
Saya benar-benar menutup mata dan telinga untuk kabar Bapak dan keluarga nya itu. aku tidak mau Calon Anakku yang sudah hampir mencapai masa lahiran menjadi terganggu.
"Bere..... tempat usaha mu sudah hampir rampung, tempat tinggal karyawan sudah sempurna." ujar Tulang Pak Saor dengan semangat.
Tulang pak Saor dan istrinya, serta Mamak yang baru pulang dari Medan untuk mencek tempat usaha Ku yang baru.
"oh iya kak, Saor sudah ngomong sama pihak pabrik. dan mereka akan mengirimkan bala bantuan untuk pindahan kakak ke Medan nanti. karena kakak adalah pelanggan terbaiknya yang akan memulai usaha di tempat yang baru.
Semuanya sudah Saor atur, jadi kakak tidak perlu pusing memikirkan angkutan." kata Saor dengan nada Suara mentel Nya.
"kak.... semua peralatan dan sisa bakal kita sudah kami packing, tinggal sedikit lagi. kakak tenang, rileks. dan kakak harus semangat demi si dedek bayi."
Aku hanya bisa tersenyum lebar akan semua dukungan ini. tapi...
ah..... ah.... ah...... ah.....
"ketuban kak Tiur pecah Mak..... " ujar Saor dengan penuh kekwatiran.
Tulang pak Saor langsung bergerak keluar, Mamak dan Nantulang memapah ku.
"Saor.... Ningsih..... nanti tolong siapkan perlengkapan Tiur ya, setelah itu susul kami ke puskesmas." ujar Mamak.
Akhirnya sampai juga di Puskesmas, dan langsung di bawa ke ruang bersalin.
Setelah 3 jam menahan rasa sakit yang luar biasa, rasanya seluruh tulang ku retak semuanya dan akhirnya lahir bayi laki-laki yang sangat mirip dengan Bapaknya, yaitu Andri Pandiangan.
Setelah di pindahkan ke ruang rawat, Mamak dan Tulang, Nantulang, Saor dan Ningsih datang menghampiriku.
"Mak.... bisa kita pulang sekarang? Tiur ingin cepat-cepat bercerai dengan Andri."
"sabar ya Bu Tiur, besok pagi akan saya pulangkan ibu dan bayi Ibu."
Jawaban dari dari Dokter Duma, dan entah kenapa aku sehat dan bugar. mungkin aku ingin cepat-cepat terlepas dari Andri dan keluarganya.*
Besok pagi nya aku sudah pulang bersama Mamak yang diantarkan oleh dokter Duma naik mobilnya.
Di rumah sudah banyak orang, Pemangku Adat dan rombongannya. Andri dan keluarganya, Bapak, penatua Marga, pak Kades, pak Kepling dan para tetangga.
__ADS_1
Bayiku dibawa masuk oleh Ningsih ke kamar, dan tidak terlihat sedikitpun Andri ingin melihat anaknya yang baru lahir.
Setelah sarapan bersama dan Kopi pun tersaji di hadapan kami masing-masing, Pemangku Adat berdiri di hadapan kami.
"baik bapak-ibu, sesuai dengan perjanjian antara Tiur dengan Suaminya yaitu Andri. saat pertemuan malam itu di bulan Desember tahun Lalu.
Tiur berkata hendak ingin bercerai dari suaminya, akan tetapi berhubung Tiur saat itu sedang hamil. maka saya tidak mengijinkan untuk bercerai.
Sesuai dengan janji Ku, saya Raja Huta akan datang meninjau setelah Tiur melahirkan. dan berhubung Tiur sudah melahirkan anaknya dengan keadaan sehat dan tidak kurang Apapun.
Sekarang saya ingin bertanya kepada Tiur, pohoppu apakah tekad mu sudah bulat untuk bercerai?"
"sudah oppung Raja Huta." ku jawab dengan lantang dan keras pertanyaan dari Pemangku Adat.
"baik.... Tiur bisa berdiri pahoppu?"
Dengan segera saya berdiri dan menghampiri Pemangku Adat.
"Tiur.... silahkan ucapkan apa yang ingin kau ucapkan kepada Andri suami Mu." ujar Pemangku Adat yang berdiri di samping Ku.
"Andri Pandiangan, dengan ini saya Tiur. Menyatakan bahwa kita bercerai, berdasarkan perjanjian yang telah kita sepakati dan yang telah Andri langgar.
