
"Andri, dari kamu tahu kalau kami sudah sampai di sini?" tanya Mamak penasaran dan juga terlihat geram karena permintaan dari Andri yang mengajakku untuk rujuk lagi.
"Aku punya firasat kalau Tiur sudah di berada di kampung ini, dan rumah ini satu-satunya tempat Tiur bernaung jika sudah berada di kampung ini." jawab Andri dengan pasti.
"firasat? terus kamu punya firasat kalau anak mu juga pulang kampung? tidak mungkin kan Tiur Meninggal anaknya sendirian di medan, ya pastinya akan ikut bersama Mamaknya datang ke kampung ini.
Tapi saya lihat kamu ngak bawa Apapun untuk bertemu dengan anak mu, saya ragu dengan firasat Mu.
Disini siapa sebenarnya yang bodoh, kamu yang pura-pura bodoh atau kami yang terlihat bodoh mempercayai firasat mu itu."
Sanggah Mamak dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuat Nya terdiam seketika.
"benar kak, saya juga dari tadi melihat dan memperhatikan Andri seperti orang yang bersandiwara. seperti ada yang di tutupi.
Katanya Andri sudah di pasung dan dianggap gila oleh warga sekitar, tapi kok bisa dengan entengnya meminta Mak Elazer untuk jadi istri mu lagi.
Dari yang gila hingga di pasung dan cara bicara mu tidak seperti orang gila pada umumnya.
Andri.... apa sebenarnya yang kamu inginkan?
Inang Uda Mak Simson juga terlihat curiga dengan gerak geriknya Andri, karena sikapnya yang tiba-tiba berubah drastis.
"Apa kamu pura-pura gila agar tidak membayar denda adat?
atau kamu ingin merencanakan sesuatu yang lebih besar lagi?
Sebenarnya kamu rindu ngak sih sama anak mu?"
Pertanyaan Mamak bertubi-tubi kepada Andri, dan sikapnya Andri Persis seperti dulu. tidak menerima saran, pendapat dan merasa paling benar, persis seperti Mamaknya yang Selalu merasa paling benar.
"benar kata Mamak, istri-istri Tulang ini memang penghasut. kali berdua itu orang luar, jadi tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami."
"Andri.... jaga omongan Mu, dimana sopan santun mu? apa maksudmu Andri?"
Bentak Bapak Nya kepada Andri, tadi perkataan Nya begitu manis sekarang malah seperti Mamaknya yang hobi menyalahkan orang lain.
"bapak..... kenapa sih selalu ikut campur dengan urusan Ku?
__ADS_1
oh iya, bapak senang kan kalau Tiur menang hak Asuh anak.
Dasar bapak tidak berguna, bisa-bisanya Bapak membuat pernyataan agar Tiur bisa menang di pengadilan. ingat iya, Andri tidak akan tinggal diam."
Ucap Andri yang menyalahkan Bapaknya sendiri, Bapak terdiam dan kebingungan dan kami semua bengong seperti orang bodoh melihat sikap dari Andri.
"Andri, apa sebenarnya mau mu? kau jangan mempermainkan kakak Ku. dari awal ku tengok sikap mu ngak pernah benar terhadap kakak, apa mau anjing?"
Ujar Rifan Adikku yang terlihat begitu emosi, Andri dengan percaya dirinya seperti ingin menantang Rifan.
"eh Rifan, jangan mentang-mentang kau Aparat Negera suka-suka hati mu menghina ku. kau itu bersyukur kakak kau ku nikahi, jika tidak itu akan jadi aib karena hamil duluan...
plak....plak... prak.....prak....
Dua kali tinjau melayang di pipinya Andri oleh Rifan yang terlihat sangat emosi di susul dengan tendangan Nya yang membuat Andri tersungkur hingga terbalik.
Bapak dan Tulang pak Saor melerai Rifan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap Andri lagi.
"bang... bang Rifan, cukup Bang. jangan kotori tangan mu dengan manusia sampah seperti ini. cukup ya bang!"
ujar bapak yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan Andri.
ucap Tulang Pak Saor, yang juga berusaha menahan Rifan yang jauh lebih kuat dari bapak dan Tulang pak Saor.
