MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Pernikahan Rifan.


__ADS_3

Oppung boru Ruth sudah menjadi pegawai Ku dan kami sudah sepakat akan hal gaji yang sebenarnya tidak menjadi patokan bagiNya, yang terpenting adalah oppung Boru Ruth bisa bekerja di tempat ku untuk mengisi hari tuanya.


Acara Martuppol Rifan dan Ningsih sudah disepakati yaitu Minggu depan, dan yang mengurus undangan adalah bapak Uda bang Bastian yang mempunyai usaha percetakan.


Katering dan wisma urusan Lisa dan Suaminya, kebaya urusan Ku dan jas pengantin pria urusan bang Bastian.


Adat urusan bapak, Tulang pak Saor, pak Uda dan lainnya sementara sisanya di urus oleh kaum ibu.


Tidak ketinggalan Saor sebagai konsep fashion, Rani dan Indah yang bertanggung jawab di makeover dan Gabe bertanggung jawab akan jumlah undangan dan penerima tamu kelak nantinya bersama Rada, Pingky yang beranjak remaja.


semua telah mengambil bagiannya dan inilah keluarga yang harmonis saling membantu satu sama lainnya..**


Renovasi tetap berjalan dan kegiatan pun berjalan lancar, tanpa terasa sudah tiba hari tunangan atau kami menyebutnya martuppol dan itu terlaksana dengan khidmat.


Selanjutnya adalah urusan Rifan ke satuannya, untuk mengurus izin pernikahan. kami menyaksikan dan ikut serta mengurusi nya.


Ternyata satuan Nya begitu transparan dalam hal pernikahan anggota nya, disini Ningsih akan menjadi salah satu anggota Bhayangkari dan Ningsih yang akan memegang seluruh pendapatan dari Rifan.


Sudah selayaknya dan itu harus, sebab seorang suami wajib menafkahi istri dan anak-anak nya kelak nanti.


"bang....


Setiap bulan dan itu lain dari gaji yang Ningsih terima, ada juga bagi laba atau bagi hasil dari modal yang Ningsih tanam kan di Tiur & Bastian* Tailor and boutique.


Jadi biar lah setengah gaji Abang untuk biaya kehidupan amangboru dan bou nantinya."


"itu tidak boleh Ningsih, kamu harus mengelolanya dengan baik.


kami berdua juga menanamkan modal di Tiur & Bastian* Tailor and boutique* dan tentunya kami menerima bagi hasil dan itu lain dari gaji kami berdua.


Ningsih harus simpan dan pergunakan itu untuk biaya hidup rumah tangga kalian kelak Nantinya."


"benar itu Inang, pergunakan untuk kebutuhan rumah tangga kalian nanti.


bang Rifan, bapak mintak tolong. jangan ulangi sikap bapak yang dulu ya. bapak mohon jangan terulang lagi di keluarga mu sikap bapak yang sangat buruk.


Abang tidak masalah menyayangi kedua kakak mu ini dan itu wajib, tapi sekali-kali kamu melalaikan cinta dan kasih terhadap istri mu dan anak-anak mu kelak nanti."

__ADS_1


Rifan langsung memeluk bapak, kemudian memeluk mamak.


"Rifan sudah tahu benar akan nasib kami dulu pak, dan itu tidak akan terjadi di kehidupan rumah tangga Rifan kelak nanti.


Kak Mak Elazer dan kak Nisa, pastinya akan mendukung Ningsih karena kedua kakak ku itu sudah merasakan betapa pahitnya masa lalu."


Aku dan Lisa langsung memeluk bapak dan kemudian memeluk Rifan, Lisa meraih tangan Ningsih dan kami menyatukan tangan mereka berdua.


"Ningsih, kamu itu sudah kakak anggap sebagai adik. sebagai sesama perempuan, kakak tidak membiarkan Rifan mengulangi kesalahan Bapak."


"benar kata kakak Mak Elazer, saya juga akan berdiri paling depan jika adik kami Rifan melakukan hal yang sama dengan yang bapak lakukan dulu."


Mamak menghampiri kami dan memeluk Ningsih.


