MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Penuturan Bang Bastian.


__ADS_3

Amangboru pak Iren akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Bastian dengan tatapan haru.


Amangboru pak Iren kemudian meraih tangan Ku dan menyatukannya dengan tangan Bastian, Air matanya yang mengalir tepatnya diatas tangan Bastian yang akhirnya mengalir ke telapak tangan Ku.


"Mak Elazer, berkat hati mu yang tulus dan cinta kasih mu. akhirnya kamu di pertemuan dengan cinta yang sebenarnya.


Berbahagialah kalian berdua sampai maut yang memisahkan. semoga Tuhan selalu menyertai dan memberkati kehidupan keluarga kalian kelak Nantinya."


'Amin.....'


Dengan serentak kami berkata Amin dan amangboru pak Iren memeluk berdua dengan begitu haru nya.


Amangboru pak Iren sudah kembali ke tempat duduknya, bapak kemudian menyuruhKu untuk duduk kembali di samping mamak demikian bapak Uda Bastian kembali menyuruh Bastian untuk duduk di samping nya.


"dalam minggu ini undangan pasti selesai, dan kita nantinya sama menyebar undangan tersebut.


Sekarang tanggal berapa acara Martuppol (pertunangan) dan pesta adat pernikahan nya dilaksanakan?"


Pertanyaan dari bapak Uda Bastian, didiskusikan langsung. dan tiba akhirnya tanggal untuk Martuppol dan pernikahan sudah disepakati.


Dua Minggu dari sekarang tepatnya hari Sabtu, akan diadakan acara Martuppol dan dua Minggu kemudian baru pesta pernikahan.


Saya seperti mimpi di siang bolong, tidak ku sangka kalau Bastian akan secepat ini melamar Ku.


Bahagia bercampur haru menjadi satu, dan sangat sulit untuk di ekspresikan. senyuman dari Bastian membuat semakin melayang.


Akhirnya acara marhori-hori dingding ( memperjelas hubungan kedua pihak calon pengantin atau lebih tepatnya melamar) telah berakhir, keluarga Bastian sudah akhirnya sudah pulang.**


Pagi jam 8 aku sudah bersiap-siap, Elazer nantinya aku titipkan ke mamak. setelah selesai sarapan, terlebih dahulu ke lapak untuk memberikan arahan kepada pegawai.


Sudah jam 11 siang, setelah memberikan Elazer makan dan minum susu formula. aku bersama Bastian kami pergi jalan-jalan dekat daerah sini.


Bastian mengajakku untuk memilih secara langsung cincin pernikahan, setelah selesai memilih memilih cincin pernikahan dan kami lanjut ke restoran di persimpangan jalan itu.

__ADS_1


"Abang bahagia rasanya setelah adek menerima cinta Abang." ujar Bastian setelah kami memesan makanan dan minuman, kemudian Bastian tersenyum manis.


"adek juga bahagia bang, tidak ku sangka kalau abang akan melamar secepat ini, ngomong-ngomong Abang ngak nanya kenapa mantan mertua Ku ada di rumah?"


"Abang sudah tahu dari Tunggane Rifan. Tunggane sudah cerita semuanya, Abang terlebih dahulu mintak ijin ke Tunggane Rifan kemudian melalui telepon ijin ke Tunggane Fernando.


(Tunggane atau biasanya di singkat gane, adalah panggilan kepada Abang ipar atau adek ipar, dan juga panggilan kepada Sepupu laki-laki dari pihak Bapak.* tradisi Batak Toba)


Tunggane Rifan sudah cerita semuanya, bahkan si mantan suami mu yang kabarnya mau gugat lagi di ceritakan oleh gane Rifan.


Abang tidak membiarkan kamu menghadapi si gila, Abang yang selanjutnya akan berhadapan dengannya.


Mengenai mantan bapak mertua mu, Abang ngak keberatan. biar bagaimanapun pun juga beliau adalah keluarga Mu.


Oppung Doli dari Elazer anak pertama kita, seperti penuturan Uda itu. kamu adalah wanita yang berhati lembut dan penuh kasih sayang.


