
"las ni roha si baen nasaut, satahi salon (kesepakatan membuat hati yang tenang, untuk kita saling bersama.) itulah adat kita,
Sejak dulu permasalahan keluarga pak Iren dengan keluarga pak Tiur adalah permasalahan hutang Adat yang hanya disepakati oleh tiga pihak saja, dengan ini saya menyatakan sebagai raja Huta (pemangku adat) hutang Adat tetap dibayar jika mau bercerai, akan tetapi karena ada pihak yang dirugikan. maka hutang Adat dan denda Sinamot (Mahar) dibayarkan sesuai jumlah yang di terima.
Bapak-ibu sekalian, apakah setuju dengan keputusan yang saya buat?"
"setuju.........
Teriak para warga yang memenuhi Aula desa yang lumayan luas ini, aula desa ini juga di gunakan oleh pemerintah desa dan camat jika keperluan.
"Edak Mak Tiur, kami masih punya sepasang anak kerbau. dan jual lah sawah kalian itu demi membayar hutang Adat." ucap Nantulang Mak Saor.
"iya Itok Mak Tiur, kami baru panen padi dan kemarin itu kami jual Ternak. dan itu bisa sebagai tambahan membayar Mahar yang diterima.
Itok Mak Tiur, mahar Tiur kemarin hanya terpakai 50 juta Rupiah. kita balikkan saja sisanya." kata Tulang pak Tiur menyambung omongan istrinya.
"Mak... Tiur juga masih ada tambahan, dan mungkin bisa membuat acara adat untuk menghapus hutang Adat."
Mendengar perkataan dari kami bertiga, Mamak langsung berdiri dan menghampiri Bapak yang diam sedari tadi.
"pak Tiur, kemana sisa sinamot (mahar) itu?" tanya mamak ke Bapak.
"seratus lima puluh juta untuk biaya membangun tugu bapak dan Mamak, sisanya Ku berikan untuk di pinjam Itok (kakak) Mak Iren." jawab bapak dengan santai.
"Kau sama saja dengan Mamak mu dan kakak mu itu. oh..... Tuhan..... apa yang Kulakukan?
Hebat kau pak Tiur, Sinamot (mahar) Boru (Putri) sendiri kau buat untuk membangun kuburan mamak dan Bapak kau. tujuan apa pak Tiur?
Biar kau dan kakak mu itu terlihat Hebat? biar sama kayak Mamak kau?
Dimana pikiran Mu pak Tiur? kau lebih mementingkan ke-dua orang tua mu yang sudah mati itu ketimbang Boru (putri) sendiri."
ujar Mamak dengan menangis sejadi-jadinya dan melangkah ke arah kami.
"Edak kurang ajar, sok kayak kau setan. sok hebat kau setan. kau yang menghasut Itok (saudara laki-laki mu) mu itu untuk memakai mahar di Tiur untuk membangun tugu anjing keparat itu.
Kau itu benar-benar Iblis, jahat. mati kau setan, akan ku buat kau menyusul Mamak kau si mulut Jabir itu menyusul."
__ADS_1
Mamak menjambak rambut ibu mertuaku sampai tersungkur dan Mamak menyeret mertuaku dengan menjambak rambutnya.
"haaaaaaaa..... haaaaaaaa..... tolong...." teriak ibu mertuaku yang merasa kesakitan.
Sepertinya bang Andri mau menjatuhkan Mamak.
prak..... brassss..... ' kursi plastik yang aku duduki ku hantam kan ke kepala bang Andri hingga tersungkur.
Jidatnya kembali mengeluarkan darah, dan tetap kupukul dengan kursi plastik yang sudah pecah.
"Cukup..... hentikan....
Para warga akhirnya menenangkan Susana, bang Andri yang babak belur karena kupul menggunakan kursi di larikan ke puskesmas.
Penampilan ibu mertuaku persis seperti orang gila, sementara Aku dan Mamak dipeluk oleh Nantulang Mak Saor. kemudian bapak mendekati kami.
"kau keterlaluan Mak Tiur." ujar Bapak kepada Mamak.