"kami bertiga akan menjadi palang untuk mu dan kami bertiga lah yang paling depan jika itu terjadi."


Ujar mamak yang mendukung omongan kami berdua, dan lagi-lagi kami berpelukan yang kemudian di peluk oleh Rifan.**


Selesai urusan Rifan dengan satuannya, akhirnya kami hanya tinggal menunggu hari pernikahan Nya.


Tanpa terasa waktu berjalan, begitu cepat dan sudah tiba saja hari Nya. keluarga dari kampung sudah tiba disini.


Ningsih Begitu cantik dan anggun, Rifan yang gagah nan tampan dengan pakaian seragam sapari dari kesatuan sangat berwibawa.


Setelah acara adat pembukaan kami berangkat ke gereja untuk pemberkatan.


Selesai pemberkatan lanjut ke acara adat di Lisa Wisma, sebelum masuk acara adat terlebih dahulu acara pedang pora (pedang pora adalah upacara pernikahan militer atau prajurit dan kepolisian secara turun-temurun)


Hanya sekali seumur untuk bisa melaksanakan upacara pedang pora, karena sumpah sehidup dan semati dalam hal kesetiaan pernikahan.


Haru, khidmat dan Susana penuh bahagia. Elazer yang di gendong bapak nya hanya bisa mengoceh kegirangan karena upacara pedang pora tersebut.


Elazer menjadi perhatian para tamu undangan karena ocehan nya, suara yang lantang yang memanggil tulangnya secara berulang-ulang, bahkan peserta pedang pora nya berusaha menahan tawa karena ocehan dari Elazer.


Upacara pedang pora selesai dan lanjut dengan adat Batak Toba, pertama-tama kami makan siang bersama.


Setelah itu lanjut acara adat, semua berjalan lancar dan khidmat.

__ADS_1


Tibalah acara mangulosi, terlihat Oppung Boru sudah menangis saat memegang Ulos tersebut.


"Boru pudan Ku, akhirnya Oppung bisa melihat mu menikah dengan pria yang gagah dan juga tampan.


p....a...s..t..i.. nya .... a....d...a......


Seperti oppung Boru tidak bisa melanjutkan bicara nya karena terharu dan menangis dan bapak Ruth hendak mengambil Alih.


"bapak Ruth heboh kali, saya itu mamak dan sekaligus oppung Boru Nya. diam dulu ya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Semua tamu undangan tertawa karena Oppung boru Ruth yang ngomel ke pak Ruth, terlihat pak Ruth berusaha menahan tawa nya karena tingkah mamak Nya.


"Rifan....


Tolong jaga Boru pudan Ku ini, jangan kau sakiti hatinya.


Sayangilah dan cinta lah Boru pudan Ku, karena Boru pudan ku hatinya lembut dan sangat penyayang.


Tidak pernah ada cacat cela akan perbuatan nya, Ningsih adalah Boru pudan ku.


Ningsih, kamu harus berbakti kepada su


Awas kamu ya Rifan, jangan sekali-kali kau membuat Boru pudan ku menangis."


Demikian lah ujar Oppung boru Ruth, setalah memohon kepada Rifan untuk mencintai dan menyayangi Ningsih kini dia mengancam adikku lalu menangis lagi.


Suara tawa dan haru dari tamu undangan memenuhi ruangan ini, haru dan khidmat tapi lucu.


Bapak Ruth kini memeluk mamak nya, secara bersamaan mereka memberikan ulos itu kepada pengantin.


Haru, bahagia dan lucu itu yang terjadi saat ini, sampai akhirnya acara adat ini dinyatakan selesai.


Sebelum pulang kami makan bersama di wisma ini, sulit untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan sekarang ketika Adikku Rifan yang akhirnya menikah dengan Ningsih, yang sudah aku anggap sebagai Adikku.


Selamat di kampung, Ningsih sangat berperan memberi semangat untuk menghadapi hidup.

__ADS_1


Ningsih menjadi saksi kehidupan ku yang pahit, dan Ningsih salah satunya yang menjadi teman sekaligus tempat curhat Ku.


__ADS_2