MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Si Gatal....


__ADS_3

Kami semua akhirnya terdiam setelah bang Andri yang bersama wanita datang mendekati kami.


"kak... itu wanita itu kan kak?" tanya Ningsih dengan berbisik di telinga Ku.


Aku hanya mengangguk dan terus melihat Andri yang merasa bangga datang bersama wanita lain.


"sayang.... ini namanya Tiur, sebentar lagi dia akan menjadi mantan istri Ku, dan kita bisa menikah.


"mangnya kenapa ngak langsung di ceraikan aja bang?"


"Karena Adat sayang." jawab Andri dengan Suara berwibawa yang dibuat-buat.


"eh Tiur, sudahlah.... lepaskan bang Andri, Abang ini sudah menemukan orang yang tepat yaitu aku.


Saya sarjana dan Pekerjaan kantoran yang di bayar Negara, sementara kamu hanya tukang jahit. oh iya kasihan banget kamu Nya"


"dengar ya perempuan..... saya hanya menunggu anakku yang ada dalam perut Ku lahir dengan selamat, dan jika bukan karena Adat sudah ku buang laki-laki sampah ini."


"jangan percaya dengan omongan si tukang jahit ini, dia hanya ingin mendapatkan harta kekayaan Ku. dan itu sedang di runding kan oleh pemangku adat." sangkal Andri di hadapan kami.


"oh.... begitu rupanya." ujar perempuan itu dengan suara sok manjanya.


"Tiur... tidak usah sok merasa hebat, kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan calon Istriku ini. dan kamu sama bodohnya dengan Bapak mu.


Tiur..... jika pun kamu hamil, jelas-jelas itu bukan Anakku. kamu itu wanita hina yang sudah hamil duluan.


kamu pernah bilang kalau kamu itu punya pacar di perantauan sana, kamu di hamil sama pacar mu itu kan?"


"bang.... jaga congor mu itu ya, jangan sampai ku koyak-koyak nanti. kan Dokter Duma sudah menjelaskan tentang kehamilan kak Tiur, kenapa Abang masih menuduh kak Tiur hamil duluan "


"Saor.... sudah dek, Sarjana yang di beli tidak akan paham akan penjelasan Dokter Duma. kita dengar aja dia ngomong "


"Tiur.... kamu begitu berharap akan cintaku, kalau bukan karena bapak mu. aku tidak akan menjadikan Istriku.


tapi ya sudahlah, toh juga sudah ketahuan kalau itu hamil duluan. ingat.....


jangan pernah bilang kalau anak yang kau itu adalah Anakku, itu adalah Perzinahan dengan pacar mu yang dulu.

__ADS_1


Calon Istriku ini jauh lebih cantik dari kau Tiur, Sarjana dan setara dengan Ku."


"terimakasih atas hinaan dan pengakuan mu ini, jadi nanti saya tidak perlu repot-repot untuk mengurus hak asuh anak nantinya.


untuk kamu perempuan, pria sampah ini sudah ku buang dan silahkan di kutip ya. sampah memang layak berada di tong sampah....."


Setelah mengatakan demikian, Rani langsung menarik tanganKu dan kami berlalu ke meja kasir. setelah membayar pesanan dan mengambil kembali belanjaan dari kasir kami bergegas untuk pulang.


Setelah agak jauh dari Kafe, kami berhenti di sebuah warung.


"Ning.... kejadian di kafe tadi di rekam kan?"


"iya dong Kak, ini ku kirim sama kakak."


"kak.... tadi Indah juga rekam, dan sudah ku kirim ke pak Imran. musuh dari suami kakak. dan kita akan lihat apa yang terjadi dengan pengakuan suami kakak itu."


Ujar Indah yang terlihat puas setelah melihat keadaan di kafe dan setelah itu kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing.**


Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan beres-beres untuk beribadah Natal umum. karena tentunya Gereja akan full jadi harus cepat agar dapat tempat duduk.


Mamak, Aku dan Ningsih sudah duduk bersama keluarga Tulang pak Saor, dan bisik-bisik para jemaat terdengar jelas saat kedatangan wanita yang bersama Andri tadi malam di Kafe.


