
"Bang.... di tempat kerjaku ada beberapa anak gadis yang cantik, dan pelanggan setia ku juga banyak anak gadis cantik.
Banyak diantara mereka yang jauh lebih layak untuk menjadi istrimu.
Mau saya kenalkan?"
Mendengar perkataan Ku, Bastian hanya geleng-geleng Kepala. Bastian terlihat kecewa karena Aku berusaha menjodohkan Nya dengan wanita lain.
"Tiur, bukan hanya kamu yang mempunyai kenalan gadis cantik.
Bahkan saat Mamak kritis pun masih berusaha memperkenalkan gadis cantik untukku, para pelanggan Ku pun banyak menjodohkan anak gadisnya untukku.
Tapi kamu sudah mengunci hati ini, di setiap hariku, dan semua aktivitas Ku hanya wajah dan senyuman mu yang selalu melintas di benakku.
Dulu aku pernah berkata kepada Mamak, aku harus melihat mu bahagia dengan laki-laki lain baru aku akan belajar melupakan mu.
Tapi setelah melihat sendiri seperti ini, Abang ingin menjadikan mu menjadi Istriku.
Abang ingin menunaikan janji Ku yang tertunda, yaitu membahagiakan mu, wanita yang kucintai dan ku sayangi."
Ucap Bastian dengan penuh Harapan, dulu pria yang kucintai ini memang pernah berjanji seperti ini, cuman aku menghianati Nya.
"bang... tolong berikan Aku waktu, saya ingin fokus mengobati Hatiku yang sakit ini."
Aku hanya Bastian tidak mau terluka lebih dalam, Aku hanya ingin melihatnya bahagia setelah apa yang kulakukan terhadapnya.
"iya... Abang tahu, aku hanya ingin mendengar jawaban Mu. apakah masih ada cinta untuk Abang?"
Pertanyaan dari Bastian ini membuat Ku sungguh sesak, tapi tidak bisa ku pungkiri kalau aku....
"jujur, Tiur masih sangat mencintai Abang. tapi hati Ku belum siap untuk membuka hati bang, sembari Abang menunggu. tolong pikir kan kembali akan perkataan Abang, ingat Bang, saya janda beranak satu."
Bastian terlihat puas dengan jawaban dariKu dan kemudian geleng-geleng Kepala, karena pernyataan dari Ku sebagai janda beranak satu.
"bertahun-tahun hingga sampai sekarang, hanya kamu yang di hatiku. status jandamu tidak menghalangi cintaku padamu, Abang serius dalam perkataan.
Abang juga tidak keberatan dengan Elazer, bahkan Abang bersedia dan ikhlas menjadi Bapak Nya.
Abang akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita kelak nanti, termasuk Elazer.
Abang juga ngak keberatan membuat Marga ku di belakang namanya, jika itu memungkinkan.
Kita anggap aja Elazer anak pertama kita, dan mudah-mudahan bisa menyusul adik-adiknya, amin...."
Hanya bisa tersenyum akan ucapnya, wajahnya yang tampan sangat meyakinkan diriku yang rapuh ini. tapi aku Belum yakin dengan isi Hatiku ini.
"Tiur... kamu tahu ngak Berapa uang yang berhasil ku kumpulkan saat menjadi marketing Asuransi?
banyak tahu, bahkan bisa membeli tapak Usaha disamping rumah peninggalan orang tua, dan membangun bisnis diatasnya.
__ADS_1
Sinamot yang sudah Abang kumpul kan masih tersimpan di Bank."
Memang itulah tujuan Bastian, untuk membuat usaha menjahit untuk kami berdua setelah kelak menikah nanti.
"berapa lah pegawai Abang?"
Ku alihkan topik pembicaraan, karena Aku sungguh Baper dengan Semua perkataan dan pernyataan dari Bastian.
"ngak banyak, cuman 25 orang saja. Abang masih jauh kalah dari mu." Ucap Bastian dengan merendah.
"ngak juga, Abang jauh hebat. masih sanggup bertahan di kala penghianatan Cinta. sementara Aku, hanyalah tinggal kenangan pahit."
Bastian menatapku dengan tatapan Sendu, Rasanya ingin memeluknya dan menangis sepuasnya.
"Tiur.... itu namanya takdir, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi Tuhan berkehendak lain.
Dengan berjalannya waktu, kamu lebih hebat. usaha Mu semakin besar dan Maju. lihat lah usaha mu sudah seperti perusahaan multinasional, dua jempol untukmu.
dan ini Juga takdir yang baik bagiku, karena masih dikasih kesempatan untuk bertemu dengan Mu, wanita yang kucintai dan ku sayangi."
Semakin Bastian ngobrol semakin sesak hati ini karena Baper, aduh.... hati yang rapuh bisa juga Baper.
"bang.... malam sudah semakin larut, kita sudahi dulu ya."
Pinta Ku Kepada Nya, karena aku tidak sanggup untuk mendengarkan semua pertanyaan dariNya.
