MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Mereka Datang Lagi .


__ADS_3

Setelah Uda Pak Simson dan bou Mak Melda pulang, Aku kumpulkan semua teman-teman ke ruang tamu setelah mereka menutup pintu lapak jahit.


Satu persatu THR ku bagikan berikut dengan Upahnya, dan setelah di hitung mereka tampak begitu bahagianya.


"inilah pertama kali Ningsih menerima THR dari kakak, dan ini sangat memuaskan bagiKu. memang dulu waktu oppung Boru Ruth banyak. tapi ini 4 kali lipatnya."


Yang lainnya tersenyum menanggapi perkataan dari Ningsih, dan mereka berhak mendapatkan Nya atas kerja kerasnya.


"kita libur mulai besok sampai tanggal 6 tahun depan ya, dalam seminggu ini aku yang akan menunggu pelanggan kita untuk mengambil pesanan yang sudah siap.


rencananya aku ingin ajak kalian jalan-jalan setelah pesanan semua di ambil oleh pemiliknya, tapi aku nggak tahu mau sewa mobil siapa."


"kalau naik pickup sih ada punya pak Rado, kita ngak jauh-jauh. kita cukup pergi saja ke air terjun desa si Tio-tio." ujar Nantulang Mak Rado memberi saran.


"setuju... " sanggah dari Ningsih.


"setuju...


"setuju...


"setuju...


Ujar yang lainnya dan Aku hanya bisa tersenyum, karena sudah dapat solusinya.


"kalau kurang pickup Nya, pak Pingky juga mencari pickup yang disewakan, lagi pula pak Pingky juga super pickup kok. jadi aman lah."


"iya kak Tiur, jadi nanti kita seperti film india-india itu loh. joget-joget diatas pickup sambil menikmati pemandangan alam sekitar."


"benar itu, biar hemat kita masak aja dari rumah masing-masing."


"ngak usah Nantulang Mak Rado, nanti saya dan Ningsih serta Mamak yang belanja untuk masak bersama Disni. dan semua biayanya saya tanggung. mulai dari makanan, bensin, sewa pickup Nya sampai upah supirnya."


"kalau pak Pingky cukup ku kasih rokok aja aman itu, tapi anak-anak bisa ikut kan?" sanggah Mak Pingky.


"ikut dong.... biar lebih ramai."


"iya .... biar ada kawan ku begadoh (berantam) ujar Ningsih seraya tersenyum.


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


kami tertawa menanggapi perkataan dari Ningsih, rasanya sangat bahagia sekali walaupun adik-adik Ku tidak bisa ikut nantinya bareng kami jalan-jalan.

__ADS_1


"ajak sekalian Saor dan keluarganya. pasti mau itu, kan Saor juga sudah seperti karyawan kita. Saor yang pesan bakal kita yang berkualitas serta menarik banyak pelanggan buat kita." pinta Mak Esra.


"ok Bou, nanti Tiur bicarakan dengan Tulang pak Saor."


Setelah kesepakatan tercapai, teman-teman yang lain langsung pulang kecuali Ningsih yang ikut membantuKu untuk membereskan rumah dan memang akhir-akhir Ningsih sering ikut dengan Mamak pulang ke rumah Mamak.**


Setelah Ternak makan dan semuanya sudah bersih, Aku lanjut mandi dan kemudian berbaring di ruang tamu untuk menunggu bang Andri seperti biasanya.


Tepat jam 8 malam ku lihat mobil sedan yang datang tadi siang terlihat berbelok ke arah rumah ini. dan langsung ku telpon Mamak untuk menyuruh datang ke rumah ini.


Benar saja, Bapak, bang Andri, Mamaknya, Uda pak Simson, dan bou Mak Melda datang rombongan ke rumah ini. saya tahu maksud tujuan mereka datang, apalagi kalau bukan mintak uang.


Tanpa ku persilahkan mereka langsung masuk dan duduk diruang tamu, dan tidak ku suguhan apapun untuk mereka yang datang.


"Mamak Mu sudah pulang ya Boru (putriku)? tanya bapak memulai obrolan Sembari memperhatikan sekiranya.


Pertanyaan itu tidak ku jawab, aku terduduk di depan televisi yang masih menayangkan sinetron kesukaan ku.


Bapak langsung mematikan televisi Nya dan duduk dihadapan Ku serta memegang tanganKu, seumur-umur bapak tidak pernah melakukannya untuk Ku.


"Boru.... kamu sudah tahu kan kalau Inang Uda Mak Simson datang ke rumah ini sambil marah-marah dan menuntut untuk di kembalikan uang nya.


