
Bapak menghadap ke arah Tulang pak Saor dan kemudian bersujud di kaki Nya. Tulang pak Saor meraih pundak Bapak dan meminta bapak agar duduk dengan tegap.
"Tunggane pak Tiur, (panggilan kepada ipar laki-laki) saya Mintak maaf atas semua kesalahan yang saya perbuat. saya benar-benar menyesal akan perbuatan Ku yang tidak menyayangi keluarga ku sendiri.
Saya minta maaf karena menyakiti hati Bere dan ibare mu, saya mintak maaf karena tidak menyayangi Istriku dan saya mintak karena melukai hati mu sebagai Saudara laki-laki sekaligus orang tua bagi Mak Tiur.
Saya ingin kembali menjadi suaminya Mak Tiur dan Bapak bagi anak-anak kami, saya berjanji akan menyayangi mereka dan mencintai mereka dengan segenap hatiku dan juga Jiwaku.
Saya mohon ijinkan saya untuk menjadi suami dari Mak Tiur lagi, dan saya berjanji akan menjadi suami yang jauh baik dan juga bapak yang jauh baik untuk anak-anak Ku."
ucap Bapak Seraya menangis di hadapan Tulang pak Saor, air mata Bapak di seka oleh Tulang pak Saor.
"Lae pak Tiur, saya sudah melihat Usaha mu untuk meyakinkan Mak Tiur dan bere Ku. saya sangat menghargai akan Usaha mu.
Saya hanya ingin Mak Tiur, yang juga kakak kandung Ku dan saya sebagai orang tuanya. ingin melihatnya bahagia.
Saya tahu Tiur dan Adek-adek iri melihat teman-teman nya yang lain karena mendapatkan kasih sayang dari Bapaknya.
Saya selaku iboto nya Mak Tiur sekaligus orang tuanya, merestui Mu untuk kembali menjadi suaminya.
saya mohon, tolong bahagiakan Kakakku dan juga ke empat bere Ku. tolong.... jangan buat mereka iri melihat teman-teman nya yang lain yang mendapat kasih sayang dari Bapaknya.
Saya serahkan kembali Mak Tiur kepadamu Lae pak Tiur, berbahagia lah dan tepati janjimu."
ucap Tulang pak Tiur dan matanya yang berbinar-binar akhirnya meneteskan air mata juga.
Bapak langsung memeluknya dengan erat, kemudian kami juga memeluk mereka berdua yang sedang berpelukan.
Selesai kami berpelukan, Pemangku Adat sudah berada di dekat kami dan meraih tangan kanan bapak dan menyatukannya dengan tangan kanan Mamak.
"pak Tiur dan Mak Tiur, saya menyatukan kalian kembali dalam ikatan pernikahan secara Adat, semoga keluarga kalian berbahagia Selalu." ujar Pemangku Adat dan melepaskan tangannya dari tangan bapak dan Mamak kemudian berdiri.
"kepada Pak Kades, pak Kepling dan Natua-tua yang disini. pak Tiur dan Mak Tiur sudah kembali menjadi suami istri.
Mereka bisa kembali dalam peradatan sebagai mana biasanya kita lakukan secara bersama dan sudah bisa tinggal bersama.
__ADS_1
Dengan ini, saya raja Huta (pemangku adat) mempersilahkan kepada pak Kades untuk menyampaikan nasihat kepada pak Tiur dan Mak Tiur, silahkan pak Kades."
Ujar Pemangku Adat Seraya kembali duduk ke tempat Nya dan pak kades berdiri di tempat duduknya.
"terimakasih untuk kita semuanya, berhubungan pak Tiur dan Mak Tiur sudah kembali menjadi suami istri yang Syah secara Adat.
saya menginginkan kalian berdua mendaftar pernikahan secara sipil.
dan yang terpenting adalah, saya berharap pak Tiur bisa menepati janjinya yang sudah ucapkan di hadapan kami semuanya.
semoga keluarga pak Tiur dan Mak Tiur berbahagia selalu sampai maut memisahkan. hanya itulah harapan saya kepada pak Tiur, syalom dan horas.... Horas.... Horas....
Demikian ucapan dari pak Kades dan terakhir acara Adat di tutup oleh pemangku Adat dan akhirnya bapak dan Mamak kembali bersatu dalam ikatan pernikahan.
