
POV Rohani (Mak Iren).**
"Kenapa sekarang semuanya jadi berantakan ya? seharusnya aku bisa hidup tenang. Dona kurang itu penyebab Nya. ini lagi Bapaknya anak-anak, betah kali dia di kebun sana? harus ku jumpai dulu dia, masa ngak ada tanggungjawab sedikit pun."
Ujar Rohani, yaitu Mamaknya Iren. dengan jalan kaki dia menjumpai Suami nya ke ke Kebun kopi si Maremare.
Butuh waktu satu jam jalan kaki, akhirnya Mak Iren sampai di kebun kopinya.
"pak Iren..... oh pak Iren...." teriaknya memanggil suaminya dari gubuk itu.
Pak Iren kemudian muncul dari antara kebun Kopi itu sembari membawa ikan sungai hasil tangkapan Nya dan sayur hutan yang di tumbuh di pinggir sungai.
"ngapain kamu datang kemari?" tanpa Suami dengan ekspresi wajah datarnya.
"pak Iren.... kamu sudah tahu kalau Andri sudah Cerai?"
"bagus lah kalau mereka berdua akhirnya cerai, kasihan Tiur. punya suami yang tidak berguna dan manja." sanggah Suami nya dengan ekspresi datar.
"kok gitu ngomong sama anaknya sendiri, Andri anak laki-laki mu loh, penerus marga mu."
"iya apa gunanya punya anak laki-laki Manja, tahu nya hanya berlindung dibawah ketiak Mamaknya.
"pak Iren... jangan keterlaluan gitu ngomong Nya. anak kita Lagi stres berat itu, di gugat cerai sama istrinya dan di pecat dari pekerjaan Nya." sanggah Mak Iren yang tetap membela Andri di hadapan suaminya.
"ya sudah, harus berbuat apa lagi. nikmati aja, nasi sudah jadi bubur. sekarang Andri harus berpikir cara membuat bubur ini agar bisa layak di makan lagi.
Andri harus bisa berpikir dengan baik, dia itu laki-laki yang sudah dewasa.
Mak Iren.... sudah pernah ku peringatkan, jangan mencampuri urusan pernikahan anak. jangan samakan cara Mu berkeluarga dengan cara anak kita berkeluarga.
Jika anak mu sudah menikah, itu artinya kamu harus melepaskannya. jangan egois, dan lihatlah semuanya jadi berantakan seperti ini dan kita yang malu.
Saya yakin, Andri tidak tahu jenis kelamin Anaknya, demikian juga dengan mu kan?"
__ADS_1
"mangnya pak Iren tahu apa jenis kelamin Cucu kita?" sanggah Mak Iren dengan raut wajahnya yang penasaran.
"Cucu kita lak-laki, lahir sehat dan sempurna. alis, mata, hidung dan wajahnya. sangat persis seperti Andri."
"kok pak Iren tahu?"
"Sebelum Tiur pergi dari kampung ini, mereka menemui Ku disini. tapi sayang, Andri sudah menyangkal bayi yang baru lahir itu sebagai anaknya.
Namanya Elazer Jonathan, Mereka permisi dariKu untuk memulai hidup baru di tempat yang baru. saya tidak bisa menahannya, sudah cukup menderita baginya. bahkan saya tidak punya hak untuk memanggilnya Cucu, karena Andri sudah menyangkalnya.
Tapi saya Akui ketabahan dan kesabaran hati Tiur, walaupun Elazer di sangkal Bapaknya. tapi Tiur masih memperkenalkan nya kepadaKu.
S...e....b.... e....narnya saya tidak sanggup untuk mencium dan menggendong Elazer, tapi harus...
Tiur bersikukuh kalau Elazer harus ku peluk dan kucium sebelum memulai hidup baru. semoga mereka berdua mendapatkan kebahagiaan setelah semua penderitaan yang Tiur hadapi selama ini.
Tiur wanita, istri dan ibu yang hebat. saya yakin kalau Andri tidak akan menemukan wanita sehebat Tiur."
Penuturan dari bapak Iren membuat istrinya terdiam, terlihat pria yang sudah paru baya itu menyeka Air matanya berkali-kali saat menceritakan tentang Tiur dan cucunya yang telah disangkal oleh anaknya.