"Bapak..... saya harus ngapain?"


"dari orang-orang bapak dengar, penghasilan mu sangat banyak. jadi apa salahnya membantu, ntar jika kurang uang nya pinjam aja uang dari oppung Togar. nanti Boru bayar lah cicilannya."


Ya Tuhan..... kalau bukan bapakku kandung, sudah ku maki saja. tapi ini Bapak ku yang bicara walaupun itu di luar nalar ku.


"iya Tiur..... tolong lah, jangan egois gitu.


"siapa yang Egois, kalian pikir Boru ku ini bank berjalan untuk Kalian haaaaaaaa............


Jawab mamak yang sudah tiba di rumah ini, tapi Ningsih kemana ya? tadi saat pulang katanya mau nginap di rumah Mamak.


"bukan gitu Mak Tiur, keluarga pak Simson sudah hampir berantakan. kalau bukan kita yang membantu siapa lagi?"


"itu bukan urusan Boru ku dan juga bukan urusan Ku. itu urusan mu dan kakak mu itu." jawab Mamak dengan lantangnya.


"apa ini ribut-ribut.... apa kalian sekeluarga belum puas buat onar" ujar pak Kepling, yang datang bersama tulang pak Saor yang di ikuti oleh Ningsih dan Nantulang Mak Saor serta Saor.


"bukan Begitu pak Kepling, kami datang kemari untuk mintak tolong kepada Tiur Boru ku (putriku) untuk membantu Adikku yang sedang bermasalah keuangan dengan keluarganya."

__ADS_1


"Inang Mak Tiur dan Tiur... apa kalian merasa terganggu?" tanya pak Kepling.


"iya amang pak Kepling, karena saya tidak berkewajiban untuk membayar hutang-hutang mereka. dan itu karena ulah mereka sendiri."


"inang Mak Tiur bagaimana tanggapan inang?"


"saya dan Boru ku ini tidak punya kewajiban untuk membayar hutang-hutangnya, apalagi harus meminjam uang ke Oppung Tagor. cukup selama ini saya yang diperas, saya tidak mau Boru ku di peras juga." ujar Mamak dengan raut wajah yang marah tapi masih berusaha untuk tenang.


"pak Tiur... sudah jelas kan? berhubung ini sudah malam, sebaiknya bawa keluarga mu itu pulang."


"pak Kepling... saya ingin ngomong dengan Boru Ku."


"tapi boru kau ngak mau ngomong sama kau pak Tiur, kalau pak Tiur maksa. sebaiknya kita ngomong aja di aula di desa, mari ikut semua ikut saya ke aula Desa."


"ngak perlu, kami pulang aja." ujar ibu mertuaku.


Mereka semua pulang, demikian juga pak Kepling yang di temani oleh Tulang pak Saor serta istri dan anaknya.


Mamak dan Ningsih akhirnya masuk ke rumah dan kami membentang kasur lipat pemberian Oppung boru Ruth dan kami pun rebahan.


"Mak..... kenapa ya setiap kali mereka kemari, tidak pernah sekalipun ikut bapak mertuaku?"


"Malu kali kak, kakak tahu ngak. bapak mertua kakak itu sudah mengundurkan diri sebagai Sintua (pengurus gereja yang di tunjuk oleh pendeta berdasarkan persetujuan dari jemaatnya) Gereja.


Saat ibadah muda-mudi malam Minggu nya kak, Ningsih mendengar gosip dari teman-teman lainnya, kalau bapak mertua kakak itu sekarang tinggal di kebun kopi Simaremare. karena malu terhadap keluarga sendiri, dan sejak saat itu tidak pernah berbaur ke masyarakat sekitar lagi."


"masa sih Ning....."


"iya kak, makanya kakak ikut deh partangiangan (perkumpulan di suatu rumah warga atau gereja untuk kebaktian). biar kakak dapat banyak Gosip."


"ngaklah Ning.... ngak sanggup kakak menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang nantinya. cukuplah kakak sebagai jemaat terdaftar saja."


Kami terdiam sejenak, sebenarnya saya ingin ikut dalam perkumpulan doa bersama. tapi aku yakin tidak akan kuat untuk mendengar cibiran orang-orang sekitar tentang pernikahan Ku.


Para pelanggan yang datang ke rumah jahit ku ini saja, kadang-kadang membuat emosi karena selalu bertanya, mengapa Suamimu masih tinggal di rumah orang tuanya? dan sebagainya.


Mungkin pertanyaan lainnya akan menghampiri Ku jika ikut perkumpulan Doa.


Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapakmu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapakmu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6).


Lebih baik seperti itu......

__ADS_1


__ADS_2