(**dalam tradisi Batak Toba, nama seseorang di panggil dengan sebutan nama anak pertama Nya, dan jika sudah punya cucu maka cucu pertamanya yang menjadi nama panggilan.


dalam tradisi, nama panggilan bagi yang sudah punya cucu, itu harus dari anak laki-laki, jika belum punya cucu dari laki-laki, maka akan diambil dari Cucu dari anak perempuan dan nantinya akan di ganti jika cucu dari anaknya laki-laki sudah lahir**).


Semuanya sudah takdir sayang, kita berdua bisa makan disini juga karena takdir cinta yang membawa kita.


Sayang, niat yang baik akan berbuah kebaikan. cinta, kasih sayang mu yang tulus, yang mampu membuat ku tidak bisa berlalu dari mu.


Abang akan terus berjuang demi kebahagiaan kita bersama, karena Abang sangat mencintaimu dan menyayangi mu. begitu juga dengan Elazer.


Kamu jangan pergi lagi dari hidup ku, kamulah satu-satunya yang menghuni hati ini."


Bastian mencium kedua punggung tanganKu, penuturan dari Bastian akan pengakuan hari membuat terlena dalam cinta yang dalam.


Bang Bastian sedari dulu memang romantis dan sangat perhatian, itulah yang membuat ku jatuh hati kepadanya dan di dukung oleh paras tampan nya.


Makan dan minum sudah tersaji di depan kami, setelah berdoa yang dipimpin oleh bang Bastian. kami mulai menyantap makanan dan minuman.

__ADS_1


Semuanya terasa nikmat makan siang bersama dengan pria yang sangat ku cintai, dialah Bastian cintaku yang dulu tertinggal.


Selesai makan kami lanjut ke toko sepatu, untuk memilih sepatu untukku dan kemudian untuk bang Bastian.


Belanjaan sudah full di tangan dan akhirnya kami putuskan untuk pulang.


Hanya butuh waktu 30 menit karena agak macet, bang Bastian membuka pintu mobilnya untuk Ku. aku seorang putri yang baru turun dari kereta kencana.


Belanjaan di tanganku aku lepas, dan memeluk bang Bastian. pelukan ku berbalas.


"terimakasih untuk hari ini ya bang, jangan melalak ( keluyuran) lagi ya" * dialog Medan


"iya sayang."


Hanya itu yang di ucapkanya, dan akhirnya pelukan kami berakhir karena mamak menghampiri kami.


"mang, mulai hari ini kalian berdua tidak bisa kemana-mana ya, tadi kami sudah bertelepon dengan bapak Uda Mu.


(baik itu calon menantu atau pun sudah menjadi menantu, bapak dan mamak akan memanggil bang Bastian dengan panggilan amang, dan biasanya di singkat dengan mang.).* tradisi Batak Toba


semuanya biar kami yang urus, kalian tidak boleh kemana-mana lagi sampai menikah. paham!"


"paham Inang" ujar Bastian yang kemudian tersenyum ke arah Mamak.


(tradisi Batak Toba, akan memanggil calon ibu mertuanya dan kelak menjadi mertua nya dengan panggilan Inang dan panggilan kepada Bapak ku adalah Amang, demikian juga sebaliknya Denganku).


Tiba-tiba saja, bapa Tua pak Rado tiba di hadapan kami dan meminta kunci mobil bang Bastian.


"kok bengong, ngak dengar tadi kata calon Inang Simatua mu (calon ibu mertua) ?" ujar pak Rado.


Bang Bastian tidak di perbolehkan menyetir sebelum kami sah jadi suami-istri, dan ini adalah kepercayaan Adat.


"trus nanti Amang pulang naik apa?" tanya bang Bastian dengan sedikit ragu.

__ADS_1


"nanti bapak Uda mu yang mengantar Amang pulang, sekalian belanja alat-alat pertanian di daerah sini. Pokoknya tenang saja, kamu yang nurut ya."


Bang Bastian hanya mengangguk setuju dan mereka berdua pun pulang setelah pamit kepada ku dan Mamak.


__ADS_2