MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Usaha


__ADS_3

POV Rohani (Mak Iren).**


Andri yang uring-uringan membuat Mamaknya semakin pusing, anaknya itu tidak kunjung keluar dari kamarnya.


"Andri.... sudah tiga hari kamu tidak keluar dari kamar ini, keluar sana. temani dulu Tulang mu ke rumah Bapaknya Saor."


Andri begitu nurut nya sama Mamaknya, langsung gerak ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok Gigi Nya.


"Tulang.... ayo kita pigi menemui Bapak si Saor."


Ajak Andri ke Mantan bapak mertua Nya, ternyata Mamaknya juga ikut dengan mereka ke rumah Saor.


Sesampai nya di rumah Saor, yang ternyata kedua orang tuanya Saor Mau berangkat ke kebunnya.


"Lae Oppung Elazer (panggilan kepada saudara ipar laki-laki, Bapaknya Tiur atau Oppung Doli Elazer memanggil Bapaknya Saor dengan panggilan Tunggane).. mari masuk?" sambutan dari Bapaknya Saor.


"oh .... jadi nama pohoppu Ku (Cucuku) itu Elazer ya? ungkapnya sambil duduk kursi ruang tamu.


"iya Lae, lahir dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apapun."


"begitu ya Tunggane, maaf ya sudah mengganggu. tapi yang ingin saya tanyakan?"


"maaf Lae, saya tidak bisa memberitahukan keberadaan mereka kepada Lae. karena itu adalah permintaan dari bere Mak Elazer.


Saya sebagai Tulang nya menginginkan bere itu hidup bahagia di tempat nya yang baru."


"jangan gitu Pak Saor, Itok ku ini Bapaknya Tiur loh, jadi berhak tahu dimana Tiur sekarang." ungkap Mak Iren dengan rasa kecewanya.


"Mak Iren.... apa gunanya saya memberitahu keberadaan Tiur kepada Kalian?"


"maaf Tulang pak Saor, saya ingin bertemu dengan Anakku." ucap Andri yang tengah berharap.


"maaf Andri, sekali lagi. saya tidak bisa memberitahukan kepada kalian, tentang keberadaan bere ku itu. silahkan cari tahu sendiri ya, jika tidak ada yang mau di tanyakan silahkan pulang karena kami mau ke pergi ke ladang." tegas dari pak Saor.


"Tunggane pak Saor, apa Tunggane punya Nomor Rifan?"


"punya Lae Oppung Elazer, sebentar biar ku catat dulu."


Setelah mendapatkan Nomor handphone nya Rifan, Mereka pergi meninggalkan rumahnya pak Saor.


Sesampai di rumah, terlihat Mak Iren mendesak Bapaknya Tiur untuk segera menelpon Rifan dan karena desakan dari Kakaknya itu, langsung lah menghubungi Rifan, setelah tersambung langsung di loud speaker kan.

__ADS_1


'halo.... maaf dengan siapa saya bicara." ujar suara Rifan melalui sambungan handphone tersebut.


Bukannya langsung menjawab, Bapaknya Tiur hanya menangis setelah mendengar suara dari anak laki-laki nya itu.


"ini bapak.... Rifan apa kabarnya?"


"oh..... ngapain bapak nelpon Rifan? Kakak mu itu butuh duit? atau Bapak mau mintak duit untuk membebaskan Uda bapak Simson?


Basi pak, maaf... Rifan lagi sibuk, jika bapak tidak ada urusan lagi, Rifan matikan ya pak."


Tut..... Tut.....Tut.......


Sambungan handphone tersebut terputus, dan air matanya seketika mengalir deras di pipinya.


Handphone tersebut di lihatnya dengan seksama dan menghubungi nomor kontak anaknya yaitu Rifan.


"apalagi sih pak?"


"Rifan..... tolong dengarkan bapak dulu, bapak tahu kalau bapak salah. tapi tolong dengarkan bapak dulu ya amang."


"ya sudah, silahkan bapak ngomong."


"Abang.... kamu tahu dimana Kakak dan Mamak mu tinggal?"


"bang Rifan, bapak mintak maaf. bapak janji tidak akan menyusahkan kalian lagi, tolong kasih tau dimana mereka berada."


