MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Pelajaran Hidup.


__ADS_3

"Sanggap, kenalin dong calon Mu ke Mamak. masa main rahasia sama Mamak." ucap Mamak kepada Sanggap.


Sanggap langsung berdiri sembari melihat handphonenya dan kemudian tersenyum saat menoleh ke arah Mamak.


"Tunggu bentar ya Mak."


Jawab Simson lalu keluar dari rumah, tidak berapa lama keluar dari rumah. Simson datang dengan menggandeng gadis Cantika.


"Bintang...."


Ucap Mamak dan kemudian tersenyum lebar setelah melihat Bintang, gadis cantik yang dibawa oleh Simson.


Mamak langsung berdiri dan kemudian memeluk Bintang, setelah itu Bintang bersalaman dengan kami semua.


Bintang adalah keponakan Mamak, putri pertama dari adik sepupu laki-laki Mamak dan itu artinya Bintang masih pariban Nya Simson.


Bintang adalah seorang bidan desa berstatus pegawai negeri di kampung seberang, tidak jauh dari kampung kami ini yang masih satu kecamatan. jaraknya hanya 1 kilometer saja.


"Oppung Doli, bapa Tua, Mak Tua, Tulang dan Nantulang, bou Mak Rada, kak Mak Elazer, bang Rifan, Simon, Nadira dan Markus Adikku.


(Kakek, bapa Tua panggilan Kepada saudara laki-laki yang lebih tua dari pihak bapak dan sepupu laki-laki yang lebih Tua dari bapak. pasangan bapa Tua adalah Mak Tua.


Dalam hal ini juga berlaku panggilan kepada Sepupu dari laki-laki dari Bapak yang tingkatan Marga nya lebih tinggi. hal ini dilihat dari selisih marga).* dalam tradisi Batak Toba**.


Kenalin, ini Bintang. calon istriku. kami berencana menikah tahun depan, mungkin sekitar bulan Maret. karena tahun ini Adiknya Bintang akan Wisuda, yaitu Sasa dan Baris.


Kami memilih bulan Maret agar Bintang istrihat dulu."


Begitu kata perkenalan dari Sanggap, sebenarnya kami sangat mengenal pribadi Nya Bintang, itulah sebabnya mamak begitu bahagia ketika Sanggap menggandeng Nya datang kemari.


"leleng mai, kan anggini si Bintang Wisuda bulan 10 taon non, buasa ikkon taon depan hamu marhalsohotan? dang boi huroha bulan 12 on taon on? *dialog Batak Toba*


(lama kali, Adik nya si Bintang kan wisuda bulan Oktober tahun ini, kenapa kalian Nikah nya tahun depan di bulan Maret, kenapa ngak bulan Desember tahun ini aja? )


Unang pola mabiar ho Oppung, nga Godang husimpan hepeng hasil ni pinahan ta. anggo Sinamot dahon maradat nga sukkup boi, museng ngak tapature jabu mu." *dialog Batak Toba*

__ADS_1


(ngak usah kwatir Cucuku, sudah banyak uang ku simpan hasil menjual ternak kita. Sinamot dan uang pesta Adat sudah lebih dari cukup itu.)"


iya, Oppung Doli Sanggap protes karena terlalu lama menunggu mereka menikah, kalau bisa pun bulan depan.


Sanggap adalah Pegawai negeri sipil, demikian juga dengan Bintang. Ternak Nya Sanggap banyak, dan Kebun kopi serta sawah, apalagi coba?


Bintang langsung mendekati Oppung Doli Sanggap, dan memegang kedua tangannya.


"Oppung Doli, kan bang Sanggap baru lulus wisuda program S2. jadi bang Sanggap ini lagi proses untuk menjadi Kepala sekolah.


Mungkin butuh waktu setahun ini lah oppung, lagi pula Bintang ingin mengumpulkan uang dulu untuk membeli perhiasan oppung. Oppung tahu kan kalau Bintang yang menyekolahkan adek-adek.


Jadi sabar dulu ya Oppung, tahun depan nya kami Oppung, ngak lama lagi kok."


Oppung Doli Sanggap terdiam, tapi mengeluarkan dompet kecil dari tas kecil kecilnya, biasanya tempat tas kecil tempat rokok dan uang Nya.


Ternyata isinya adalah cincin dan kalung emas perhiasan, lengkap dengan surat nya yang sudah usang.


