
"seperti kata Mak Daniel, Amang kunjungilah kami sesekali.
Saya janji pak, akan membiayai perobatan inang di rumah sakit nantinya.
Yang penting Amang sehat-sehat, bisa beraktivitas seperti biasanya di kampung dan semua terserah Amang deh.
dek.... Mak Alex sayang Ku, maaf... Abang tidak bisa memaksa amang untuk tinggal bersama kita.
Abang saja gagal memintak bapak dan Mamak ku untuk tinggal bersama kita.
Asal adek tahu, Abang juga berharap kalau Amang bisa tinggal bersama kita."
ujar suami Nya Maria dan sorot matanya yang terlihat ikhlas untuk bapak mertuanya.
Tapi namanya juga orang tua, apa bedanya dengan bapak dan mamak ku sendiri.
Aku menyatakan sanggup untuk membiayai hidup Mamak dan bapak disini, demikian juga dengan adek-adek yang selalu bersedia memberikan apapun kepada bapak dan mamak.
Tapi apa?
Bapak dan Mamak tetap kerja seperti biasanya, katanya badan sakit-sakitan jika hanya berdiam diri.
Akhirnya kami anak-anak bapak dan mamak sepakat untuk membiarkan bapak dan mamak beraktivitas sebagaimana biasanya.
Yang terpenting bapak dan mamak bahagia dan sehat-sehat selalu.
"terimakasih ya pak Alex, Abang sayang ku. terimakasih atas semua pengertian dan kasih sayang mu pak Alex."
Jawab Maria dan itu adalah pemandangan yang membuat bapak nya Maria tersenyum kembali.
"maaf ya amang hela, maaf ya Boru ku. badan ini akan terasa sakit-sakitan jika hanya berdiam diri saja.
istrihat cukup sehari atau dua hari saja, selebihnya ingin kerja lagi.
Disini kami berdua bersama Tulang mu Boru, punya lahan pertanian, ya memang ngak terlalu luas.
Bapak masih bisa menanam cabe, sayur-sayuran dan tanaman lainnya. hasilnya kami jual dan uang nya kami bagi dua. di tambah lagi bapak masih digaji oleh Eda kalian Mak Elazer, sebagai tukang kebun."
"baiklah kalau Amang, saya dan Bapaknya Daniel sudah koordinasi juga. nanti teman nya bapak Daniel yang akan membawa inang ke rumah sakit dekat sini.
Kami juga dekat, demikian juga dengan amang. nanti sama-sama kita menjaga Inang, dan mudah-mudahan bisa sembuh."
__ADS_1
Ujar Suami Maria yang menyahut omongan bapak mertua nya.
"Eda Mak Elazer, saya sangat berterimakasih kepada Eda, sekaligus saya juga minta maaf karena akan merepotkan Eda.
Saya titipkan bapak disini Eda, kalau terjadi apa-apa, hubungi saja aku Eda.
Betapa bodohnya adikku itu mensia-siakan kamu Eda ku sayang, kurang cantik apalagi Eda.
paras kecantikan Eda, sama dengan kebaikan Eda. mungkin jika aku berada di posisi Eda, entahlah Eda. sulit untuk mengungkap nya."
"benar kata Mak Daniel Eda, kamu itu berhati malaikat. dan aku yakin, Andri akan menyesalinya.
Aku janji kepada Eda, jika Andri masih mengganggu Eda, saya akan pasang badan untuk Eda.
ini bukan karena bapak akan tinggal disini, tapi ini murni sebagai semasa wanita."
Maria mendukung omongan dari Uli, dan lagi-lagi kami hanya bisa berpelukan.
ini bukan soal kemenangan, tapi uneg-uneg atau semua keresahan yang aku alami dan itu yang aku ceritakan.
Sesama wanita aku mendapatkan simpati dari kedua kakak perempuan mantan suamiku ini, Maria berkata ini pembelaan terhadap sesama wanita.
"Mak Alex, Abang mau ke rumah sakit untuk memastikan sekaligus mendaftar Inang nantinya.
"uhmm.... ngak usah jemput bang, anak-anak sama Ku kok. ntar aku pulang nya bareng Mak Daniel aja.
