereka berdua terlihat harmonis dan kompak sebagai menantu dan mertua.
Berbeda sama orang yang pernah ku kenal.
__ADS_1