MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Bertemu dengan Gabe


__ADS_3

Maria dan Uli sudah pulang, tidak lupa undangan itu aku berikan untuk mereka serta saudarinya yang lain.


Menjelang siang, bapak dan amangboru sudah tiba di rumah.


"gimana keadaan Andri?" tanya mamak spontan kepada bapak.


"dokter berkata kalau Andri sudah tidak waras, bingung cara menjelaskan nya gimana."


Kami serentak menoleh amangboru, karena merasa di perhatikan. akhirnya amangboru mengangkat dagunya tegak lurus.


"Andri sudah hampir seperti Almarhumah Mamaknya, sehingga dokter mendiagnosis skizofrenia.


Andri halusinasi melihat mamak nya, dan juga bersama kamu Inang. Andri selalu menyebut namamu dan kemudian memaki-maki mu.


Andri terlihat seperti kesurupan, sorot matanya yang aneh dan tingkat seperti orang yang lanjut usia.


Saat ini Andri di ikat di ranjang nya, entah apa yang terjadi kepada-nya."


Wajah amangboru sudah jauh terlihat tenang dari sebelumnya, karena ini sudah waktunya makan siang dan kami segera makan bersama.


'ting nong...... Ting nong........


Bel pintu berbunyi, sepertinya kami kedatangan tamu. Nindy yang sudah makan duluan langsung bergerak untuk membuka pintu.


Tidak berapa lama, Nindy datang bersama Gabe.


Gabe adalah kakak dari Andri, yang saat itu masih satu jalan dengan almarhumah Mamaknya.


Dia terlihat menunduk saat berhadapan dengan kami, sewaktu kami bertemu di rumah jiwa untuk menjenguk almarhumah Mamaknya, Gabe tidak pernah bicara dengan Ku.


"Gabe.....


ayo duduk bere, kita makan siang yuk."


Ujar mamak seraya berdiri dan menghampiri Gabe, tapi dia malah melihat ke arahku. Aku hampir Gabe yang sudah di hampir mamak terlebih dahulu.


"kita makan dulu ya, habis makan baru kita ngobrol.


biar ada tenaga Eda untuk menggendong Elazer yang sudah gemuk Eda."


Setelah tangan Gabe aku genggam, barulah dia mengangkat kepalanya. ternyata kalau senyum Gabe jauh terlihat lebih cantik.


Kakak kelima dari mantan suamiku ini, akhirnya mau makan siang bareng dengan kami.


Bapaknya yang aku panggil amangboru, karena sudah menjadi mantan bapak mertuaku. tersenyum ketika Gabe sudah duduk disamping ku.**


Selesai makan, kami duduk di ruang tamu untuk ngobrol.


Mamak datang dengan membawa kopi kesukaan kami semua, lalu duduk di dekat Gabe yang menimang Elazer keponakannya.

__ADS_1


"Elazer ini benar-benar mirip dengan Bapaknya waktu kecil."


Ujar Gabe yang masih memperhatikan wajah Elazer anakku.


Bapaknya hanya tersenyum menanggapi perkataan nya.


"Boru, (putriku) toko mu gimana? siapa yang jaga?"


"untuk sementara tutup, karena Gabe Ingin menemui Eda Mak Elazer secara pribadi."


Gabe menjawab pertanyaan dari bapaknya seraya memberikan Elazer kepada Nindy.


"Eda...... e....d....a....."


Gabe menangis tersedu-sedu, suaranya tidak jelas karene menangis.


Seketika itu langsung ku peluk, dan pelukanku di balas olehnya.


"ada apa Eda? kok nangis?"


Aku lepaskan pelukan ku dariNya, air matanya ku hapus. terlihat dari sorot matanya ada sejumlah penyesalan.


"aku mintak maaf Eda, sejak kemarin aku tidak bisa ngobrol dengan Eda secara langsung karena aku malu Eda.


Aku sudah begitu jahat kepada Eda, tapi cinta dan kasih sayang Mu yang selalu bersama keluarga kami.


Saya benar-benar mintak maaf Eda Mak Elazer."


sebenarnya juga aku ingin menegur Eda waktu di rumah sakit itu, tapi aku segan. aku kira Eda masih menyimpan dendam kepadaKu.


Aku juga mintak sama Eda karena sudah berprasangka buruk."


