MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Mari Bangkit.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sudah ada kabar yang menghebohkan, Pemangku Adat bersama rombongan Nya terlihat melangkah cepat menuju rumah mertuaku.


Karena penasaran kami yang di rumah mengikuti Pemangku Adat yang terlihat buru-buru berjalan dan sampailah kami di halaman rumah mertua Ku.


Tiga orang Polisi datang bersama satu bapak kandung nya Inang Uda Mak Simson dan Tulangnya (paman) Simson.


"mohon maaf Bapak-bapak, saya pemangku adat Disini. apa yang terjadi? kenapa bapak-bapak polisi bisa ada disini?"


"begini Amang Raja Huta (pemangku adat), Boru (putriku) habis di tipu oleh suami Nya, Suami dari Boru Ku mengirimkan uang kalau di total jumlahnya mencapai 210 juta Rupiah. dan saya ingin menentuku ini mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Saya tahu aturan adat di kampung ini Amang Raja Huta, menurut data administrasi suami dari Boru Ku ini bukan warga sini lagi. itulah sebabnya saya tidak mintak Ijin ke amang raja Huta.


saya beranggapan kalau Suami Boru ku ini, kabur kemari dan saya kejar. saya tidak ikhlas boru ku di perbudak oleh Pria sampah ini."


"terimakasih atas penjelasannya, ya Benar pria itu tidak menjadi warga Adat kami lagi. jadi silahkan dibawa." jawab pemangku adat dengan tegas.


Ibu mertuaku menangis sejadi-jadinya, dan satu persatu meninggalkan drama keluarga Mertuaku.


Sesampai di rumah, Saor dan Ningsih langsung masak di dapur dan Nantulang Mak Saor pulang ke rumah Nya untuk membantu suaminya mengurus Ternak.


Mamak mengurus Ternak dan aku berkebun, karena berkebun itu tidak terlalu menyita banyak tenaga.


semuanya sudah selesai, kami tinggal menunggu Tulang dan Nantulang Mak Saor untuk sarapan bersama dan tidak berapa lama mereka sudah tiba di meja makan ini.


Selesai makan Saor dan Ningsih mengajakku untuk belanja di pekan raya untuk membeli bahan-bahan kue.**


Bahan-bahan kue sudah tertata rapi, Saor dan Ningsih langsung beraksi. mereka berdua menyuruhku istrihat saja di ruang tamu.


Mamak sudah pergi ke kebunnya Tulang Pak Saor dan tinggal lah kami bertiga di rumah ini.


drt..... drrt..... drrt..... drrrt.....


Handphone ku berdering dan kulihat Lisa Adikku yang menghubungi.


"halo Kak....


"halo dek, apa kabar....


Panjang lebar kami ngobrol, tapi intinya adalah Lisa menawarkan tanah di Medan, yang lebih tepatnya masih di kabupaten Deli Serdang.

__ADS_1


Tanah seluas 3.600 meter persegi, dengan rumah tinggal sederhana dan sudah bersertifikat. Tanah di sepakati seharga 550 juta.


Saya teringat uang deposito yang bulan ini akan jatuh tempo, mungkin ada sekitar segitu. dan ternyata Lisa sudah memanjar nya 20 juta Rupiah kepada pemilik tanah.


Mamak dan Tulang pak Saor langsung ku mintak untuk pulang ke rumah ini untuk membicarakan hal tersebut.


Tidak berapa lama, Mamak, Tulang dan Nantulang Mak Saor sudah tiba di ruang tamu ini dan Saor Sama Ningsih istrihat sejenak setelah membuat dua jenis kue kering.


Setelah aku ceritakan semuanya, terlihat niatku di restui.


"setelah cerai nanti saya ingin pindah ke Medan dan mulai hidup baru di sana, dan ingin semua keluarga yang ku cinta ikut bersama ku disana."


"terus gimana dengan jahitan disini Bere?" tanya Nantulang Mak Saor.


"jika mau ikut bersama Tiur, akan ku berikan yang terbaik."


