
Sembari menunggu hari H untuk pernikahan, kami masih tetap melakukan aktivitas sebagai mana biasanya.
Kami sudah mengambil posisi masing-masing sesuai jobs nya, dan sudah 5 klien yang aku tangani untuk membuat kebaya.
Demikian juga Ningsih, calon adik Iparku itu sudah melayani 7 kliennya. kemajuannya di bidang design sangat luar biasa.
"kak.....
Si Gatal itu datang lagi?"
Ujar Ningsih yang langsung masuk setelah melihat clien yang terakhir keluar ruangan ku.
"siapa si Gatal?"
"itulah kok yang dulu sempat pacaran dengan mantan suami kakak."
"Ningsih aneh-aneh deh, manalah kakak ingat. lagian mana pelanggan kita yang gatal, semua yang datang ke sini adalah orang-orang terhormat."
"ih... ih.... kakak inilah, bukan pelanggan kita kak.
kakak ingat ngak waktu kita di Kafe saat di kampung, saat itu malam Natal, selesai natal di gereja kita makan Kafe.
Nah ada perempuan yang datang bersama bang Andri, nah perempuan itu katanya calon istrinya.
Dan itu viral di kampung, live di Facebook.....
"oh iya.... iya. iya.... ingat, ngapain dia datang? mau buat kebaya atau dress?"
"ngak Kak dia mau ngomong empat sama kakak.
jadinya bicara enam mata kak, kan dia pake kecamatan yang tebal."
"ada-ada aja deh, suruh masuk masuk dek."
Iya ini dia perempuan pegawai kantor camat di kampung kami dengan status pegawai Negari.
Tapi apa tujuan nya datang kemari?
Terus siapa anak perempuan yang bersamanya?
"kamu Tiur kan? istrinya Andri?"
Wanita itu bertanya tapi ekspresi seperti ingin menelan orang.
"iya saya Tiur, dan saya adalah mantan istri Andri.
kakak mau ngapain? jahit kebaya atau dress?"
"bukan keduanya, saya ngak level buat Kebaya atau dress di tempat seperti ini."
"Syukurlah, aku juga ogah buatkan kamu Kebaya, tapi tujuan mu datang ke sini kau ngapain coba?"
"saya juga bersyukur kalau kau sudah bercerai dengan Andri.
Oh iya ini Boru (Putri) Andri, saya ingin dia bertanggung jawab.
__ADS_1
Saya sudah lama mencari nya, alamat tempat mu saya dapatkan dari kampung.
Dimana Andri?"
"kakak tanya sama Bapaknya langsung ya, sebentar biar aku panggil kan Bapaknya kemari ".
Melalui panggilan interkom, Saor aku minta untuk memanggil bapak nya Andri datang ke ruangan ini.
(Interkom merupakan kepanjangan dari intercommunication device atau peralatan komunikasi internal).
Setelah aku selesai bicara dengan Saor, wajah perempuan ini seperti syok yang mengetahui kalau bapak nya Andri berada disini juga.
Tidak berapa lama, Saor datang bersama amangboru yaitu bapak dari Andri.
"amangboru ini adalah bapak kandung dari Andri, silahkan bicara?"
"sebaiknya kita bicara di ruang belakang saja ya Inang, nanti takut nya mengganggu inang Mak Elazer."
"baik, tapi saya juga ingin perempuan ini ikut serta dengan kita ngobrol."
"buat apa? Inang Mak Elazer ini tidak ada hubungannya lagi dengan Andri. silahkan bicara dengan saya.
Kamu segan bicara berdua denganku? tenang biar saya panggil Boru ku."
"tidak perlu, saya tetap mau bicara dengan perempuan ini."
Sebenarnya agak kepo juga sih ingin mendengar ocehan dari perempuan ini, iya itung-itung nambah informasi jadi aku ikut lah.
"amangboru, ngak apa-apa aku ikut."
Untuk sementara aku titip kepada Ningsih untuk menghandle tamu yang akan datang.
"secara sekilas saya mengenal mu, tapi apa tujuan inang datang kemari?"
