
"Tunggane pak Tiur, inang boa (panggilan kepada istri ipar dari pihak saudara laki-laki istrinya, demikian juga panggilan kepada istri adik-adiknya)
Mak Elazer, Rifan dan Fernando. saya mintak maaf atas kelakuan istri Ku.
Saya sadar, kalau saya tidak pantas menerima maaf dari kalian. saya mohon pamit dan terimakasih atas semuanya.
Ucap Bapak nya Andri yang tidak berani menatap kami secara langsung dan berlalu dari hadapan kami.
Kami bertiga langsung memeluk Bapak karena ini pertama kalinya bapak membela kami dari pihak keluarganya.
Sungguh Aku masih tidak percaya dengan apa yang ku lihat dan ku dengar, semuanya seperti dalam mimpiku.
Bapak membela kami dihadapan Kakaknya yang disayanginya dan dibela-bela selama ini, Rifan berkali-kali memeluk bapak seraya menangis.
bapak menghapus air mata Rifan dan juga air Mataku, benar-benar sebuah mukjizat yang nyata saat ini.
Berulang kali ku cubit Pipiku dan terakhir mencubit pipinya Rifan dan Fernando hingga mereka berdua kesakitan karena terlalu kuat ku cubit dan hendak ku cubit lagi.
"cukup loh kak, kasian adek-adek mu. lihat tuh pipinya sudah merah gitu.
Sana liat Cucuku, kasih dia minum dan mandikan. setelah itu berikan kepada Bapak, agar kakak bisa mandi dan beres-beres.
Setelah sarapan kita jalan untuk menyebarkan undangan."
"iya iya Pak, nanti kakak Sama Nantulang Mak Saor aja."
"beda itu kak, undangan Tulang mu berbeda dengan undangan kita.
Tulang mu akan mengundang keluarga Nya sebagai Tulang parboru, sementara kita mengundang atas nama parboru.
Ulos dan tuppak (hadiah pernikahan berupa uang tunai) dari Tulang mu akan di bedakan nantinya.
Tulang mu nanti satu uduran (satu group) saat memberikan Ulos dan tuppak ke Adek mu. itulah sebabnya undangan kita berbeda-beda." jelas Bapak dengan sejelas-jelasnya.
"okey lah kalau begitu Pak E. kakak liat Elazer dulu ya."
__ADS_1
Setelah selesai sarapan kami berpencar untuk menyebarkan undangan, Bapak bersama Mamak, Tulang dan Nantulang Mak Saor, Aku dan Rifan serta Fernando.
Elazer ku titipkan ke bou Mak Rada, karena urusan terhadap ternaknya sudah selesai. ASI untuk Elazer sudah ku pompa dan ku letakkan di kulkas.**
Akhirnya selesai juga mengundang, banyak sekali cerita tentang Andri dan Mamaknya yang ku dengar dari warga yang ku undang dan tak satupun dari cerita itu yang menyenangkan hati.
Ternyata Tulang pak Saor dan Nantulang sudah sampai duluan di rumah dan kami duduk di ruang tamu sembari memperhatikan Elazer yang tertidur di ayunan.
"Terimakasih ya pak Saor, terimakasih Mak Saor. atas kepercayaan yang telah kami terima untuk memelihara ternak serta sawah dan kebun."
"sama-sama kak, lagian kan hasil dari panen sawah dan Kebun nantinya kan dibagi sama kami."
"benar pak Saor, untuk panen padi sudah kami setor ke Bank sebanyak 1 kali dan hasil penjualan kapi kyaknya sudah 10 kali lebih kami setor ke Bank.
Ini dia Bukti setoran, silahkan di periksa pak Saor dan Mak Saor."
Karena kepo, aku ikut melihat bukti setor itu. lumayan juga. bahkan lebih untuk membayar cicilan Bank.
"terimakasih kak Mak Rada, ini sudah sangat membantu Boru ku si Saor untuk melunasi hutang Nya di Bank."
"sama-sama juga Mak Saor, kami yang berterima kasih. oh iya .... kalau mau jual Kebun dan sawah jangan sama orang lain, sama kami aja. tapi tunggu lah beberapa tahun lagi.