"iya, mari Abang antar pulang."
Selama dalam mobil, Bastian hanya menceritakan kisahnya selama menjahit dengan langganan Nya super Aneh.
Aku dan Nindy hanya bisa tertawa dengan semua penuturan dari Bastian, dan tanpa terasa kami akhirnya sampai juga.
"dek... selamat malam, istrihat lah. jaga Elazer dengan baik ya. Abang pamit dulu ya."
ujarnya dengan begitu tenang dan tatapan yang sendu hampir membuat ku tidak berdaya.
"Bang.... "
Begitu Bastian menolehku langsung ku peluk, tapi air mata ini masih ku tahan agar tidak tumpah saat dia aku memeluknya.
Setelah itu aku langsung masuk ke dalam rumah, dan masuk kamar mandi. Kren air ku nyalakan dan aku menangis sejadi-jadinya.
Pedih sekali hati ini, pria yang ku cintai hadir lagi dalam hidup Ku dan memberiKu harapan, tapi aku tidak bisa mengungkapkan isi Hatiku yang sebenarnya.
Setelah lega aku masuk ke kamar, sementara Elazer sudah di kamarnya bersama Nindy. kadangkala kami bertiga tidur di kamar ini, kadang-kadang juga kami tidur di kamar Elazer bersama Nindy.
Selesai ganti baju, dan bersiap-siap untuk tidur. Mamak mengetuk pintu kamar.
Mamak, Lisa dan Bapak masuk kedalam kamar ini. kami berempat duduk diatas kasur, tiba-tiba saja bapak menyeka air matanya yang mengalir.
__ADS_1
"maafin bapak Boru, karena Bapak kamu tidak bisa hidup bersama pria yang kamu cintai. bapak Mintak karena tidak pernah memberi Mu kasih sayang dan pilihan."
"sudahlah Pak, semuanya sudah terjadi dan inilah takdirku."
"kak... Mamak merasa Bastian itu pria yang baik, tidak sedikitpun keangkuhan dariNya. berwibawa, baik, ganteng dan mapan."
"mapan... dari mana Mamak tahu?"
Mamak langsung kelihatan bingung dengan pertanyaan Ku, dan Lisa langsung memegang kedua tanganku.
"maaf kak, mulai dari kemarin sejak Abang itu datang ke rumah ini. langsung Lisa selidiki dan berkat bantuan bang Pangeran Lisa mendapatkan informasi tentang Bastian.
Bang Bastian itu pria yang mapan, dia terkenal dengan kebaikannya di lingkungan tempat tinggalnya.
Kata bang Pangeran, dia itu Kepling di lingkungan Nya dan sangat di hormati oleh para warga.
Selama ini tidak pernah berseteru dengan orang lain, Beliau juga tidak pernah mempermainkan hati wanita lain.
Calon mertua Lisa sudah mengenal Bastian sejak Kecil, dia itu pria pemberani, tegas dan berwibawa.
kak... Lisa mintak maaf karena sudah menyelediki Nya. Lisa ngak mau kakak terjebak dengan pria yang salah.
Lisa ingin kakak mendapatkan pria yang baik, kakak berhak bahagia."
"benar kata Adikmu, kakak berhak bahagia. bapak juga melihat sisi baik dari Bastian, bapak juga Yakin kalau Bastian laki-laki yang tepat untuk Mu."
"iya, benar kata Bapak mu dan kata Lisa. kamu berhak bahagia sayang. Mamak juga Yakin kalau Bastian adalah pria yang tepat untuk Mu."
Mereka bertiga, orang yang kucinta mendukung Ku bersama Bastian, tapi aku tidak yakin dengan Hatiku ini.
"Lisa juga tahu kalau kakak masih trauma dengan pernikahan, pelan-pelan kakak lupakan semua masa lalu yang pahit, saat Nya kakak menata masa depan."
"iya... benar kata Adikmu, saat Nya menatap masa depan.
Kak.... bang Rifan dan Adek juga setuju dengan kami bertiga. tadi kami sudah ngobrol panjang lebar melalui telpon.
Nanti mereka berdua akan memperjelas nya setelah selesai pernikahan adik mu ini. kami semua ingin yang terbaik untukmu kak."
Ujar Mamak yang lagi-lagi mendukung Ku dengan Bastian.
"tapi aku tidak Yakin Mak, Anak ku gimana? dan statusku ini Gimana?"
"sekarang bapak tanya sama kakak, masih ada ngak Bastian di hari kakak?"
Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Bapak, karena memang aku sangat mencintai Bastian.
"perlahan-lahan kita lihat respon dari Bastian, jika memang kalian berjodoh pasti akan ada jalannya.
yang jelas, kami semua mendukung Mu kak, kakak berhak bahagia."
__ADS_1
Ujar Bapak dengan begitu percaya diri dan berwibawa.
Lagi-lagi harus harus kagum dengan sikap Bapak yang begitu bijaksana.