MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Di Mata Mertuaku, Aku hanyalah Alat bagiNya.


__ADS_3

Tiga karung ubi kayu dan 4 karung daun ubi jalar berhasil ku gondol dari kebun Tulang pak Saor dan diangkat Tulang pak Saor menggunakan becak barangnya.


Hari sudah sore, bersama Tiur dan Nantulang. kami bertiga pulang bersama karena Tulang pak Tiur sudah duluan pulang sambil membawa hasil kebun.


Setelah sampai di rumah, hanya Mamak yang ku temui dibelakang rumah yang merapikan makanan ternak yang sudah diantar Tulang pak Saor.


"oh iya Mak, mengenai kebun dan sawah mamak itu gimana nasibnya?"


"itu nantinya akan di kelola oleh Tulang Mu pak Rado. setiap panen baru di berikan biaya sewanya, Mamak di larang adek-adek mu ngerjain sawah dan Kebun.


adek-adek mu bilang kalau Mamak cukup membantu kamu aja, supaya mamak tidak bosan, kalau di pikir-pikir iya juga sih. Ternak Mu ada, kebun sayur ada.


Nanti beres bisa kita beli sebelum Tulang Pak Rado panen. lagian Adek-adek Mu masih ngirim kok sama Mamak."


"Bagus sekali, adik-adik Ku memang luar biasa. terimakasih Mamak ku sayang."


"sama-sama Boru Ku, oh iya... Mamak mau pergi maranggap (**Menemani salah warga begadang untuk menjaga bayi nya yang baru lahir. konon katanya yang sudah jadi tradisi. kalau ada tetangga yang baru melahirkan harus dijaga 24 jam oleh keluarga dan warga lainnya.


Tujuannya agar bayinya selamat dari hal-hal gangguan gaib, kalau di kampung ini katanya agar terhindar dari mangsa Begu ganjang, makhluk mitos di kalangan masyarakat Batak. konon katanya korbannya adalah bayi yang baru lahir yang belum genap berumur tujuh hari sejak kelahirannya**).


Ke rumah Cantika, dan itu adalah cucu pertama bagi Mak Goklas.(anak pertama dari Goklas dan istrinya)."


"oh gitu Mak, anaknya laki atau perempuan Mak?"


"kata Mak Pingky, anaknya laki-laki."


Ujar Mamak dengan raut wajahnya yang bahagia, di kampung ini jika anak pertama Nya adalah laki-laki dan itu merupakan suatu Anugerah. karena laki-laki adalah penerus marga kelak nanti.


Tapi bagiku, anak laki-laki dan anak perempuan punya Posisi yang sama, hanya orang-orang yang bisa bersyukur yang memandang Nya berbeda.**


Karena merasa lelah, Aku hanya menonton televisi di ruang tamu ini sembari menunggu kedatangan bang Andri.


tok... tok... tok... ' suara ketukan pintu'


"dek... tolong buka dek..."

__ADS_1


Terdengar suara bang Andri, tapi motornya kemana. oh iya kan sudah terjual. segera ku buka dan ternyata bang Andri datang bersama Mamaknya dan juga Bapak.


"Mamak mana baru?" tanya bapak sembari memperhatikan sekeliling.


"pergi maranggap ke rumah Goklas pak." jawab Ku singkat.


Saya sudah mencium aroma-aroma tidak sedap tadi mereka bertiga, aroma ini seperti aroma mau mintak uang.


Karena Mamak tidak mereka bertiga langsung duduk di ruang tamu tanpa ku persilahkan kan.


"buatin Bapak kopi dong." ujar bapak Seraya tersenyum.


"gula dan kopi habis pak, karena belum sempat belanja." jawab ku ke Bapak, tapi ibu mertuaku langsung menuju dapur tanpa seijin Ku.


Sengaja tidak ku sajikan apapun, Karena aku muak lihat bapak dan Kakaknya ini. sebenarnya juga muak melihat bang Andri tapi dia masih Suamiku.


