MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Lamaran dan Gugatan


__ADS_3

Andri dan keluarganya tetap menggugat hak Asuh dan harta gono-gini, kali ini pengadilan sudah melimpahkan Kasus nya ke Deli Serdang, karena harta gono-gini yang mereka gugat berada di tempat Ku, kompleks usahaku ini.


Aku ngak habis pikir tentang Mereka, hanya deposito ku yang murni harta bawaan ku, sisanya dana pinjaman atau istilahnya penamaan modal.


Dari Tulang pak Saor, Ningsih, keluarga pak Rado, Keluarga pak Esra, Ningsih, Rifan gadaikan SK, bagian warisan mereka yang ku pakai dan Hutang di Bank.


Trus harta gono-gini mana yang mereka gugat? modal dari keluarga ini?


Oh tidak bisa, mereka harus di beri di pelajaran. Aku harus menemui pak Erik dan Tim Nya, akan ku buat perhitungan dengan mereka.


Kali ini saya tidak perlu meminjam kendaraan orang lain, karena sudah punya mobil sendiri lengkap dengan supirnya. hanya butuh waktu satu jam akhirnya kami sampai di kantor pak Erik.


Bersama Mamak dan Tulang pak Saor, kami bertiga sudah berhadapan dengan pak Erik.


"pak Erik.... saya ingin mereka membayar yang sepantasnya. saya diam mereka bertindak, ini tidak benar."


"Bu Tiur.... saya paham betul bagaimana perasaan ibu, saya hanya beberapa jam bicara dengan mantan suami ibu, dan itu membuat pembuluh darah Ku rasanya mau pecah. konon ibu Tiur yang menghadapinya, pokok nya Ampun bicara dengan mereka.


Berhubungan dengan ingkra nya putusan pengadilan mengenai perceraian ibu, dan saat ini menggugat hak Asuh anak dan menjawab tantangan mereka mengenai gugatan harta gono-gini.


Mereka tidak punya Taji apapun Bu, tapi kita tidak boleh lengah. jadi begini Bu, untuk memperkuat surat perjanjian pemisahan harta yang telah ibu buat.


Apakah nantinya ibu bisa menghadirkan Pemangku Adat, kepada desa dan perangkat Nya serta beberapa saksi yang ikut tanda tangan di perjanjian itu?"


"saya sudah bicara dengan Pemangku adat, Kepala Desa dan pak Kepling kami. mereka bersedia hadir jika di butuhkan pak pengacara.


untuk saksi yang tandatangan di perjanjian itu sebagian sudah menjadi pegawai bere ku ini. bahkan Dokter kandungan yang memeriksa kandungan bere Ku ini hingga Cucuku itu lahir, bersedia juga hadir jika di butuhkan.


Beberapa warga yang ikut hadir dalam sidang adat di balai Desa bisa hadir jika di butuhkan pak pengacara."


"Bagus..... jadi langkah kita pertama adalah hak Asuh anak, yang akan bertalian langsung dengan Nafkah Anak. selanjutnya adalah gugatan harta gono-gini.


Jika sudah lengkap seperti ini, saya semakin percaya diri untuk melangkah dengan pasti."


"terimakasih pak Erik, saya juga ingin bapak membantu kami untuk mengurus perihal ijin usaha adek-adek ku, Butik, salon dan Spa."

__ADS_1


"baik Bu, semuanya sudah aman hanya tinggal menunggu surat nya terbit, terimakasih ibu Tiur karena sudah mempercayai Tim Ku sebagai kuasa hukum ibu dan Kuasa hukum di usaha Ibu."


"sama-sama pak, kalau begitu kami mohon pamit dulu pak Erik."


Kami akhirnya pamit pulang, Karena banyak keluarga yang menunggu di rumah. yaitu keluarga Indah dan Rani yang masih kerja untuk persiapan usaha Mereka.


Minggu ini adalah sidang pertama dalam hal hal asuh anak. kali ini saya harus ikut, Ningsih nantinya yang menghandle tamu. dan tentunya sudah bisa di bantu Saor.


Sementara Nanti malam kami akan menerima hori-hori dingding (mempertanyakan hubungan calon mempelai) dari Keluarga pangeran, calon suami Lisa.


Itulah sebabnya kami buru-buru pulang untuk membuat persiapan. setelah sampai di rumah, ternyata sudah selesai semua, tinggal menunggu ikan mas arsik matang.


