
Setelah puas bermain-main dengan Cucunya, dan Elazer pun tertidur di pelukan nya, Nindy mengambil Elazer dari pelukan oppung Nya.
"Lae.... apa yang terjadi dengan Andri dan Itok Ku?" tanya Bapak dengan suara bergetar.
"begini... kalian semua percaya dengan Begu ganjang? (makhluk mistis di kalangan masyarakat Batak).
"pernah dengar amangboru, cuman ngak tahu apa itu benar atau hanya cerita mistis gitu."
ujar Ku menanggapi perkataan dari mantan bapak mertuaku ini.
"Sebenarnya saya sudah lama mengetahui kalau Mamaknya Iren pergi menemui Oppung purnama, parbegu ganjang itu.
Oppung Sanggap sudah berulang kali memperingatkan Ku, untuk menegur Mamaknya Iren.
Tapi setiap kali mau menasehati Mamaknya Iren, saya selalu Lupa dan Lupa.
Aku tidak berdaya, bahkan bicara pun saya tidak bisa saat berhadapan dengan Mamak Nya Iren.
Setelah Mamaknya Elazer ini masuk ke rumah, dan melawan ke Mak Iren. barulah saya bisa ngomong tanpa lupa lagi.
Semakin Mak Elazer melawan, semakin gencar saya bisa ngomong ke Mak Iren. saya selalu membela Mak Iren kapanpun dan di mana pun bahkan terhadap semua Eda mu mak Elazer.
tapi saat pertama kali di Aula Desa, saya dengan gampangnya menyalahkan Mak Iren saat itu. dan menyatakan Mak Iren bersalah.
Selamat pernikahan, saya tidak pernah ngomong kasar dan berbuat kasar kepada Mak Iren.
Tapi kejadian di rumahnya pak Saor, saya mampu menampar Andri dan Mamaknya. biasanya saya tidak bisa melawan mereka berdua.
Setelah dari rumah pak Saor waktu itu, Andri membawa Mamaknya ke rumah yang di Simaremare, dan malamnya Mamaknya Iren Hanya mengurung diri di kamar.
Tidak berapa lama dari kamar itu keluar cahaya, hanya hitungan jam cahaya itu kembali lagi ke kamar itu dan tiba-tiba Andri dan Mamaknya berteriak secara bersamaan.
Pertama ku lihat Andri tertidur di ruang depan dengan kondisi yang sudah pingsan, dan kemudian ku lihat Mamaknya di kamar.
Seperti orang struk, dengan lidahnya yang menjulur keluar. sampai saat ini juga seperti itu.
pagi-pagi Andri sudah Pergi dan pulangnya sudah bonyok dengan hidung Nya yang berdarah, yang diantarkan oleh pak Kepling.
Pak Kepling menjelaskan semua kejadiannya, sejak saat itu Andri seperti orang linglung. kemudian ngomong sendiri.
Tiba-tiba marah, kemudian menangis dan bicara sendiri lagi.
__ADS_1
Malam harinya, Andri berteriak memanggil namamu Mak Elazer.
Andri mintak maaf sambil menangis kemudian berlari entah kemana sambil memanggil nama mu.
Besok paginya Pak Kepling bersama 3 pemuda lainnya membawa Andri yang katanya mengganggu warga.
Mau tidak mau Andri harus saya pasung, karena saya tidak mau dia mengganggu warga lagi. dan akhirnya denda adat nya di hapus karena Andri dianggap sudah gila oleh warga.
Andri hanya menyebut namamu Mak Elazer, mintak maaf dan terus memanggil nama mu. setelah capek lalu tertidur, bangun dan memanggil namamu lagi."
"siapa sekarang yang menjaga Andri dan Itok Lae?"
"oppung Sanggap, Oppung Doli dan Boru lirah, tetangga Kebun.
Inang Bao, Tunggane, Mak Elazer, Tulang Rifan, Tulang Nando, inang Lisa.
Jika sudah punya waktu, saya Mohon untuk pulang kampung. tolong maafkan Mak Iren, supaya bisa pergi dengan tenang.
Begitulah kata Oppung Sanggap, dan saya yakin Mak Iren juga butuh maaf dari Kalian semua."
Ujarnya sembari menundukkan kepalanya, Bapak nya Andri bahkan tidak berani melihat mata kami saat ngobrol.