"bela aja terus kakak kau anjing, dengan saya nyatakan untuk cerai. akan Kubayar sinamomot (mahar) yang kau kasih itu. dan mulai hari kau tinggal di kuburan mamak kau itu.
Bapak terlihat langsung lemas karena makian dari Mamak yang membuat hatinya hancur.
"pikiran baik-baik Mak Tiur, ini semua demi anak-anak kita."
"demi anak-anak kita kau bilang? kebahagiaan Boru (Putri mu) saja sudah ku rusak yang berimbas ke adek-adek Nya.
Bela aja terus kakak kau itu, sekalian kau jadi budaknya. karena kami ini bukan keluarga Mu. si mulut Jabir itu yang selalu kau banggakan."
"iya wajarlah wanita pembawa sial" sahut ibu mertuaku yang secara tiba-tiba nyolot.
Krek..... krasssss.... ' suara dari tubuh ibu mertuaku,
ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh
Mamak kembali menjambak rambut ibu mertuaku dan menyeretnya, si mulut jabir itu berteriak kesakitan.
Warga lainnya akhirnya melerai pertikaian itu dan memisahkan mereka berdua yang sedang bertikai.
__ADS_1
bapak mertuaku tidak berbuat apapun, Beliau hanya terdiam di tempat duduknya. wajahnya seperti tertekan.
"karena kondisi nya sudah tidak terkendali lagi, kita akhiri saja nanti kita buat kesepakatan bersama lagi.
Jika kita tetap meneruskan sidang adat ini, takut Nya ada korban jiwa yang berjatuhan. nanti kita buat jadwal dan tempat nya untuk sidang adat lagi.
Bapak-ibu, saya sebagai Pemangku adat memohon untuk bubar. nanti kita lanjutkan setelah keadaan agak membaik."
Kata Pemangku adat, satu persatu para warga meninggalkan Aula Desa. Tulang dan Nantulang Saor menuntut kami pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah tempat mandiri Ku ini, kami terduduk di ruang tamu dan Nantulang Mak Saor langsung pergi ke dapur.
Tidak berapa lama kemudian, Nantulang Mak Saor datang dengan membawa kopi empat gelas dan juga air minum dalam teko.
"kak Tiur yang sabar ya.... " ujar Saor yang sudah tiba di rumah ini.
Saor memelukku dan seketika itu juga air mataku mengalir di pipiku, pelukan hangat dari Saor mampu menenangkan hatiku yang tersayat ini.
Setelah agak tenang, Saor melepaskan pelukannya, tapi tatapan
"Saor masak dulu ya kak, biar ada untuk malam kita." kata Saor sambil berlalu menuju dapur yang di ikuti oleh Nantulang Mak Saor.
"hikz........ Itok pak Saor.... bagaimana ini?" ucap Mamak yang masih menangis.
"nanti aja Itok, kita bicarakan lagi dengan raja Huta (Pemangku adat) dan natua-tua Marga (para tetua perwakilan marga).
Pak Tiur sudah keterlaluan, dia lebih mementingkan kuburan dari keluarga Nya. selama ini sudah ku tahan-tahan, tapi karena menghargai mu Itok (kakakku) hingga ku urungkan niat Ku untuk membunuhnya."
Ucap Tulang pak Saor, dalam tradisi adat Batak di daerah kami. saudara laki-laki dari pihak mamak tidak boleh ikut campur dalam hal pernikahan saudara perempuan Nya.
Terkecuali Jika saudara perempuan mintak perlindungan kepada keluarga nya atau para saudara laki-laki Nya.
Berhubung kedua orang tua Mamak sudah meninggal dunia, maka tempat pengaduan Mamak jatuh kepada Tulang pak Saor, saudara laki-laki Nya.
Mamak dan Tulang pak Saor hanya dua bersaudara, dan Tulang ku sangat menyayangi Mamak.
Tulang pak Saor dan Bapak memang dari dulu sudah tidak akur, dan sepengetahuan ku itu gara-gara bapak yang terlalu membela keluarga Nya.
__ADS_1