MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Tamu Yang Tidak Di Undang.


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan sejak penandatanganan perjanjian dengan bang Andri, dan hanya sesekali bang bang Andri pulang ke rumah dan itupun hanya mintak uang. jika tidak dapat uang lalu pergi.


Sebenarnya bang Andri sudah melanggar perjanjian 2 poin sekaligus, poin pertama. bang Andri hidup Mandiri bersamaKu, poin kedua bang Andri tetap tidak memberikan gajinya seper pun kepadaKu.


Karena menjelang Natal, kami sangat sibuk untuk menyelesaikan orderan. bahkan sampai lembur hingga jam 10 malam. dan biasanya ku lanjutkan sampai jam 1 pagi sendirian itupun jika Mamak tidak menginap di rumah.


Jika mamak melihat Ku terus menjahit sampai larut malam pasti aku di omelin. bahkan kami sering di omelin karena lembur sampai 10 malam, hingga kami kurangi sampai jam 8 malam.


Untuk sementara orderan kami stop, karena rasanya sudah Banyak yang masuk. bahkan kami sudah dua kali order bahan bakal ke pabriknya melalui Saor.


Kami juga ingin menikmati malam natal dan tahun baru, makanya kami stop order dulu. tapi sebelumnya kami sudah membuat kebaya dan dress jadi dari ukuran badan langganan oppung Boru Ruth dahulu. sehingga jika ada yang pesan itu menjadi pilihan terakhir.


Bersyukur nya kami, para pelanggan kami tidak Kecewa. mereka dengan senang membeli dress dan kebaya yang sudah jadi.


Kami tidak kepikiran karena pelanggan, sehingga kami bisa lanjut bekerja dengan tenang.**


Setelah dua Minggu lebih lembur, akhirnya selesai juga semua pesanan dan kami bisa rebahan dengan uang lumayan hasil kerja keras kami.


"cie.... kayaknya ada yang bahagia ini mau bertemu dengan kekasih hati. kan bentar lagi tahun baru, pak polisi pasti pulang tuh." ujar Mak Pingky di sela-sela istrihat kami.


"ngak pulang Abang itu, karena kemarin sudah pulang." jawab Ningsih dengan lemas.


"ah.... masak Ning.... bou aja Mamaknya ngak tahu." sanggah Mamak dan langsung menghubungi Rifan.


Benar saja kata Ningsih, adik-adik Ku tidak satupun yang bisa pulang untuk merayakan natal atau tahun baru bersama kami.


Rasanya lemas, tapi itulah kenyataannya. mudah-mudahan kami bisa bertemu lagi dan bercanda ria seperti sedia kala.


"Ningsih... kenapa ngak kamu kasih tahu bou?" tanya Mamak dengan wajah lemas Nya.

__ADS_1


"maaf bou, kata bang Rifan ngomongnya melalui kak Tiur aja, nanti kak Tiur yang pelan-pelan ngomong ke Bou. tapi tadi Ningsih keceplosan. maaf ya kak Tiur.... maaf ya Bou....


"ngak apa-apa Tiur, terkadang karena kecewa dan gembira kita kadang keceplosan. iya mau gimana lagi. walaupun tidak bisa bersama saat natal dan tahun baru dan mudah-mudahan, kita bisa bertemu lain waktu."


Mamak memeluk kami berdua dan kemudian melepaskan pelukannya, dan Mak Pingky sudah berada di dekat kami dengan raut wajahnya seperti raut wajah merasa bersalah.


"maaf ya, gara-gara....


"ngak ada yang perlu mintak maaf Mak Pingky. memang semua sudah seperti ini, ya mau buat gimana lagi. lagian juga bukan keinginan anak-anak Ku untuk tidak pulang, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan." ujar Mamak sambil memeluk Mak Pingky.


"terimakasih..... untuk kali ini, biar aku saja yang masak, tadi pagi Ku lihat buah labu yang di kebun sudah ada yang kuning, jadi kepengen buat buat kolak sama cemilan berbahan labu deh, bisa ku ambil labu Nya?"


Aku hanya mengganguk, Mak Pingky dan Mamak langsung menuju Dapur. tanaman labu itu sudah mulai tumbuh sejak rumah ini Ku tempati, dan itu Nantulang Mak Saor yang menanam.