Awalnya kami berdua datang kesini mau jahit kebaya, lagian masih kangen sama bapak."
"baiklah kalau begitu, Abang pamit ke rumah sakit ya."
Suami Nya Maria pergi ke rumah untuk mengurus administrasi, sementara kami masih ngobrol panjang lebar disini sekaligus mengukur badan kakak beradik ini.
Dari penuturan Maria dan Uli, kakak mereka yang paling besar yang bernama Iren. sudah Biarawati yang sekaligus mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) dibawah naungan Gereja Katolik.
Iren adalah murid terakhir dari sekolah PSG (pendidikan sekolah guru). yang kemudian memutuskan menjadi biarawati.
Semua itu terlepas dari semua pergumulan hidup nya. banyak rentetan peristiwa yang membuat Iren menjadi biarawati.
Dulu Iren berada di jogjakarta, tapi saat di tempatkan di salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang tidak dari sini juga.
Sementara Sarah dan Devi membuka usaha toko pakaian di tanah Karo, setelah pulang dari Malaysia mereka berdua sepakat untuk membuka toko pakaian di tanah Karo tepatnya di Brastagi.
__ADS_1
Gabe yang dulunya satu hati dengan Mamak yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Mamaknya sendirian karena merasa malu.
Gabe di berikan modal oleh Sarah dan Devi untuk membuka toko aksesoris di samping toko kedua kakaknya itu.
Ke enam kakaknya Andri ternyata berada di Sumatra Utara dan tidak jauh dari tempat tinggal ku ini.
Mereka mengambil jalannya masing-masing, dan hanya Gabe yang belum menikah.
Sarah dan Devi sudah menikah dengan warga setempat.
Tapi yang menjadi pertanyaan Ku adalah, dulunya Uli menyukai anak perantau di kampung kami.
Namanya Hendro, dari photo keluarga yang ditunjukkan oleh Uli. suaminya itu bukan Hendro.
"Eda Mak Daniel, bagiamana dengan Hendro? apa yang terjadi?"
Aku bertanya dengan sangat hati-hati karena takut Uli tersinggung, tapi malah tersenyum kepadaku.
"saat itu kami baru kenalan, tapi dengan ganasnya mamak mintak Sinamot (mahar) 150 juta serta rumah yang mewah versi kampung kita.
Alasannya karena mamak memberikan Sinamot sebanyak itu kepada Eda, tapi kenyataannya apa? kita sama-sama tahulah kemana Sinamot digunakan.
Hendro sebenernya bersedia, tapi aku nya yang tidak mau.
Hendro dan keluarga besarnya terus-menerus di teken Mamak, aku malu Eda.
Belum juga jadi istrinya, tapi mamak sudah memeras Hendo dan keluarganya.
Aku tidak mau kejadian yang di alami kak Iren terulang lagi kepadaKu, kak Iren malu karena calon suaminya di peras habis-habisan oleh mamak.
Jika seandainya aku jadi istrinya Hendro, aku gak bisa membayangkan bagaimana keluarga kelak memperlakukan diri ku yang rapuh ini.
Aku belajar dari kamu Eda, mamak memberikan Sinamot sebanyak 150 juta Rupiah. walaupun itu bukan dari mamak, tapi mamak malah mengungkitnya.
Lihat perlakuan mamak dan Andri kepada Eda, hanya karena Sinamot yang besar Eda diperlakukan layaknya seorang budak.
Jujur sejujurnya, Aku mengakui ketangguhan Eda.
Kuat, tabah, bijaksana dan punya pendirian yang teguh dan kuat. aku tidak membayangkan jika aku menjadi Eda, mungkin aku sudah gantung diri.
Buktinya saja Eda, aku melarikan diri dari masalah. seharusnya aku selesaikan, tapi aku tidak sanggup Eda.
__ADS_1
Aku bukan dirimu yang hebat Eda ku sayang, kamu benar-benar wanita yang tangguh, ibu yang hebat dan wanita karir yang luar biasa."
Ujar Uli dengan ke-dua matanya yang berbinar-binar, yang akhirnya air matanya mengalir di pipinya.