Satu persatu para tamu sudah pulang, dan setelah beres-beres kami istirahat. bapak dan Mamak di persilahkan tidur kamar tamu. sementara aku dan Elazer tidur di kamar Saor.
Rifan dan Fernando tidur di ruang tamu bersama amangboru pak Rada dan amangboru pak Remon bapa Uda nya Rada.**
"pak Tiur.... tega sekali kamu menjual rumah, kami tinggal dimana pak Tiur tega kamu sama ku Itok mu ini."
Pagi-pagi sekali kami dibangunkan oleh suara tangisan dari Mamaknya Andri, yang menangis meraung-raung di halaman rumah Tulang pak Saor ini.
"pak Tiur.... kamu tega sama ku, gara-gara istri mu kau mencampakkan kakak mu dan Bere mu sendiri. dimana hati nurani mu pak Tiur."
"cukup Mak Iren, cukup lah keluarga pak Simson yang menjadi korban Mu. biarkan lah pak Tiur berbahagia dengan keluarga Nya.
sudah cukup selama ini kau menyakiti hati kedua saudara laki-laki mu, mereka juga punya keluarga dan kamu Mak Iren punya keluarga Juga.
Pondok kita yang di kebun Simaremare sudah cukup layak untuk tempati. mari ikut saya jika kamu masih menganggap ku sebagai Suami Mu." ucap Bapak Andri yang sudah tiba di depan rumah.
"apa?.... kamu menyuruhku untuk tinggal di kebun? dimana otak mu pak Iren?"
"Mak Iren.... bapak si Tiur sudah memberikan sebagian hasil panennya untuk merenovasi gubuk kita yang di kebun Simaremare agar layak kita huni.
kurang apa lagi kebaikan pak Tiur untuk keluarga kita? biarkanlah pak Tiur bahagia dengan anak dan istrinya.
__ADS_1
Rumah peninggalan orang tua ku dan juga rumah dari Maria Boru kita sudah kamu jual Mak Iren, mari ikut saya ke Kebun dan kita Mulai hidup baru."
"tidak.... saya tidak mau hidup di kebun, pak Tiur..... tolong Itok mu ini, lihat bere mu ini. kami tinggal dimana?"
"Mak Iren cukup ya, Aku sudah berkorban banyak untuk keluarga Mu. selama ini saya sudah mengelantarkan istri dan anak-anak Ku dan saat Nya aku pulang untuk menjaga istri dan anak-anak Ku.
Kakak masih punya suami yang sayang sama kakak, dan mulailah hidup baru."
"gara-gara istri mu, orang luar itu, kau tega sama kakak ku Sendiri."
"cukup Mak Iren, Istriku bukan orang lain. Mak Tiur adalah Istriku, ibu dari anak-anakku. saya yang menginginkan dan Melamar Mak Tiur untuk menjadi Istriku.
sudahi hinaan mu kepada Istriku dan anak-anak Ku, sudah saatnya kau berbakti kepada Suami Mu."
"kurang ajar kau Mak Tiur, dasar perempuan pembawa sial."
plak.......
Tamparan dari Suami nya melayang tepat di pipinya.
"selama ini saya bertahan dengan sikap Mamak mu dan juga sikap mu Mak Iren, enam Putriku pergi meninggalkan Ku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Jika kamu berteriak memaki pak Tiur dan istrinya, saya sendiri yang akan melaporkan mu ke raja Huta, supaya kamu di denda Adat lagi.
Andri... sekarang kamu pilih, bawa Mamak mu ke kebun kopi kita atau kalian berdua hidup gelandang?"
"dasar Tulang anjing, tega kamu setan... dimana hati nurani mu sebagai Tulang.
Plak..... plak...
Dua tamparan dari Bapaknya untuk Andri melayang di pipinya.
"Andri.... kamu sudah dewasa untuk berpikir dengan layak, seharusnya kamu yang menjadi tungkuan keluarga.
kapan kamu akan jadi laki-laki sejati, kapan menjadi dewasa.
__ADS_1
Sekarang bawa Mamak pergi dari sini sebelum raja Huta saya panggil kemari, cepat bawa Mamak Mu, cepat......."
Teriaknya Bapak Nya dan Andri membawa Mamaknya menjauh dari halaman rumah ini dan akhirnya tenang juga.