Lagi-lagi kami berpelukan, hanya yang bisa kami lakukan.


"Eda Mak Elazer, Nantulang. aku ngak tahu kenapa aku selalu berseberangan dengan Eda Mak Elazer ini.


Eda tahu ngak, saat melihat gaun rancangan yang Eda pajang di rumah Eda saat itu. sangat membuatku ingin memiliki nya atau ingin menjahit seperti itu ke Eda.


tapi saat melihat Eda, tiba-tiba saja aku sangat membenci Eda seketika.


Untuk meyakinkan hatiku ini, aku ajalah kakak Mak Daniel. tapi kita malah berantem saat itu, kakak aku bawa untuk mendamaikan kita berdua Eda sekaligus mau jahit gaun dan Kebaya.


Akhirnya kakak ku sendiri yang menjadi lawan Ku, dan ketika kakak memakai gaun hasil jahitan Eda.


iri sekali hatiku Eda, aku juga ingin punya gaun dan Kebaya secantik itu.


Saor, Indah dan Rani selalu aja pamer dihadapan Ku yang membuat hatiku semakin cemburu.


dalam hati ini, penjahit nya padahal Eda ku sendiri. tapi aku tidak punya gaun dan Kebaya secantik yang mereka punya.

__ADS_1


Terlebih-lebih saat putri camat itu memakai kebaya hasil jahitan Eda, semakin miris rasanya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Ekspresi dari Gabe yang membuat kami tertawa, seharusnya ini cerita sedih tapi karena ekspresi yang lucu membuat kami tertawa.


"ya sudah, nanti aku buatkan khusus kebaya dan dress untuk Eda. Aku itu ada kain bagus dari Kalimantan.


Eda kenal sama Simson? anak bapa Uda yang di Kalimantan?"


"kenal dong Eda."


"nah.....


kami kerja sama, jadi Simson itu penyalur kain hasil tenunan para perajin kain di sana. kain nya bagus-bagus Eda.


Entah berapa kali aku pesan sama Simson karena stok selalu habis."


"terimakasih Eda ku....."


"Maaf sekali Eda, tapi aku sangat penasaran. kenapa Eda tiba-tiba lari dari kampung?"


"sekali lagi saya minta maaf kepada Eda, pasti karena aku Eda pasti di tuduh oleh Mamak yang enggak-enggak kan?"


Aku hanya mengangguk setuju, karena saat itu almarhumah Mamaknya datang ke rumah bersama anak manja nya.


Karena itu juga almarhumah mama nya kena denda adat karena menghina ku tanpa dasar.


"jadi Eda, saya itu punya teman dekat laki-laki. kami berdua suka sama suka. tapi mamak langsung meminta Sinamot yang besar kepada nya.


Belum juga ada kesepakatan diantara kami berdua, tapi mamak sudah meminta Sinamot. aku malu Eda.


Ditambah lagi kelakuan mamak yang di luar nalar, sungguh aku benar-benar malu Eda ku.


Malu terhadap warga yang lain dan terlebih-lebih malu kepada teman dekatku itu.


Semua hidup ku di atur oleh mamak, bahkan besar Sinamot pun mamak yang mengatur.


sebenarnya aku juga tahu kalau kak Mak Daniel kabur, bahkan aku yang membantunya lari.


Demikian juga dengan kak Iren, kak Sarah, kak Devi dan kak Maria. saya tahu mereka lari, tapi aku rahasia kan.


Aku pura-pura ketiduran saat mereka kabur dari rumah, aku kasihan melihat kakak ku itu seperti di jual.


Sinamot harus sekian banyaknya, aku dengar itu semua. tapi aku tetap bertahan karena ingin menjaga mamak semampu.


Aku juga tahu kalau mamak sering melakukan ritual aneh dibelakang ternak babi, dan aku sering melihat mamak menari ngak jelas.


Berulangkali aku menasihati mamak tapi itu tidak pernah di dengarkan nya.

__ADS_1


Sampai-sampai aku mengadu kepada raja Huta (Pemangku Adat) tapi itu tidak membantu."


Kami semua saling bertatapan satu sama lainnya, dan itu benar-benar membuat kami terlihat seperti orang bodoh karena bengong secara bersamaan.


__ADS_2