Sore hari sudah Tiba, Saor, Indah dan Rani sudah mempersiapkan Lisa dan Adikku itu keluar dari kamarnya dengan begitu cantik dan Anggun.


Setelah semuanya siap, kami menunggu keluarga pangeran di ruang tamu ini. tidak berapa lama Pangeran bersama kedua orangtuanya dan di dampingi Uda dan Inang Uda sudah tiba di ruang tamu kami ini.


Terlebih dahulu kami makan, selama makan tatapan Pangeran kepada Lisa tidak pernah luput dan hal itu menjadi bahan ledekan bagi dua ibu-ibu rempong, yaitu Mak Esra dan Mak Rado.


"baik.... sekarang kita lanjutkan Acara, dengan ini sebagai parhata (pemandu acara), terlebih menanyakan Kepada Lisa.


"siap.... saya siap Amang, karena hatiku sudah mantap untuk menerima Bang Pangeran sebagai Suami Ku." jawab Lisa dengan lantangnya.


"terimakasih..... sekarang saya kepada pangeran....


"saya siap Amang, tidak ada keraguan bagiKu untuk menjadikan Lisa sebagai istriku."


"cepat amat, belum juga selesai pertanyaan Ku....


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami semua tertawa karena jawaban spontan dari Pangeran. begitu dengan Rifan dan Fernando. kedua adik laki-laki Ku terlihat menyeka air matanya.


"bang Rifan..... Bang Nando..... Kenapa? apa salah dengan acara kita ini? kok nangis?"" tanya Nantulang Mak Saor.


Dari dulu Nantulang Mak Saor memang memanggil Rifan dan Fernando dengan sebutan Abang, agar di tiru oleh Saor.

__ADS_1


"ngak tahu Nantulang, bahagia aja rasanya mendengar jawaban dari kak Lisa dan Lae Pangeran. keluarga Lae Pangeran datang dengan baik-baik untuk mempersunting kak Lisa."


"sama bang Rifan, adek juga ngak tahu kenapa bisa menangis seperti ini. tapi Bahagia aja rasanya dan Sulit untuk mengungkap Nya." timpal Fernando yang di panggil adek Nando.


"mau Gimana lagi Tunggane, hati Ku sudah mentok di Lisa." sanggah Pangeran dengan malu-malu.


"baiklah kalau begitu, bagaimana dengan para keluarga?"


"setuju......


Kami semua menjawab dengan serantak pertanyaan dari Bapak Esra.


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami tertawa bersama-sama, karena begitu kompak nya menjawab setuju.


"Sebenarnya tidak banyak yang perlu kita bahas disini, kita perlu jawaban yang pasti dari kedua calon mempelai. karena kita sudah dapat jawaban berarti acara selesai.


Tapi demi menghemat waktu dan dana, kita sekaligus membahas tentang acara Martuppol, dan jika tidak keberatan disini juga saya ingin bertanya kepada pihak paranak (keluarga calon mempelai Pria) berapa kira-kira Sinamot (Mahar) yang bisa kami terima?"


"terimakasih Amang Raja Nami, (amang raja Nami\= penghormatan kepada raja parhata).


saya setuju dengan usulan Amang, dan sebelumnya kami sekeluarga sudah ngobrol terlebih dahulu. Anak kami Pangeran hanya bisa menyanggupi 20 juta Rupiah. Karena ada alasan tertentu yang Mungkin bisa kita dengar dari kedua calon mempelai."


"terimakasih atas penuturannya Amang, kalau begitu saya ingin mendengar penjelasan dari Lisa terlebih dahulu." ucap Pak Esra sambil menoleh ke arah Lisa.


"terimakasih Amang, begini Amang. Lisa dan bang Pangeran sudah mempunyai usaha bersama yaitu Wisma dan kami juga sudah mempunyai rumah tinggal setelah menikah nanti Nya dan semua itu atas nama Ku.


Pembelian Rumah itu adalah uang dari bang Pangeran, sementara Wisma serta Dapur katering itu kami bagi dua biayanya.


Bang Pangeran juga sudah memberiKu emas perhiasan berupa kalung, dan cincin.


Setelah bicara dengan keluarga, mahar yang kami harapkan sebenarnya hanya 10 juta aja. itu hanya untuk membeli ulos nantinya. dan sudah sangat lebih dari harapan kami."


Kami terdiam karena penuturan dari Lisa, rasanya begitu bahagia melihat Lisa yang penuh ketenangan saat menjawab pertanyaan dari pak Esra.

__ADS_1


__ADS_2