Tidak berapa lama, mertuaku sudah tiba dengan membawa kopi 3 gelas dalam nampan dan menyajikan ke anak dan adik nya itu.


"malas kali kau Tiur buat kopi, barang-barang dapur mu makin lengkap ya. banyak uang mu sekarang."


Tapi itu ngak penting mereka ketahui dan lagian percuma juga mereka tahu.


"ngapain datang kemari? dah kyak trio aja ya."


Langsung saja, Karena aku muak lihat trio dadakan ini menghampiriku.


"begini Boru.... bapak kan pinjam di koperasi...


"sudah tahu pak, langsung ke intinya saja."


"Boru... tolong bayarkan cicilannya ya, Karena Agunan nya itu rumah kita loh Boru. apa Boru ikhlas melepaskan rumah itu disita Bintang koperasi?"


"sekarang Tiur tanya ke Bapak, uang pinjaman sebanyak 120 juta kemana?"


"iya untuk membantu inang Simatua ini, kalau ngak dibayar denda Nya, nantinya keluarga inang Simatua ini serta Bapak mu bisa di usir dari kampung ini.

__ADS_1


"itu bukan urusan Tiur pak, itu urusan bapak dengan keluarga Mu itu. maaf ya pak, bapak itu sudah meninggal di hati Ku ini dan di Juga di hati adek-adek.


Tidak sedikitpun bapak memperhatikan kami sebagai anak-anak kandungNya bapak, apa bapak ngak mikir bagaimana perasaan kami anak-anak Bapak? s....a....k... i ... t. pak.... sakit....."


Ya Tuhanku.... sesak rasanya mengutarakan ini untuk kesekian kalinya, tapi bapak tidak pernah mengerti.


"Tiur.... kamu jangan kurang ajar sama Bapak mu, bapak mu ini sudah bekerja keras menafkahi Kalian. bapak mu ini sampai berhutang bertahun-tahun di koperasi untuk memenuhi kebutuhan kalian semua. jadi tahu dirilah sebagai anak, jangan menuntut yang di luar nalar." ujar ibu mertuaku dengan begitu gampangnya.


"menafkahi? kau dan gayamu yang di penuhi Bapak, dan bukan nafkah untuk kami.


Setengah hasil panen di gunakan untuk membayar cicilan koperasi. dan kami hanya hidup dari sisanya yang dibagi dua lagi untuk kebutuhan bapak pribadi.


Sejatinya Mamak lah yang bekerja keras di ladang Tulang pak Saor dan malamnya mempayet kebaya untuk memenuhi kebutuhan kami.


Ngak bergetar moncong kau ngomong seperti itu? atau kau yang tidak tahu malu? menguras adiknya demi gayamu yang selangit itu?"


"dek yang sopan ngomong Nya, ini mamak ku ya, jaga sopan santun mu" ucap bang Andri yang membela Mamaknya.


Seketika Aku terdiam setelah ucapan bang Andri, karena begitu nyesek di hati ini.


"sebaiknya kalian pulang sebelum aku teriak di rumah."


"Boru... kok gitu sama Bapak."


"tolong...... tolong..... Aku diserang si mulut Jabir.... tolong......


Karena teriakan Ku, mereka bertiga langsung panik dan buru-buru keluar. tapi syukurlah tidak ada orang yang datang karena memang sudah mulai larut malam.


Sebenarnya Malu menjadi bahan perhatian orang sekampung, tapi apa boleh buat. memang seperti ini lah keadaan Nya.


Setelah mereka bertiga langsung pintu ku tutup dan kembali ke ruang tamu ini dan mematikan televisi.


Duduk bersila dan melipat tangan serta memejamkan kedua mata ini, menjelang tengah malam ini ku curahkan semua keluh kesal Ku kepada pencipta.


Dan memohon untuk diberikan berkat dan anugerahnya, dan aku berdoa semoga bang Andri bisa berubah menjadi suami yang bertanggung jawab dan tegas.

__ADS_1


Segala perkara dapat Ku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13).


__ADS_2