
"apalah cita-cita mu dek Saor?" tanya Fernando tiba-tiba.
"cita-cita Saor bang, menjual hasil jahitan kak Tiur...."
"haaa.... maksud mu apa Saor? " Nantulang bertanya karena penasaran dengan jawaban Saor.
"gini loh Mak. Tiga Minggu yang lalu, Saor dan kawan-kawan mengikuti cerdas cermat matematika di ibukota kabupaten.
Disitu Saor lihat ada pabrik tenun yang memproduksi ulos, songket, bakal berbagai jenis, dan juga kain sarung.
Jadi, Soar sudah bertanya kepada bagian admin Nya, katanya kita bisa sebagai penyalur alias tenaga pemasaran tanpa modal dan kontrak kerja asal jelas pasar Nya.
Jika usaha menjahit kak Tiur sudah besar, Saor ingin memasok bahan nya ke kak Tiur dan Saor ingin buka butik untuk menjual hasil karya kak Tiur serta dari pabrik tenun yang ada ibukota kabupaten itu.
Kak Tiur.... cocok kakak rasa?"
"cocok..... tapi setelah Saor tamat sekolah. ngomong-ngomong Saor ngak mau kuliah?"
"ngak kak, ngak sampai otak Saor untuk Kuliah. yang di pikiranku saat ini, uang dan uang."
"uhmmm pantasan uang bapak selalu hilang dari bawah bantal ya."
"upss ketahuan deh..."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Tertawa lagi, pantasan aja oppung Boru Ruth. memanggil Saor dengan sebutan si mentel. sikapnya dan cara bicaranya sangat mentel tapi idenya bagus juga.
"bapak setuju, nanti bapak gadaikan semua sawah dan kebun kita untuk modal Saor, tapi Saor yang bayar cicilan nya ke Bank."
"yoii..... nanti Abang gadaikan SK Abang juga untuk nambah modalnya. untuk sementara ini Abang tabung dulu."
Cie....... " ujar Lisa mengejek Fernando.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Seolah-olah di dalam keluarga ini tidak ada masalah, kami tertawa dengan begitu bahagia Nya. suasana ini yang selalu ku rindukan.
"Bang Nando.... liburanNya berapa hari?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Saor langsung membuat raut wajah Fernando terlihat sedih, begitu juga dengan Rifan dan Lisa.
"Abang hanya dapat ijin dua hari dek." jawab Fernando dengan lemas.
"kak Lisa dan bang Rifan gimana?" tanya Saor lagi.
"cuman dua hari juga, satu hari off dan satu hari lagi kakak pinjam dari off teman kakak. ini rencananya nanti sore mau pulang.
jatah libur panjang sudah ku mintak tahun baru ini, jadi tidak mungkin bisa ambil libur panjang lagi." ujar Lisa dengan lemas.
"iya... Rifan juga cuman dapat cuti 2 hari, nanti Sore rencananya mau balik lagi. karena bulan depan, mudah-mudahan tidak halangan. Rifan akan di tempatkan di Medan."
Ketiga Adikku itu langsung ku peluk, untuk memberikan mereka semangat lagi. biasanya juga kami berusaha untuk bisa bertemu di saat tahun baru.
Memang bertemu dengan adik-adik Ku, adalah keinginan Ku dan juga kebahagiaan bagiKu juga. tapi bukan Bertemu karena ada masalah. saya ingin bertemu di saat-saat bahagia saja.
"Saor ikut ah berpelukan..... mari berpelukan.."
Ujar Saor sambil memeluk kami, terdengar suara tertawa dari Mamak, serta kedua orang tua Saor.
"ya sudah, biar Saor aja yang masak. tadi kami sudah bawa ayam jago dua ekor, bang Nando... potong ayam ya, biar Saor siapkan bumbunya."
"si Abang.... sepele kali sama adek ah, Abang ngak tahu ya kalau Nantulang Abang itu selalu teriak di rumah jika adek ngak masak?"
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Lagi-lagi kami tertawa, terlihat Nantulang Mak Saor hanya tersipu malu.
"bukan maksud Nantulang kasar, memasak bukan keharusan bagi perempuan saja. akan tetapi akan menjadi nilai plus bagi seorang perempuan yang bisa masak.
