MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Dasar Keluarga Egois


__ADS_3

POV Rohani (Mak Iren).**


' aduh.... kenapa sih Anakku bodohnya mintak Ampun, kan jadi jadi terjebak sendiri dengan omongannya.' ujar Mak Iren dalam hatinya.


Mereka masih terdiam, dengan penjelasan dari Andri.


"pak pengacara... saya Bapaknya Tiur, saya mau tanya. jika seandainya, Andri tetap mengajukan gugatan harta gono-gini dan hak Asuh anak. apakah itu ada kemungkinan menang?"


"baik bapak, Begini Pak. semuanya bisa terjadi di pengadilan, dan saya sebagai pengacara yang di tunjuk oleh putri Bapak yaitu ibu Tiur akan berusaha membela hak di pengadilan.


Bukti-bukti yang kami miliki sudah sangat mempuni Bapak.


Niat baik dari Clien saya yang membuat Ku sangat salut dan bangga. ibu Tiur Begitu bijaksana dan lapang dada serta berjiwa besar.


Ibu Tiur hanya ingin tenang menjalani hidupnya yang baru tanpa adanya gangguan dari mantan suaminya.


Pak.... semut jika di injak tentunya akan menggigit kita balik.


Putri bapak sudah membuat perjanjian tentang pemisahan harta Bersama, secara Adat dan itu disahkan oleh pejabat Desa yaitu oleh Kepada desa dan perangkat Nya.


Putri bapak tidak pernah di nafkahi oleh mantan suaminya, tuduhan mantan suaminya yang mengatakan ibu Tiur hamil duluan.


Penyangkalan terhadap anak, itu sangat perih pak, saya tidak membayangkan perasaan Anaknya jika tahu Bapaknya menyangkalnya.


bapak..... dengan semua yang sudah saya tuturkan, apa pantas mantan suami putri bapak datang untuk menuntut hak asuh dan harta gono-gini?


Barusan saja, pak Andri menyangkal anaknya lagi. jika seandainya putriku di buat seperti itu, akan saya gugat tanpa ampun."


Pak Erik menghela nafasnya lagi, dan pak Tiur juga demikian. seperti ada sesuatu yang membuat pengacara Tiur menghentikan omongan Nya.


"apa pak Danu sudah pernah mengambil Kasus seperti ini?"


"belum Pak Erik, tapi saya adalah pengacara yang di tunjuk oleh Clien saya. dan saya akan memperjuangkan kepentingan dan hak dari Clien saya."


"hak yang mana pak Danu? hak asuh anak? bukan sudah disangkal Nya?


harta gono-gini? kalau Begitu kami juga anak menuntut hak harta gono-gini dan nafkah anak dari Clien Anda."

__ADS_1


"tidak bisa Begitu pak pengacara, bagaimana caranya Andri untuk menafkahi anaknya. sementara Andri sendiri pengangguran." ujar Mamaknya Andri.


"kalau begitu jangan menuntut hak Asuh jika merasa tidak sanggup untuk membiayai anak, ibu seharusnya bersyukur, clien saya tidak menuntut nafkah Anak."


"pak pengacara.... itulah sebabnya kami menggugat harta gono-gini untuk bekal Cucu Ku dan Andri nantinya." ucap Mamaknya Andri yang bersikukuh.


"ibu lucu ya, kalau begitu kita Bertemu di pengadilan aja. silahkan keluar dari kantor saya."


Pak Erik mengusir mereka, karena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. karena pertemuan ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan.***


Danu mempersilahkan Clien duduk dihadapannya, dengan wajahnya yang lemas karena dibantai argumen oleh pak Erik pengacara yang di tunjuk oleh Tiur.


"saya tidak mendapatkan pengakuan seperti yang di ucapkan oleh kuasa hukum dari mantan istri mu pak Andri.


Sekarang apa kita lanjutkan atau kita musyawarah secara kekeluargaan?"


"lanjut lah pak Danu, Tiur itu orangnya sombong dan sok hebat. kami akan membuat perhitungan dengan Nya." ujar Mak Iren yaitu Mamaknya Andri.


"okey..... apakah kita mengajukan banding akan gugatan cerai ini?"


