
Besoknya paginya kami berangkat ke kampung, Tiga mobil kami pakai. satu untuk keluarga Uda pak Simson dan dua lagi kami pakai, Karena Tulang dan Nantulang Mak Saor ikut pulang bersama kami. kali ini hanya Rifan yang ikut karena Fernando harus balik ke satuan Nya.
Sementara orang tuanya Indah dan Rani sudah pulang duluan bersama rombongan dari kampung, Begitu juga dengan orangtuanya Rada.
Hampir delapan jam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumahnya Tulang pak Saor yang disambut oleh Bou Mak Rada. karena rumah Tulang Pak Saor dipercayakan kepadanya beserta ternak dan semua kebun serta sawah.
"langsung Mandi ya, dan makan malam lalu istrihat. karena besok pagi Raja Huta baru bisa menemani kita pergi rumah pak Iren, karena ada sesuatu hal yang perlu di siapkan."
"apa yang harus di siap kan rupanya Bou?"
Bou Mak Rada hanya menoleh Ku sembari membuka pakaian Elazer untuk di mandikan oleh bou Mak Rada.
"sudah, nanti bou cerita. Makan kemudian mandi. Nindy.... sini Elazer Nya."
Pinta bou Mak Rada, dan kami pun langsung makan sama-sama sementara Elazer langsung di urus oleh bou Mak Rada.
Setelah selesai makan, satu persatu dari kami gantian untuk mandi dan sisanya untuk mengurus Dapur.
Saya yang punya baby, di dahulukan untuk mandi. selesai mandi kami berkumpul di ruang tamu untuk menagih cerita dari bou Mak Rada.
"bou emangnya gimana ceritanya, kok jadi penasaran gini ya?"
Bou Mak Rada hanya menolehku sebentar lalu kemudian fokus ke mangkoknya yang berisi kunyit yang di parut.
"entar ya, ni bou ngasih kunyit parut di jidatnya Elazer."
Ujar Bou Mak Rada Sembari mengoleskan kunyit yang sudah di parut ke jidat Anakku, itu untuk apa ya kira-kira?
"bou, itu kenapa di buat seperti itu?"
Mendengar pertanyaan dari Ku, bou Mak Rada hanya menolehku sebentar lalu menaruh Elazer di ayunan yang sudah dipersiapkan Nya.
Akhirnya Nindy datang mengambil alih tugas Nya untuk menjaga Elazer di ayunan, sembari serius menatap bou Mak Rada yang akan cerita.
"Sekeliling rumah ini sudah di taburi bubut kunyit oleh Oppung Sanggap, dan karena Elazer yang paling muda disini makanya itu kunyit, bou oleskan ke jidatnya.
Kata Oppung Sanggap itu untuk menyangkal pengaruh jahat Oppung Boru Nya. untuk menghindari hal-hal yang kita tidak inginkan.
__ADS_1
kunyit ini juga di percaya mampu menyerap panas yang berlebih, kan Kalian semua baru nyampe dari perjalanan jauh. jadi salah satunya untuk menyangkal segala sesuatu yang jahat."
Jelas bou Mak Rada dan kemudian berhenti berbicara karena hendak minum Kopi. selesai meneguk kopinya, kami semuanya sudah berada di ruang tamu ini.
"ito.... yang sebenarnya terjadi?" bapak bertanya karena terlihat begitu penasaran.
kemudian Mamak mendekati bou Mak Rada, seraya merapikan mangkok tempat kunyit yang diparut dan memberikan tissue basah untuk membersihkan tangan Nya yang terkena parutan kunyit.
"Eda sudah Makan?" Mamak bertanya kepada bou Mak Rada karena beliau menghela napas panjang.
(bou Mak Rada adalah sepupu dari Bapak, yang artinya bou Mak Rada semarga dengan Bapak demikian juga denganku).
"sudah Eda, tadi kami disini sudah makan terlebih dahulu. dan seperti biasa kami bagi tugas dengan Inang Uda Rada." jawab bou Rada setelah agak tenang.
(panggilan Eda disini karena bou Mak Rada adalah sepupu dari Bapak, yang artinya ipar dari Mamak.
panggilan Eda juga di pakai oleh perempuan Batak, sama hal nya seperti kaum laki-laki memanggil teman-temannya dengan panggilan Lae.)