"Dengar ya pak, bapak sudah pernah janji seperti ini, tapi malah membuat kakak dan Mamak menangis, sakit Hatiku melihatnya? bapak itu Egois, silahkan urus kakak mu itu."


Tut....Tut...Tut.....


Sambungan telepon tersebut terputus lagi, dan Bapak Tiur kembali menyeka air matanya. dia tidak menyangka sikap anak-anaknya terutama Rifan begitu sadis kepadanya.


Permintaan maafnya sudah tidak berlaku lagi setelah pernah berlaku dan disia-siakan. pak Tiur hanya bisa meratapi nasibnya yang ditinggalkan oleh keluarganya sendiri dalam keadaan terpuruk.


"Tulang..... apa lagi yang kita harus lakukan? saya ingin bertemu dengan Anakku!.


"anak mu? bukannya kau sudah menyangkalnya?"


"sudahlah.... Tulang ngak perlu komplain mengenai hal itu, yang penting Tulang harus cari jalan aku bisa bertemu dengan Anakku segera."


"siapa kali kau rupanya memerintahkan Aku seperti ini? kau itu bere, jaga sopan santun mu."

__ADS_1


"Eh Tulang... kalau numpang itu sadar diri, Tulang laksanakan aja yang saya katakan!


"kau yang Numpang di rumah ini, kalian itu tidak pernah punya rumah. ini rumah di renovasi dari hasil ladang Mak Tiur Nantulang mu. kau.... makin melunjak aja ku tengok."


"Tulang yang pergi dari sini, ini Rumah keluarga Ku." ujar Andri dengan membentak keras Pak Tiur.


"Mak Iren.... bawa anak manja mu ini keluar dari rumah Ku ini. saya semakin muak melihat kalian berdua."


"Itok...... jangan seperti itu itok.... bere mu itu lagi stres berat karena di tinggal oleh anaknya."


Mamaknya Andri langsung bersujud di kaki pak Tiur karena ucapan dari anaknya sendiri yang membuat Pak Tiur tersinggung.


"Itok... tolong jangan usir kami dari rumah ini, jika Itok mengusir kami dari sini. kami tinggal dimana Itok.....


Ucap Mamaknya Andri yang bersujud di kaki Bapaknya Tiur. dan Andri di tarik ikut bersujud di kakinya.


"Tulang.... maaf kan Andri, janji tidak akan bicara kasar sama Tulang."


Bapaknya Tiur hanya bisa berlaku dari hadapan mereka, dia pergi meninggalkan rumah itu.


"ini semua gara-gara istri mu itu, semua jadi kacau balau karena Tiur. lihat aja Tiur, akan ku buat perhitungan dengan Mu." ucap Mamak Andri tiba-tiba.


"Mak.... kita gugat balik Tiur, aku punya kenalan pengacara yang hebat yang bisa membantu kita."


"tapi uangnya dari mana Andri? kamu pikir sewa pengacara itu tidak mahal?"


"tenang Mak, cukup 10 juta Rupiah. sisanya di dapatkan setelah kita menang nanti"


"ok kalau begitu, coba hubungi pengacara kenalan mu itu. kita harus buat perhitungan dengan Tiur."


Ujarnya Sambil menatap anaknya dengan tatapan sinis. Dendam yang membara akan perbuatan Tiur kepada mereka.


Andri langsung mengambil handphone dan terlihat menghubungi seseorang, tidak berapa lama Andri serius ngobrol dengan seseorang itu.


Setelah sekian lama menerima menelpon, Andri tersenyum kepada Mamaknya. seakan-akan ada kemenangan yang menghampiri mereka.


"Gimana Andri? apakah teman mu bisa membantu kita?


"pasti dong Mak, besok kita temui aja dia Medan, karena sekaligus memberikan panjar 15 juta kepada pengacara itu Mak. kita akan lihat siapa yang akan menang."


"betul itu mang, kita harus buat perhitungan dengan Tiur dan keluarganya. dia Belum kalau kita ini hebat dan berkuasa.

__ADS_1


Akan Andri dan Mamak nya menang melawan Tiur?


__ADS_2