"Bintang pahoppu Ku, on ma titipan ni Inong ni si Sanggap tu calon inatta na. pos do rohakku mamereng ho pahoppu Ku. *dialog Batak Toba


(Bintang Cucuku, inilah titipan dari almarhum Mamaknya Sanggap. khusus untuk calon istrinya.


Saya bahagia dan saya yakin kalau kamu adalah calon terbaik untuk Sanggap, terima lah pemberian ini dengan sukacita.)


ujar Oppung Doli Sanggap Sembari memberikan cincin dan kalung itu, Oppung yang langsung memasukkan cincin itu ke jari manisnya Bintang dan mengalungkan ke lehernya.


Kalau di taksir, kedua perhiasan itu mungkin 30 gram. Bintang terlihat bahagia saat menerima hadiah emas tersebut.


Rifan dan Simson langsung mendekati Oppung Doli Sanggap, wajah mereka berdua terlihat penasaran.


"oppung Doli, buasa marobam mas oppung? bereng ma tas mon, dang mabiar Oppung Peut mas i ? *dialog Batak Toba


adong do nian Hepeng ni oppung, hu tongos pe sogot tas ni oppung da. asa gatti tas mon ate." *dialog Batak Toba


(oppung Doli, kenapa oppung bawa mas Nya jalan-jalan? ngak takut oppung jatuh? liat lah tas oppung ini, ngak takut dari sini?

__ADS_1


Duit oppung ada, ya sudah besok ku kirimkan tas baru untuk Oppung ya).


ucap Rifan kepada Oppung Doli Sanggap, dan Oppung itu hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Rifan.


Ternyata mas perhiasan itu adalah titipan almarhumah Inang Uda Mak Sanggap sengaja di taruh di dalamnya, ada kantung khusus di dalam tas itu, tujuannya agar Oppung Doli Sanggap tidak lupa menaruhnya.


(inang Uda adalah panggilan kepada istri adik laki-laki dari pihak Bapak atau adik sepupu laki-laki Bapak, dan pasangan Inang Uda panggilan bapa Uda, dalam tradisi Batak Toba).


Maklum sudah Tua, jadi kadang-kadang lupa letak suatu benda.


Tasnya itu terbuat dari kain yang tebal, khusus jahitan tangan almarhumah Inang Uda Mamak nya Sanggap. yang diberikan kepada Oppung Doli.


Kata Mamak, Almarhumah Inang Uda Sanggap adalah menantu kesayangan oppung Doli Sanggap, karena almarhumah menganggap Oppung Doli sebagai Bapak Nya.


Dulu tempat pengaduan almarhumah yaitu Oppung Doli, tidak sedikit pun almarhum Uda bapak Sanggap marah pada istrinya. sebab ada Oppung Doli Sanggap yang selalu membela almarhumah.


Saat menceritakan hal itu, Oppung Doli Sanggap sampai meneteskan air matanya.


"oppung, aha do sipanganon ni Oppung? buasa boi Oppung sehat Hian rasi saunnari? aha do rahasia ni Oppung?" *dialog Batak Toba*


(apa yang Oppung makan? kenapa oppung bisa sehat kali seperti ini? apa rahasia nya Oppung Nya?)


Simson bertanya kepada Oppung Doli Sanggap.


Oppung Doli Sanggap berkata, dulu Nya Oppung Doli dan istrinya mengkonsumsi makanan tanpa bahan pengawet dan penyedap buatan. semuanya serba alami, makan tidak berlebihan, tetap beraktivitas dan tidak lupa bersyukur.


Jangan suka bersungut-sungut, ikhlas dan terus bergiat. ajarkan hal baik kepada anak-anak dan berusaha menjadi yang terbaik.


Jika anak-anak menyeleweng dari perkiraan kita, biarkan saja tidak usah di pikirkan.


Hidup hanya sekali, dan jangan biarkan gosip dari orang lain menyudutkan pikiran kita.


Kita yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika tidak suka jauhi dan jangan musuhi. jangan dendam tapi harus di ingat biar jangan masuk dalam perangkap yang sama.


Begitu besarnya pelajaran hidup yang kami peroleh dari Oppung Doli Sanggap, dan inilah saatnya untuk mempraktekkan nya.

__ADS_1


__ADS_2