Saya gagal menjadi suami, saya gagal sebagai Bapak, dan saya juga gagal sebagai oppung Doli.
Saya gagal sebagai Suami dan juga gagal sebagai Bapak. enam orang putriku Pergi meninggal ku, seharusnya ke Enam putriku ku Ayomi dan sudah seharusnya aku mengantarkan nya ke altar pernikahan.
Saya terlalu bodoh, naif dan berguna bagi putriku sendiri. seharusnya saya sebagai Bapak nya sebagai tempat pengaduan untuk mereka.
Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku ingin bersama mereka. tapi ya sudahlah, semuanya hanya lah tinggal Penyesalan yang tiada berarti.
Surat dari Uli ini, yang diberikan kepada Tiur mengoyak isi Hatiku." ujar Bapaknya Iren sembari memberikan surat dari Uli.
"benar kan dugaan Ku, kalau Tiur yang menyuruh Uli kabur!." ujar Mak Iren
Suaminya itu menatap wajahnya dengan penuh kekecewaan dan derai air matanya.
__ADS_1
"kamu yang salah Mak Iren, semua karena kamu. saya tidak pernah bisa membela putri-putri Ku Karena tekanan dari Mamak Mu yang sok hebat itu.
Kamu baca dulu isi suratnya, dan renungkan apa salah mu."
"okey.... terlepas dari ini semuanya, bagaimana caranya kita membayar semua hutang-hutang ini? dan bagaimana nasibnya Andri?"
"ngak tahu, pokoknya kebun kopi ini jangan kau jual, kebun Kopi ini adalah pemberian dari kedua orangtuaku. silahkan jual pemberian orang tua Mu.
Saya ngak perduli lagi, toh juga selama ini kau tidak pernah mendengar perkataan Ku. kamu selalu bertindak sendirian dan berbuat sesuka Mu.
Andri belum bercerai dengan Istrinya, tapi kamu sudah heboh menjodohkan Andri dengan perempuan itu. berharap kamu bisa meraup keuntungan yang lebih Besar dengan status dari perempuan itu.
Tapi nyata malah jadi bumerang buat mu dan si Andri, ingat semua perbuatan pasti ada balasannya. sekarang saya sudah mendapatkan balasannya, semua Putri Ku, pergi meninggalkan Ku. dan Aku merasa tersingkirkan dari kehidupan sosial masyarakat.
Bahkan untuk membeli kebutuhan pokok, saya harus sembunyi-sembunyi karena sangat malu."
Ucap Pak Iren yang lagi-lagi menyeka air matanya, raut wajahnya tersembunyi Begitu banyak tekanan batin.
"Mak Iren.... cuman satu permintaan, saya ingin sekali saja membelikan dress atau baju untuk ke enam Putri ku. atau pun satu gram saja emas perhiasan untuk mereka.
Saya ingin mintak maaf kepada putri-putri Ku, karena saya gagal menjadi bapak mereka.
Mak Iren..... jika tidak ada yang mau kau bicarakan, silahkan pulang. urus saja Anak mu itu."
"pak Iren..... Gabe kemana? sejak Andri cerai, Gabe tidak pernah pulang ke rumah!"
"Gabe malu kerja di Gereja, dia tidak tahan akan omongan orang. Gabe sudah pergi merantau, tapi syukurnya Gabe tidak membenciku.
Gabe pergi merantau dengan Restu Ku, semoga Gabe bisa meraih hidup yang bahagia di tanah rantau sana."
"kenapa kamu ngak nahan si Gabe? cuman dia yang bisa ku harapkan, walaupun gajinya kecil tapi itu bisa memenuhi kebutuhan rumah."
"itulah Egois mu Mak Iren, Gabe seharusnya mendapatkan perhatian dari kamu, bukannya kau jadikan sebagai sapi perah mu lagi.
__ADS_1
sebaiknya kau pulang sebelum pembuluh darah Ku pecah ngomong sama kau."
Mak Iren pergi dengan rasa kecewanya yang begitu besar, dukungan yang di harapkan dari Suami sebagai penguatnya tapi malah cerita sedih yang didapatkan Nya.