"kok harus nunggu Lisa dan Rifan bou?"
"begini Mak Elazer, calonnya Rado memang guru PNS. jadi tahun ini Adiknya akan Wisuda, Begitu dengan Ramot Adek Nya Rada.
Rada dan Calonnya sama-sama menyekolahkan adek-adek Nya, setelah selesai itu barulah mereka menikah.
Rada bilang, calonnya juga sudah mengumpulkan Sinamot dan Calonnya Rada juga Sudah mencicil rumah di samping rumahnya Mak Esra. apa itu benar Mak Elazer?"
"benar dong Bou, dan asal bou tahu. rumah itu atas Nama Rada. kemarin itu saya ikut menemani Rada dan Rizal calon nya ke Notaris.
Panjar rumah Nya dari orangtuanya Rizal, katanya jual emas Nya yang di tabung nya selama ini. nah untuk bulanan Nya di bayar kan oleh Rizal.
bou tahu ngak gak, calon Mamak mertua Nya Rada juga kerja di tempat kami.
__ADS_1
Calon Bapak mertua Rada itu seorang Polisi dan Istrinya itu ibu rumah tangga, berhubung anak-anak mereka sudah dewasa dan Calon mamak mertua Nya Rada kesepian di rumah.
itulah sebabnya calon Mama mertua Rada kerja di tempat kami Bou."
"ah.... sebagai apa disana calon mertua Nya itu? mangnya calon Besan ku itu bisa menjahit?"
"bou salah.... Camer Nya Rada itu dulunya bekerja sebagai accounting di perusahaan besar. Beliau itu Sarjana Akuntansi dari universitas Negeri yang ada di Medan.
Camer Nya Rada ya sebagai tenaga keuangan yang handal. saya benar-benar beruntung sekali punya keluarga yang hebat-hebat.
Saya tidak perlu repot-repot mencari tenaga kerja yang handal. semuanya sudah tersedia, keluarga Ku sudah membawa orang-orang yang hebat untuk bekerja."
"oh Begitu..... ngomong-ngomong, rumah mereka sudah siap huni belum?"
"belum lah Bou, si Rada banyak kali maunya. dan dia yang merombak semuanya. tapi di cuci Rada, lagian buat buru-buru? kan masih nabung untuk beli perhiasan Rada.
Rada hanya bertanggung jawab untuk renovasi rumah dan Juga mengumpulkan beberapa emas perhiasan Nya. supaya kece saat menikah Nanti.
Saat ini Rada dan Ningsih masih tinggal samaKu, supaya mereka bisa menabung untuk merenovasi rumah nya masing-masing serta mengumpulkan beberapa emas perhiasan.
Dan masakan Rada sama Ningsih enak, ngak jadi beban lah.
Bou ngak usah merasa ngak enak, kalau Rada tinggal samaKu untuk sementara waktu ya."
"terimakasih ya Mak Elazer, kamu sungguh baik, cantik dan lembut. sehat Selalu ya sayang Ku.
oh iya..... kalau tiga sahabat itu gimana? masih berantem ngak?"
"ngak usah di tanya bou, tiada jam tanpa berantam. aneh memang, tapi itulah mereka bertiga. setelah selesai Acara martuppol Lisa dan Pangeran, baru peresmian usaha tiga sahabat itu.
Benar-benar salut aku di buat mereka bertiga, wawasannya itu loh sangat luas. semoga saja berjalan dengan lancar."
"Amin.... itu semua berkat bantuan Bere, karena Saor dan sahabat itu melihat bere Begitu bersemangat dan menular ke tiga serangkai sahabat itu." ujar Nantulang Mak Saor seraya tersenyum.
Tiba-tiba saja banyak orang yang datang ke halaman rumah, rupanya Rifan memukul Andri karena merasa kesal.
__ADS_1
"apalagi sih ini, Asyik kau aja ya bermasalah di kampung ini, heran kali aku nengok kau Andri."
Kata pemangku adat yang sudah datang entah darimana setelah melihat keributan dan kerumunan warga.