Seperti nya kami kedatangan tamu dengan menaiki mobil sedan, setelah ku tunggu tamu itu turun dari mobil sedan itu, ternyata adalah Uda Pak Simson (Uda\= panggilan kepada Adiknya bapak) yang datang bersama Bou Mak Melda (bou disini panggilan kepada adik perempuan atau kakak perempuan kandungan dari Bapak).


Uda pak Simson tinggal di Kalimantan sedangkan bou Mak Melda tinggal di Pekanbaru dan sudah janda. mereka berdua sudah duduk tanpa ku persilahkan.


"Horas Uda, horas Bou... kita ngobrol di dalam yuk, Mamak juga di dalam lagi masak."


"ngak perlu Tiur, atau kamu malu borok mu kami ungkap di depan pegawai Mu?" ujar bou Mak Melda.


"saya sudah biasa dipermalukan Bou, lagipula mereka ini bukan pegawai Ku tapi sahabat dan rekan-rekan kerjaku. Tiur ngajak ngobrol di dalam karena disini agak sempit."


"kita disini aja ngomong." jelas Uda pak Simson.


Tidak berapa lama, Mamak datang menghampiri kami tanpa membawa apapun dari dapur dan langsung duduk tepat di samping ku.


"pantasan anaknya tidak tahu sopan, Mamaknya aja demikian. tamu datang bukan di suguhi minuman." ujar bou Mak Melda dengan sinis nya.

__ADS_1


"kalian bukan tamu tapi pengacau, jika hanya mengatai Boru ku (putriku) mendingan kalian pulang."


"bukan gitu Akkang (panggilan kepada kakak ipar). kami datang kesini untuk mengingatkan Tiur.


Abang Pak Tiur lagi kesusahan, begitu juga dengan mertuanya. UsahaTiur kan lagi bagus-bagusnya, jadi apa salahnya untuk membantu bapak kandungnya dan Mertuanya."


"ngak perlu, kau memang ya pak Simson sangat keterlaluan. kau mau buat keluarga kita hancur seperti keluarga Mak Tiur ini. kau memang keterlaluan ya."


Ucap Inang Uda Mak Simson (panggilan ku terhadap istri Uda bapak Simson). yang datang tiba-tiba diantar oleh ojek pangkalan.


"Mak Simson..... k... o.....k. ... bi...sa. datang kemari?" ujar Uda pak Simpan dengan terbata-bata.


Wajah Uda pak Simson lebih merah lagi ketika Simson, anak pertama Nya. mungkin masih SMA lah bersama Putrinya bernama Nadia yang mungkin masih SMP dan satu lagi yang bernama Markus mungkin masih SD.


"selama ini sudah ku usahan untuk sabar ya pak Simson, secara sembunyi-sembunyi kau mengirimkan uang ke iblis itu.


Saya yang banting Tulang untuk memenuhi kebutuhan kita, tapi seenaknya kamu ngirim ke perempuan gila itu. saya saja tidak pernah ngirim uang ke Mamak Ku. kau......


Sampai bergetar suara inang Uda Mak Simson saat berbicara, ya Tuhan.... aku kira hanya bapakku yang di tipu daya sama Mertuaku sendiri.


"bapak kok kyak gitu, Abang bantuiin Mamak di toko yang di sewa dan gaji bapak di perkebunan tidak pernah ada ke rumah. keluarga bapak itu, kami atau perempuan gila itu" ujar Simson dengan Suara yang ngebas.


"Mak.... bang .... kita bakar aja rumah Perempuan Gilak itu." ucap Nadia yang emosi melihat Bapaknya.


"kita masuk ke rumah yuk, ngak enak di lihat orang."


Ku tuntun adik-adik Sepupu Ku itu masuk ke rumah, dan Mamak yang mengarahkan yang lainnya masuk ke rumah.


Kami sudah duduk di ruang tamu ini, dan Mamak ke dapur. tidak berapa lama Mak Pingky datang menghampiriku karena masakannya sudah masak.

__ADS_1


Ku mintak untuk dibawa langsung ke tempat jahit dan melalui pintu samping Mak Pingky membawa makanan itu serta peralatan makannya.


__ADS_2