Dan berdasarkan pernyataan dan pengakuan secara lisan di Kafe malam Natal Desember tahun Lalu, Bahwa kamu tidak mengakui anak yang ku kandung sebagai anak mu.
Dengan ini saya menyatakan, Andri Pandiangan tidak berhak atas anak saya. karena menurut Mu itu adalah hasil perzinahan.
Saya bisa berdiri sendiri tanpa kau kembali kan kepada orang tua ku, karena engkau sudah mengambil Nya.
Oppung Raja Huta, saya Tiur. sudah mengatakan keinginan Ku."
"berdasarkan Adat yang sudah kita tekuni selama ini, dan sudah sejak dari para oppung kita. atas Nama Adat dan Raja Parhutaon, Tiur dan Andri resmi bercerai secara Adat.
Kalian bukan lagi suami istri di peradatan, dan untuk selanjutnya saya serahkan kepada pak Kades."
"baik, untuk Tiur dan Andri. berhubung Kalian terdata secara administratif. untuk itu kalian mengurus perceraian kalian secepatnya di pengadilan negeri setempat.
Karena kalian sudah bercerai secara Adat, Maka Kalian berdua tidak bisa lagi hidup dalam satu rumah. jika kalian berdua masih melakukannya, maka warga kampung berhak mengusir kalian dari kampung ini. demikian dari saya."
__ADS_1
Pemangku adat akhirnya menutup Acara Adat perceraian kami dan akhirnya aku terbebaskan dari segala belenggu penderitaan ini.
Para tamu sudah pulang ke rumah nya masing-masing, dan lagi-lagi tidak terlihat sedikitpun kalau si Andri mau melihat keadaan anaknya.
Sebulan yang lalu, Irma memberi Ku nomor handphone pengacara yang berkantor di ibukota kabupaten.
Melalui bantuan pengacara itu saya meminta gugatan cerai ke pengadilan Negeri. dengan bukti-bukti Video perselingkuhan Andri bersama wanita si gatal itu.
Bukti yang lain adalah bahwa selama perkawinan Andri sebagai suami tidak pernah memberi ku nafkah.
Minggu ini adalah sidang perdana, dan kata pengacara saya tidak perlu hadir.
Mungkin Minggu depan kami bisa ke Medan untuk memulai hidup baru lagi.
Mamak mengungsikan Aku dan bayiku ke rumah Tulang pak Saor, karena rumah ini akan di beres kan.
Mamak, Ningsih dan Tentunya Tulang pak Saor ikut membantu dalam beres-beres rumah.
Nantulang dan Saor tidak henti-hentinya memperhatikan Bayiku yang mungil. yang ku berikan nama" Elazer Jonathan" Tuhan Sang Penolong.
Secara otomatis nama panggilan ku akan berubah, menjadi Mak Elazer.
Sudah menjelang sore, Mamak, Ningsih dan Tulang sudah kembali ke rumah ini.
Di ruang tamu ini kami makan malam bersama dan kemudian kami lanjutkan ngopi untuk menemani obrolan malam ini.
"Minggu depan sudah fix bisa pindah, tepat hari Senin jam 7 malam. tiga truk pengangkut dari Sinar konfeksi akan datang mengangkut barang-barang. dan Nantinya akan di kawal oleh Rifan dan kawan-kawan nya.
Nanti kita semua berangkat malam jam 10 dari rumah mu, jadi bersabarlah sebentar ya Bere. tidak lama lagi semuanya akan berakhir dan kita akan memulai kehidupan yang baru lagi."
"Bapak..... ngak bisa kita ikut sekalian?" ujar Saor yang terlihat sedih.
"jangan dulu Boru, Begitu kamu selesai ujian nasional langsung bapak urus kepindahan kita. bapak sudah menemukan lahan tepat di depan Kakak Mak Elazer dan perlahan akan dibangun.
sabar iya Boru, kita nikmati aja prosesnya. jangan buru-buru dan tetap tenang dan berdoa."
"iya Pak, Saor berterima kasih kepada Tuhanku. karena punya bapak dan Mamak Sangat sayang kepadaku."
__ADS_1
Ujar Saor dengan matanya yang berbinar-binar, memang benar Kuasa Tuhan itu sangat Nyata.