"apa saja yang mau disiapkan Eda? kok agak aneh kurasa?" tanya Mamak yang terlihat sama penasaran Nya denganKu.
"Bou.... kata Oppung boru Ruth, bou Mak Iren itu memelihara Begu ganjang ya? apa itu benar?"
"bukan memelihara bang, tapi meminta pertolongan untuk membuat pelaris atau mintak pertolongan untuk sesuatu yang dianggap Nya penting kepada pemelihara Begu ganjang.
Abang sih ngak nyimak Perkataan Oppung boru Ruth!"
Jelas Mamak kepada Rifan, Adikku itu terlihat garuk-garuk kepalanya Karena salah penyampaian.
"itu sama aja kali Eda Oppung Elazer, kan Mak Iren akhirnya bersekutu juga dengan Begu ganjang Nya.
jadi begini, oppung Boru Ruth dan Mak Iren hanya selisih umur 2 tahun saja.
Mak Iren ini lama menikah, ditambah lagi 3 tahun baru memiliki Anak.
Oppung Boru adalah satu Saksi Nya ketika bou kalian itu menjadi parbegu ganjang, jadi apapun yang di katakan oppung Boru Ruth itu benar adanya.
oppung boru Ruth bukan tipe orang yang suka mengada-ada dan oppung Boru Ruth itu bukan tipe parkompur. (parkompur\= hobi cerita ke orang alias menggosip).
__ADS_1
Cuman beda disini adalah, Mak Iren tidak secara langsung menjadi pemuja Nya, awalnya dia hanya minta pelaris seperti Eda bilang barusan."
"pelaris Bou? kan bou itu ngak pedagang. ngapain mintak pelaris?"
Benar kata Rifan, Mak Iren kan petani dan peternak babi. kalau Ternak selalu laku terjual, ngak pun ada pesta besar. orang-orang butuh daging untuk di konsumsi.
"gimana menjelaskannya ya, pokoknya seperti yang dijelaskan oleh Boru Ruth lah." jawab bou Mak Rada.
"o..... h.........."
Kami semua serentak berkata "oh" dan itu secara tiba-tiba saja.
"sekarang Mak Iren yang kena imbasnya, karena pemberian iblis itu tidak akan pernah Abadi hanya bersifat sementara dan pada akhirnya akan menyerang balik...
'Tiur..... Tiur...... Abang datang dek..... Tiur.. oh Tiur......'
Bou Mak Rada berhenti bicara karena suara laki-laki yang memanggil namaku dari luar, saya kenal suara itu dan pemilik suara itu adalah Andri.
Ternyata Andri datang bersama Bapaknya, dan tangan nya Andri di pegang oleh bapaknya serta oppung Doli Sanggap.
Andri terlihat tidak terurus, dia Begitu kurus. wajahnya kusam dan pakaiannya lusuh.
Bou Mak Rada dan Nindy langsung membawa Elazer masuk ke kamar Nya Saor dan kemudian ditemani oleh Nantulang Mak Saor.
"Andri, Lae pak Iren, oppung Doli Sanggap. silahkan masuk. mari kita bicara di dalam." pinta Tulang pak Saor sebagai pemilik rumah.
Bapak dan Rifan terlihat waspada, demikian juga dengan Simson yang sudah beranjak dewasa.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah, Andri melihat Ku Seraya meneteskan air matanya.
"dari mana aja dek? rumah kita kok ditempati oleh anak Kepala Desa itu? anak kita dimana dek?"
Andri yang bertanya tapi Bapaknya yang menangis, jika di perhitungkan jarak kebun Simaremare ke rumah Tulang pak Saor ini butuh waktu 20 menit untuk jalan kaki.
Mereka bertiga datang tanpa kendaraan di malah hari yang gelap ini. apa yang sebenarnya terjadi?
"Andri.... kalian sudah bercerai, baik secara Adat maupun hukum negara." jelas Oppung Doli Sanggap kepada Andri.
__ADS_1
Andri langsung menangis, disini dia tidak seperti orang gila seperti yang dibicarakan oleh bapaknya kepada kami.