"hundul ma ho Oppung, asa tabege Jo Hata ni pamangus on."
(duduklah Cucuku, kita dengar dulu apalagi yang dikatakan oleh manusia sampah ini).
Demikian ujar Oppung Sanggap, yang juga heran dan bingung akan Sikap Nya Andri.
"oppung, Kakak ini wanita baik-baik oppung dan Rifan..
"olo Rifan, huboto doi pohoppu Ku. sude luat toa di iboto do iboto mi sidenggan roha, Lae mo do jolma pamangus.
(benar itu Rifan, semua orang kampung tahu kalau Kakak mu itu perempuan baik-baik, dan orang kampung ini juga tahu kalau mantan suami kakak ini adalah manusia sampah).
Pamalum ma raham pahoppu Ku, Gabe Sega annon pangkat mi Alan jolma pamangus on.
__ADS_1
(Tenang kan hati mu cucuku, nanti rusak citra sebagai aparat karena manusia sampah ini).
Demikian ujar Oppung Sanggap, dan Mamak yang akhirnya memeluk Rifan dan Adikku itu akhirnya tenang juga.
Perlahan Rifan duduk dekat Ku, lebih tepatnya duduk di depanku.
Sikap Rifan mengingingatkanku akan masa kecil dulu, ketika Andri datang menghadang kami berdua, dan Rifan langsung berdiri di depanku untuk membela kakak nya ini.
Saat itu Andri kalah berkelahi dengan Rifan dan sesampainya kami di rumah, bapak memukul kami berdua atas aduan dari Andri ke Mamaknya.
Dulu Bapak sangat membela Andri, karena Bere Nya. (keponakan dari anak kakak kandungnya). sejak kecil Rifan sangat membenci Andri terlebih-lebih denganKu.
Gara-gara Andri, Adikku Rifan demam karena dua pukul bapak menggunakan gagang sapu. dan itu masih membekas di ingatan Ku sampai sekarang.
"Andri, mau mu sebenarnya apa? " tanya bapak Uda Simson yang terlihat menahan emosi.
"Tulang anjing nya kau, gara-gara istrimu yang pembawa sial..
prak...prak.... Prak...prak.... Prak...prak....
Kali ini Simson yang menendang Andri dan disusul oleh Rifan, dan tidak ada yang melerai. setelah Andri babak belur dan hidung serta Kepala nya mengeluarkan darah barulah Mamak dan Inang Uda mak Simson memeluk mereka masing-masing.
"sekali lagi kau hina Mamak Ku, ku kubur kau hidup-hidup." teriak Simson yang masih dipeluk Inang Uda Mamak Nya.
"sudah bang, cukup ya bang. yok Duduk bang." ujar Inang Uda Mak Simson.
Akhirnya mereka berdua duduk kembali di tempatnya masing-masing, Nadira langsung memeluk Simson dan demikian juga Rifan langsung ku peluk.
"ingat ya, saya akan mengajukan banding lagi. dan saya akan menuntut kalian berdua, terutama kau Rifan. kau sebagai aparat negara seharusnya melindungi warganya..
prak.... prak.... Prak.... prak.... Prak.... prak....
Tendangan Bapaknya melayang ke tubuh Andri, dan lagi-lagi tidak ada yang melerainya. terlihat Andri sudah lemas Begitu dengan Bapaknya yang terlihat puas menghajarnya.
"jangan tanggung-tanggung untuk menuntut, tuntut saya sekalian. dasar manusia tidak berguna, sampah. kau sama saja dengan Mamak Mu yang merasa paling benar."
Ujar Bapaknya yang terlihat menahan emosi Nya, Tulang Pak Saor terlihat menghubungi seseorang dan setelah itu duduk lagi dekat istrinya.
__ADS_1
Tidak ada yang membantunya, manusia sampah itu terlihat meringis kesakitan dan berusaha untuk duduk lagi.