
"oppung Raja Huta, Rifan ngak tahan mendengar makian dan hinaan si setan terhadap kakak Ku.
Makanya ku pecah kan bibirnya, agar tidak selalu menghina kakak Ku. sakit hati Ku mendengar hinaan Nya kepada kakak ku dan Mamak ku oppung.
Rifan dan Adek tadi ngopi di warung Mak Simon, tiba-tiba saja keparat ini menghampiri kami dan memaki-maki kakak dan Mamak.
Siapa yang tidak emosi mendengar keluarga kita di maki-maki oleh orang lain oppung."
ucap Rifan yang berusaha mengendalikan emosi Nya yang telah memuncak, Andri yang mulutnya penuh darah terduduk di tanah.
"Andri..... Andri..... Polisi dan tentara kau senggol, untung kau masih hidup. ya sudah kita ke balai Desa aja."
Elazer yang masih tertidur ku gendong dan kubawa ke balai Desa bersama yang lainnya dan kami semua sudah berkumpul di balai desa atau aula Desa.
Andri, Rifan dan Fernando sudah duduk di hadapan kami. tidak berapa lama Pak Kades dan pak Kepling menghampiri kami.
"amang raja Huta, sebenarnya saya malas untuk berhadapan dengan Andri dan keluarganya. tapi ini sudah tanggungjawab sebagai Kades.
Amang Raja Huta, saya mintak sekali lagi. tolong adili dan beri nasihat kepada Andri, Mohon maaf saya ada urusan di kantor Camat, jadi saya harus amang Raja Huta."
Ucap pak Kades dan kemudian berlalu bersama pak Kepling. terlihat Pemangku Adat menarik napas dalam-dalam dan menepuk jidatnya.
"Rifan... cerita kan kronologi Nya dihadapan kami semua." ujar Pemangku Adat.
"begini Oppung Raja Huta, Rifan dan Adek lagi ngopi di warung Bou Mak Simon dengan teman-teman yang lain.
Tiba-tiba saja si keparat ini datang dan memaki-maki kakak Ku dan Mamak, saya geram melihat nya dan akhirnya ku pecah kan ke-dua bibirnya.
Tapi si keparat ini tetap memaki-maki kakak ku dan Mamak hingga akhirnya kami kejar-kejaran. kalau bukan karena teman-teman Ku dan Adek, sudah ku dor kepala si keparat ini oppung."
"terimakasih Rifan, karena kamu masih bisa mengontrol emosi Mu.
Andri.... apalagi yang mau kau jelaskan?"
"si anjing ini duluan yang memakai Mamak ku oppung."
__ADS_1
"huuuuu...... huuuuu....."
"pengecut kau, kau yang datang dan berteriak serta memaki-maki kakak nya Rifan serta Namboru Mak Rifan.
heran Aku lihat kau, Begitu banyak saksi melihat perbuatan mu. tapi kau masih sanggup untuk berbohong, ngak manusia kau kurasa." ujar Alex, teman masa kecilnya Rifan.
"ya benar kata Alex oppung, tadi kami ngobrol baik-baik di warungnya Nantulang Mak Simon.
Si lappet itu datang tiba-tiba dan memaki-maki kak Tiur serta Mak Tua, ngak ada angin ngak ada hujan. tiba-tiba dia datang seperti orang gila.
Kurasa sudah gila si Andri ni oppung Raja Huta, sudah cocok itu di pasung di kandang babi kami." Timpal Ridwan yang juga teman masa kecilnya Rifan.
"benar itu oppung, tadi kami asyik ngobrol tentang kehidupan Polisi dan Tentara. dan bagaimana caranya menjadi Polisi dan Tentara. tidak sedikitpun kami membahas keluarga Nya oppung.
Kami juga menerima undangan dari Lisa, sisa nya kami ngobrol tentang Polisi dan Tentara. kami kagum terhadap Rifan dan Adek Nya.
Sumpah demi apapun Oppung, kami ngak ada membahas mengenai keluarga Nya. oppung bisa bertanya kepada Mamak Ku dan Tulang pak Leo, Amang Boru Dison dan semua yang ada Disini lah.