"Ningsih dan bou ikut kakak." ujar Ningsih dengan semangat dan Mamak hanya mengangguk.


"Saor Juga, Karena bentar lagi Saor akan tamat sekolah dan mulai Usaha di dekat kakak nanti."


"okey....... Tulang paham... sekarang apa rencana mu Bere untuk kedepannya?"


Nantinya uang cash yang ada sekarang akan ku buat untuk memulai yang baru, nanti Tiur rencananya akan pinjam ke Bank untuk tambahan modal usaha, Tiur ingin memperbesar usaha menjahit seperti tempat kerjaku yang Jawa sana.


Jika teman-teman yang lainnya ikut, Tiur tidak susah untuk mencari yang Ahli dalam mengikuti mode lagi."


"dan Saor akan menjadi penjual hasil produk kakak."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Masih sempat Nya lah kami tertawa dan itu karena tingkah nya Saor yang lucu.


"gini aja, Itok Ku. jual lah nanti sawah dan Kebun mu itu. buatlah itu dulu modal Tiur. dan Tulang nanti akan menjual rumah ini untuk modal mu.


tapi setelah itu bantu nanti adik mu ini, untuk membuka usahanya nanti. Tulang juga ngak Yakin kalau Saor bisa hidup di kampung ini.


Jika memang nanti yang lainnya mau ikut, perhatikan juga tempat tinggalnya. buat yang layak ya."


"pastinya Tulang."

__ADS_1


"kalau begitu hubungi adik Mu, kapan kalian bisa penandatanganan jual belinya. Tulang dan Nantulang ini siap mendukung."


uhmmm.........


Lega rasanya saat ide Ku mendapatkan sambutan yang baik, dan mudah-mudahan bisa berjalan dengan lancar.


BBM-an sama Lisa, dan Adikku memberitahu kalau penandatanganan bisa di lakukan sehabis tahun baru, Karena sertifikat tanah dibuat untuk balik nama waris terlebih dahulu.


Ku panggil semua teman-teman Ku untuk berkumpul dan membicarakan tentang hal ini. tidak berapa lama kami sudah berkumpul.


Makan siang terlebih dahulu, selesai makan siang kami ngopi bersama dan perlahan ku utarakan semua keinginan Ku.


Mereka setuju, tapi harus bicara dulu dengan keluarganya masing-masing dan apapun hasilnya akan saya terima.


Setidaknya saya sudah dapat dukungan dari Keluarga sendiri dan juga dari kedua calon adik Iparku.


Saya meminta kepada mereka semua untuk tidak cerita kepada siapapun tentang rencanaku ini.


Semuanya sudah pulang, tinggallah kami bertiga di rumah ini.


"Tiur.... kemarin sudah mau membeli Kebun dan sawah kita. nanti Mamak tawar kan lagi, nantinya Mamak akan bilang untuk membeli rumah ini dan merenovasi Nya serta membuat Usaha mu semakin besar."


Ku peluk Mamak dengan erat dan tanpa terasa air mata Ku menetes di Pipiku, Ningsih ku raih dan akhirnya kami berpelukan dengan erat dan haru.


Tanpa terasa hari sudah petang, dan waktu beres-beres. setelah selesai makan Malam, Mamak hendak pergi ke salah rumah warga untuk latihan koor.


Tinggal lah kami berdua di rumah ini dan Langsung mengunci pintu, karena kami tidak ingin di ganggu siapapun.


tok..... tok..... tok....


Dek.... buka dek.... ni Abang dek.....


itu Suara bang Andri dan Ningsih langsung mengintip keluar lalu berjalan pelan ke arahku lagi.


"kak.... suami kakak dan Mamak Nya, serta Amang Boru kak." ujar Tiur dengan pelan.


Langsung ku telpon Mamak, Karena sudah tahu maksud dan tujuan mereka datang kemari.


"dek.... di rumah rupanya Kalian!' ujar bang Andri yang sudah masuk dalam rumah.

__ADS_1


Saya Lupa kalau bang Andri mempunyai cadangan kunci rumah ini.


__ADS_2