Perkataan itu yang terdengar jelas, bahkan saat prosesi masuknya pemuka Gereja bisikan kata si gatal itu terdengar jelas.


Setelah lonceng Gereja berbunyi pertanda ibadah di mulai, barulah jemaat diam dan acara prosesi ibadah di Mulai.


Tibalah koor gabungan Bapak-ibu jemaat Gereja, bukannya menikmati lagu pujian koor malah sibuk membahas si gatal.


Selesai koor, bapak Liturgi menghentikan acara koor yang akan tampil selanjutnya dengan aba-aba tangan dariNya.


"bapak-ibu jemaat yang terkasih dalam nama Kristus, mohon untuk tetap tenang. kita sedang merayakan hari Natal. segala perkara yang ada di luaran sana mari kita doakan agar lebih baik lagi.


Bapak-ibu jemaat.... bisa kita mulai lagi?"


"iya amang....."


Baru lah liturgi di mulai kembali, hingga prosesi peribadatan selesai semua sudah tenang dan saat bersalaman, tidak satupun yang bersalaman dengan perempuan itu.

__ADS_1


Karena posisi duduk agak di belakang, dan kami bisa duluan keluar dari Gereja dan kami masih bersalaman dengan saudara-saudara yang lainnya dan tibalah keluar si perempuan itu.


"oiiii gatal.... si gatal sudah keluar...." teriak seorang ibu yang hampir sebaya dengan Mamak.


Perempuan itu langsung menghampiri ibu-ibu yang mengatainya si gatal.


"apa maksudmu dengan memanggilku si gatal?"


"jelas lah kau si gatal, tukang godaiin suami orang. sudah gitu tidak tahu malu pula.


jika mau merebut suami orang, jangan suami sampah yang kau rebut. istrinya sudah membuang Nya, oh iya, sampah tempat nya tong sampah."


"heran deh..... apakah seperti ini semua isi penghuni Kantor pemerintah itu, si gatal...." Ujar seorang ibu-ibu lagi.


"berpendidikan tapi akhlak minus, kasian ya lihat gelar nya dan pekerjaan nya. apa atasnya membiarkan anak buahnya menjadi si gatal? atau sengaja di pelihara?"


Ujar ibu-ibu yang lainnya dan perempuan itu pun akhirnya Pergi.


Setelah mendapatkan konfirmasi, ternyata pengunjung lain yang Kafe yang ikut merekam kejadian semalam dan disebarkan ke masyarakat sekitar.


berhubung kampung ini hanya lah ibu kota kecamatan, berita sekecil apapun langsung tersebar kemana-mana.


Saya merasa seperti seorang Antagonis yang sedang menikmati kelelahan musuh yang satu persatu mendapatkan ganjaran yang setimpal.


Tapi Disini saya tidak berbuat apapun, karena saya percaya kalau Tuhan itu Maha melihat dan Maha Mendengar.


Aku perhatikan sekeliling dan ternyata Andri dan keluarganya tidak menampakkan hidungnya di gereja ini, begitu juga dengan Bapak.


Tulang pak Saor menyuruh kami untuk pulang segera dan hanya butuh waktu perjalanan 20 menit akhirnya kami sampai di rumah Tulang pak Saor dan kami makan siang bersama.


Selesai makan siang kami minum Kopi sambil menikmati kue buatan Saor dan Ningsih.


Kami membahas tentang rencanaku ke depannya, dan disini aku benar-benar bersyukur kalau semua keluarga mendukung Ku.


Saat adik-adik Ku menelpon, mereka juga mendukung Ku. cinta kasih dari keluarga ku ini yang membuat Ku semakin bersemangat.


Setelah selesai berdiskusi tentang perencanaan masa depan, kami bertiga pulang ke rumah.

__ADS_1


Sesampai di halaman rumah, terdengar beberapa orang masih sibuk bergosip tentang perempuan itu dan kata Si gatal, masih berkumandang.


Andri dan perempuan mengira mereka telah menang, tapi mereka yang terjatuh. hanya menunggu waktu saja.


__ADS_2