"Amang Boru. Kak Mak Elazer, Kak Lisa, Rifan dan Adek Nando, sudah menjamin Uda Simson. kami sudah membujuk keluarga Nya untuk memaafkan Uda.
Setelah selesai pernikahan kak Lisa dan Lae Pangeran, Rifan akan membawa keluarga ke kampung untuk melihat bou dan Andri.
Mudah-mudahan keluarga Inang Simson mau memaafkan Namboru Mak Iren."
"terimakasih Tulang.....
Pak Iren, mantan bapak mertuaku langsung bersujud di kaki Nya Rifan, sembari mintak maaf dan berterima kasih.
(dalam Adat Batak, anak laki-lakinya Bapak dan juga anak laki-lakinya Uda pak Simson yaitu saudara laki-lakinya Mamaknya Andri.
atau keponakan laki-laki dari Mamaknya Andri dipanggil Bapak, dan Bapak nya Iren memanggil keponakannya dengan sebutan Tulang.
Pak Iren yaitu mantan bapak mertua, merasa bersalah dan berterima kasih kepada Rifan yang mau membantu Nya.
Dalam tatanan Adat, bersujud ke tulang nya itu wajar. tapi setelah masuknya kepercayaan beragama hal itu membuanya sudah bergeser.
dari bersujud menjadi hormat, makna nya tidak hilang, hanya posisinya saja yang diubah, karena yang layak disembah hanyalah Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini).
__ADS_1
"amangboru bangun..... " ujar Rifan sembari menarik pundak pak Iren untuk berdiri.
"amangboru.... sekalipun kak Mak Elazer tidak jadi Menantu mu, kami sekeluarga tetap lah keluarga amangboru. dan kami wajib membantu amangboru."
"benar kata Abang, amangboru. kami siap membantu amangboru semampu kami.
ngomong-ngomong, amangboru sudah makan? Belum kan?
Dek Saor.... tolong ambilkan makanan untuk amangboru ini."
Ucap Fernando yang menyambung omongan abangnya.
"kami sudah masak kok bang, yuk kita makan siang semuanya." ujar Saor dengan lembut Nya.
Bapak merangkul pundak Nya dan berlalu untuk pergi ruang tamu, karena kami akan makan siang bersama.
Aku dan Mamak menghampiri Rifan dan Fernando, kemudian secara bergantian kami memeluk mereka berdua.
"bang Rifan.... adek Nando, Mamak sangat bangga akan kebesaran hati kalian berdua."
"kakak juga bangga akan kalian berdua, adik-adik kakak yang hebat."
Kami berpelukan kembali dan di susul oleh Lisa.
"iya Ampun.... kok masih berpelukan sih, ya udah deh, Soar ikut berpelukan ah....."
Saor menarik tangan Ningsih, dan kami semua berpelukan, hingga akhirnya Nantulang Mak Saor datang membubarkan pelukan kami.
Amangboru pak Iren sudah mulai tenang, setelah berdoa yang di pimpin oleh Pemangku Adat, kami makan siang bersama.
Setelah makan siang, ibu-ibu yang ikut rombongan dibawa oleh Ningsih ke tempat kerja kami untuk mengukur badan.
Akan ku jahit kan Kebaya untuk mereka semua sebagai oleh-oleh. Nantinya akan di ambil setelah selesai acara adat pernikahan Lisa dan Pangeran.
Waktu nya masih ada dua Minggu, jadi masih sempat lah untuk menjahit kebaya untuk mereka semua.
Tinggal kami bersama bapak-bapak yang Disini untuk ngobrol sembari minum Kopi yang disajikan oleh Saor dan yang lainnya.
Cerita dari Pemangku Adat sama dengan cerita dari Oppung Boru Ruth, mengenai Andri dan Mamaknya.
Mamaknya Andri kalau main game sudah game over dengan kalah telak, sesungguhnya jika sudah bersekutu dengan Iblis tidak ada kemenangan.
__ADS_1
Iblis hanya menawarkan kesenangan semu, kenikmatan yang bersifat sementara, dan pada akhirnya hanya petaka yang kita peroleh.
Jika sudah membuat perjanjian dengan Iblis, maka selamanya terjerat sebelum pertaubatan yang sesungguhnya.