Ujar amangboru setelah Saor selesai menyajikan Kopi untuk kami bertiga.
"baiklah Amang, terimakasih karena masih mengingat saya.
Nama saya Rona, dulu saya dan Andri berencana akan menikah tapi terhalang karena perempuan ini masih menjadi istrinya."
"saya ngak habis pikir dengan penjelasan Mu, bisa-bisa kamu mau menikah dengan Andri yang jelas-jelas punya istri.
apakah kau sehat?"
Amangboru menjawabnya dengan begitu bijaksana dan ekspresi si Rona membuat ku sedikit geli.
Seperti perempuan yang tidak tahu diri, katanya sarjana tapi kok seperti ini sikap nya?
"Sehat atau ngaknya itu bukan jadi persoalan sekarang, ini Putri kami bersama Andri namanya Viona.
Saya ingin Andri bertanggung jawab, dia harus bertanggung jawab."
"sebentar Inang, tapi Viona ini agak lain ya. wajah nya seperti bule gitu.
Rambutnya agak pirang dan kulit nya seperti bule dari Eropa sana, cuman hidungnya yang seperti hidung orang Indonesia pada umumnya.
__ADS_1
inang yakin kalau Viona ini Boru nya Andri? saya ngak yakin.
Dalam keluarga kami tidak pernah menikah dengan bule, tapi apa iya, kalau Andri itu pun gen bule?"
Aku hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi dari amangboru ini yang tersenyum kecut.
Pertanyaan itu yang sedari tadi ingin aku pertanyakan tapi sudah ditanyakan oleh amangboru tanpa merasa segan.
"dengar ya amang, saya ini perempuan terhormat dan saya ini sarjana....
"kalau perempuan terhormat dan berpendidikan tinggi, itu tidak akan merebut suami orang.
Sudahlah, tidak perlu memamerkan pendidikan mu yang tinggi itu, pendidikan yang tinggi tidak secara otomatis membuat akhlak seseorang menjadi lebih baik.
Tapi satu hal yang inang ketahui, saya tidak akan pernah mengganggap Viona ini sebagai Cucuku, Karena Viona ini agak lain.
Kecuali jika Andri sudah mengakui nya sebagai anaknya.
Temui Andri, di rumah sakit Kasih Bina. mintak pertanggungjawaban kepada nya.
Tolong jangan pernah lagi datang kemari, jika hanya urusan Andri.
Andri tidak hubungan lagi dengan Inang Mak Elazer ini.
Andri sekarang sudah duda, jika kamu menginginkan silahkan.
Silahkan tinggalkan tempat ini, sebelum security mengusir anda dari tempat ini."
Perempuan yang bernama Rona itu akhirnya pergi juga, dan kami kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
"kak...
gimana? apa yang terjadi?"
Ningsih terlihat sangat penasaran akan cerita dari perempuan yang bernama Rona itu.
"anak perempuan yang bersamanya itu katanya anaknya Andri."
"ha.... tapi kyak anak bule gitu kak." lagi-lagi Ningsih terlihat heran.
"iya gitu, amangboru juga meragukannya. kata amangboru dalam keluarga nya tidak pernah seorangpun yang menikah dengan bule, tapi kali aja Andri punya gen bule."
"gen bule dari Hongkong, tapi ya sudahlah. itu urusan perempuan itu. Tapi kemana perempuan itu pergi kak?
"amangboru Boru menyuruh nya untuk pergi ke rumah sakit."
Ningsih tersenyum tapi aku tahu apa yang membuat tersenyum, iya apa lagi. pastinya perempuan itu akan kaget melihat kondisi Andri yang sekarang ini.
Seperti nya handphone Ningsih yang dalam gemgaman Nya bergetar, setelah melihat siapa yang menghubungi dia langsung tersenyum.
"pamit ya kak, Yayang ku lagi nelpon."
Ningsih dengan tersenyum seraya menunjuk kan orang yang menghubungi Nya. iya itu adalah Adikku Rifan.
Polisi kebanggaan kami, dan yayang nya Ningsih.
__ADS_1