"baik, kita menunggu ingkra saja. setelah itu nanti saya ajukan mengenai hak Asuh anak dan juga harta gono-gini.


dan sesuai dengan perjanjian kita, memang atau kalahnya nanti sudah jadi resiko saya. bapak-ibu tunggu saja kabar dari saya.


kita Bertemu di pengadilan negeri nanti, kalau sudah tidak ada pertanyaan silahkan pulang."


ujarnya Pak Danu, yang seakan-akan mengusir mereka bertiga dari ruangannya.


"sekarang kita ke rumah Tiur, saya ingin membuat perhitungan dengannya." ujar Mamaknya Andri dengan penuh semangat.


Mereka bertiga keluar dari ruangan pak Danu dan menunggu angkutan umum untuk pergi ke rumahnya Tiur.


Setelah mengumpulkan informasi akan angkutan umum menuju kediaman Tiur, akhirnya mereka naik angkutan.


Dua kali berganti angkutan umum, tapi mereka bertiga belum sampai juga ke tujuan. dan setelah menempuh perjalanan dua jam lebih akhirnya mereka sampai di sebuah kompleks Mewah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Danu kepada mereka.


Seperti Nya kompleks tersebut bebas masuk, tapi mereka tidak tahu alamat rumah dari Tiur tujuan mereka yang sebenarnya.

__ADS_1


"selamat siang Bapak-ibu, mau cari siapa dan tujuannya Apa?" security kompleks mewah itu bertanya kepada mereka bertiga yang terlihat kebingungan.


"saya Suami nya Tiur, saya bertemu dengan Nya dan juga Anakku." jawab Andri tanpa ragu.


"mohon di tunggu di sebentar, saya akan bertanya kepada security yang di dalam."


Ucap dari security, terlihat security itu berkomunikasi melalui sebuah benda yang mirip handphone tapi sangat besar dan berwarna hitam.


"mohon Bapak-ibu, ibu Tiur tidak punya suami alias janda, jangan mengada-ada dengan mengaku sebagai suami ibu Tiur." ujar security kepada Andri.


Andri langsung menoleh Mamaknya, untuk segera bertindak dan Mamaknya langsung menyuruh pak Tiur untuk melakukan sesuatu.


"pak security..... nama saya HORAS PARGOMGOM, saya Bapak kandung Nya Tiur. tolong ijinkan kami masuk. kami ini keluarga Nya." ucap pak Tiur dengan penuh harap.


"hadeh..... tadi bapak ini mengaku sebagai suaminya ibu Tiur, sekarang bapak mengaku sebagai orang tuanya. terus apa ibu mengakui mau mengakui sebagai apa lagi?"


"eh.... ngak usah banyak bacot, sekarang panggilan kan Tiur kemari?" ucap Mamaknya Andri dengan lantangnya.


"mohon maaf ibu, jika tidak ada lagi urusan sekarang kalian pergi dari sini, sebelum saya membawa kalian ke kantor polisi dengan alasan mengganggu kenyamanan."


Mereka bertiga langsung terdiam, dan security yang lainnya langsung berdatangan untuk mengamankan mereka bertiga.


mereka bertiga sudah seperti pengacau yang di usir dari kompleks mewah itu. bapaknya Tiur terlihat begitu sedihnya ketika mereka di usir.


"Rifan..... " pak Tiur memanggil Rifan yang masuk ke kompleks tersebut.


Akhirnya mereka bertiga lega setelah ada yang mereka kenal masuk ke kompleks itu, Rifan langsung membawa mereka ke sebuah ruangan kosong.


"Rifan.... mana kakak dan Mamak Mu?" tanya pak Tiur kepada anak laki-lakinya itu.


"saya tidak mengijinkan kalian bertemu dengan kak Tiur dan Mamak, karena kalian bertiga hanya luka di hatiNya."


"Sok kali kakak kau itu, suruh mereka keluar!." ucap Mak Iren dengan setengah berteriak.


"siapa kau berani memerintah Aku, sekarang kalian pulang sebelum saya seret kalian ke kantor polisi." ujar Rifan dengan raut wajahnya yang marah.


Akhirnya mereka bertiga pulang tanpa bertemu dengan Tiur dan anaknya Tiur. bapak Tiur merasakan kekecewaan yang begitu dalam terhadap keluarga.

__ADS_1


__ADS_2