Semua kami yang duduk di barisan bangku tadi berada di warung Mamak, untuk mendengarkan pengalaman hidup Rifan sebagai Polisi dan pengalaman hidup Fernando sebagai tentara.
Kata Simon dengan raut wajahnya yang kesal dan marah.
"benar itu Amang Raja Huta, Rifan dan Fernando kan perantau yang sukses dalam pikiran kami.
itulah sebabnya kami ingin mendengar pengalaman mereka berdua. Jujur Amang Raja Huta, tadi juga ingin ku tepuk kan kepalanya si Andri.
lagi asyik-asyiknya kami ngobrol, saya sebagai seorang Bapak sangat antusias mendengarkan cerita Rifan dan Fernando. berharap semoga Anak ku bisa menjadi Polisi atau tentara.
lagi asyik menghayal punya anak seperti Rifan dan Fernando, eh..... datang pengacau... untung Nya tadi bere Ku si Simon menahan Ku, kalau ngak sudah mau gorok leher si Andri."
Ucap Bapak Leo yang terlihat sangat kesal, mungkin karena acara rumpi nya di gagalkan oleh Andri.
"bapak Leo, berapa orang tadi kalian di warung Mak Simon?"
"mungkin ada lah kami sekitar Lima belas orang, itu belum termasuk ito Mak Simon dan Lae pak Simon." jawab bapak Lae yang masih terlihat kesal.
__ADS_1
"Andri telah mengganggu ketentraman warga kampung, dengan ini saya Raja Huta, menetapkan Denda kepada Andri terhadap 20 orang serta kepada Tiur dan Inang Mak Tiur, sehingga totalnya 22 orang. dengan masing-masing Denda Nya 2 pasang babi siap kawin dan dan 3 kaleng padi.
Andri harus membayar Nya, dalam tempo waktu 3 hari dari sekarang. jika Andri tidak membayar denda Nya, maka kau Andri harus bersiap-siap pergi dari kampung ini.
Bapak-ibu, Apakah setuju dengan pernyataan saya?"
"setuju...... setuju.....setuju.....
Dengan kompaknya semua yang hadir di Aula desa ini menjawab setuju.
"oppung Raja Huta, saya ingin memberikan dendanya ke kas Adat. karena saya tidak Sudi menerima apapun dari si keparat ini.
"sama oppung, Nando juga menyerahkan denda Nya ke kas Adat aja." timpal Fernando yang menyambung omongan abangnya.
hanya kami yang menyerahkan denda adatnya ke kas Adat, karena tidak Sudi menerima apapun dari Andri.
(**denda adat 2 pasang babi, yang artinya 4 ekor babi. dengan per ekornya seberat 40 kg dan tidak boleh kurang.
1 kg babi di hargai 30 ribu karena hari biasa, jika di kalikan 40 kg x 4\= 80 kg
80 kg x Rp. 30.000\= Rp. 2.400.000/orang.
22 orang x Rp. 2.400.000\= Rp. 52.800.000.
Belum lagi padi, yang menjadi dendanya. jika tidak punya ternak babi dan padi maka akan dibayar dalam bentuk uang tunai**).
Uang segitu banyaknya harus terbuang sia-sia hanya karena tidak bisa menjaga lisannya.
Bagaimana nantinya jika anakku di asuh Andri dan Mamaknya, hancur masa depan Anakku.
Mulut dan hidungnya bercucuran darah, dan harus menanggung beban moral karena akan menjadi bahan olok-olokan warga. ditambah lagi harus membayar denda adat yang sangat besar jumlahnya.
Nasib mu Elazer... nasib mu punya Bapak yang sudah gila.
Semoga Anakku tidak jatuh mental Nya saat mengetahui kalau Bapak nya gila.
__ADS_1
Akhirnya Sidang Adat selesai dan perlahan-lahan kami meninggalkan Aula Desa dengan merasa puas atas kebijakan dari pemangku Adat.