Nantulang sebagai Mamak dari pariban ini, memang berharap punya Menantu yang mapan, agar bisa menyewa orang untuk melayani Saor kelak nantinya.
tapi itu kan harapan, kita tidak tahu ke depan bagaimana. syukur kalau Saor bisa menikah dengan bang Nando atau bang Rifan, ya jelas seorang tentara dan dan bang Rifan polisi. setidaknya ada kepastian akan pekerjaan.
Seorang istri harus memberikan makanan yang layak untuk keluarga Nya, itulah sebabnya Soar Nantulang didik dengan baik."
"sudah paten itu Nantulang, cocok sudah, tinggal nunggu waktu saja." ujar Fernando menanggapi perkataan dari nantulang.
"ah.... si Abang ah......."
__ADS_1
"ih ...... mentel kali kau Soar.......
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami tertawa karena sanggahan dari Lisa, memang Saor terlihat begitu centil.
Ngak habis pikir, Saor dan Fernando biasanya selalu berantam setiap kali bertemu. tapi ujung-ujungnya akrab lagi.
Baru saja saling mengejek, tapi terakhirnya saling menyatakan cinta. bahkan kedua belah pihak sepakat pulak.
Itulah namanya cintanya, kita tidak tahu kapan cinta itu akan tumbuh. Aku berharap bang Andri bisa mencintai ku sepenuhnya dan tidak bergantung kepada Mamaknya.
Lisa dan Saor yang masak, sementara kami ngobrol di ruang tengah ini. sedikit kebahagiaan karena Mamak sudah mulai tenang dan wajahnya berangsur segar kembali.
"mengenai pernikahan kakak, selanjutnya bagaimana kak?" tanya Rifan di sela-sela obrolan kami.
"Seperti yang kakak Sampai kan, kalau kakak memberikan kesempatan ketiga buat suami kakak. pernyataan dan perjanjian juga sudah buat dihadapan Pemangku Adat, Kepala Desa, Kepala lingkungan, Natua-tua Marga, di hadapan Tulang dan Nantulang Saor serta tetangga.
Mertua kakak juga ikut tanda tangan, dan sebagai antisipasi. kakak sudah membuat pemisahan penghasilan, semua hasil kerja kakak kelak nanti adalah milik kakak.
dan jelas-jelas juga kakak buat, kalau rumah yang kami tempati adalah rumah Tulang pak Saor, tujuannya agar tidak di ganggu gugat oleh keluarga mertua.
Rifan dan Nando tenang saja ya, kakak mu wanita yang kuat. kakak sudah belajar dari pengalaman Mamak. dan ini kesempatan terakhir bang Andri."
"dari dulu sampai sekarang Rifan sangat mengandalkan kedua kakakku, terutama kak Tiur. kak.... terimakasih atas semua kasih sayang kakak ke kami adik-adik Mu ini.
Kak... sebentar lagi Rifan akan berada di Medan, jadi kalau masalah lagi segera telpon Rifan ya.
Nantinya sama Rifan aja bahas nya mengenai keluarga kita ini. untuk Fernando dan kak Lisa, terutama untuk adek Fernando, biar lebih fokus menjalani pelatihan agar cepat naik pangkat. kalau sudah naik pangkat tentunya gaji naik dan akan gampang untuk mengumpulkan sinamot."
Ujar Rifan seraya tersenyum lebar ke arah Fernando, yang seolah-olah mengejeknya.
Makan siang sudah tersaji, dan kami semua berkumpul untuk makan siang. begitu nikmat dan bahagia Nya. masakan Lisa dan Saor sangat begitu nikmat.
Selesai makan siang, ketiga adik-adik Ku sudah beres-beres. dan tanpa terasa hari sudah petang, dan tibalah saatnya adik-adik Ku akan berangkat ke tempatnya masing-masing.
Air mata Ku tahan, Sebagai kakak harus tegar. aku tidak mau mereka kepikiran akan semua masalah Ku, ternyata Mamak juga melakukan hal yang sama.
Kalau mamak sih ahli dalam menyembunyikan kesedihannya dan penderitaan Nya, sudah bertahun-tahun Mamak melakukannya.
__ADS_1