MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Putri nya Sendiri membenci Mertuaku


__ADS_3

"Halo..... disini masih ada manusia loh, kok malah melamun."


Suara Uli yang cempreng membuat lamunanku buyar, tapi kenapa Uli belum juga pulang padahal sudah aku usir secara tidak langsung.


"kakak kemari mau ngapain?"


Seharusnya Aku memanggil nya Edak, tapi karena dia anak rantau mungkin terlalu akrab jika aku memanggilnya Edak. panggilan Edak di identikkan dengan keakraban.


Uli langsung tersenyum mendengar pertanyaan Ku, dan kemudian berdiri sambil melihat-lihat dress Indah dan Rani.


"benar kata Gabe, dress ini sangat cantik. oh ya Tiur. aku juga mau dress secantik ini dong, nanti mau aku pakai di pernikahan Ferdinan, anak kepala desa itu. waktunya masih cukup kan Tiur? karena Sabtu ini pesta pernikahannya. bisa kan Tiur?"


(Mungkin karena Uli anak rantau dan Aku masih dibawah umurnya sehingga dia tidak memanggilku dengan panggilan Edak).


"maaf kak Uli, tidak terkejar lah. ini juga harus menyelesaikan 3 kebaya dan 2 lagi dress, maaf kak. oh iya dikampung ini ada lagi penjahit yaitu oppung Boru Ruth, dan beliau juga sudah sangat berpengalaman. kak Uli coba ke sana deh."


Permintaan dari Uli kutolak secara halus, sebenarnya masih bisa aku kerjakan karena pesanan sudah hampir selesai. tapi aku malas berhubungan dengan keluarga Suamiku, takutnya nanti jadi panjang urusannya. malas jika harus bertemu si mulut Jabir itu, ya siapa lagi kalau bukan ibu mertuaku.


"Aku tahu kalau Tiur sering adu mulut dengan Mamak, jangankan akur dengan Tiur. aku anaknya sendiri dari dulu sampai sekarang tidak pernah akur. gara-gara Mamak sampai sekarang belum Nikah.


Edak ......(Edak \= panggilan untuk ipar, dan juga bisa di pakai sesama perempuan Batak, agar akrab katanya. panggilan kakak kepada iparnya itu karena pengaruh budaya dari luar).) jangan ikut memusuhiku dong, Aku datang ke sini atas rekomendasi dari Saor. kemarin itu ada pernikahan dikampung sebelah, saat acara muda-mudi Nya Saor ikut juga, nah disitu si Saor. Putri Tulang mu itu, pamer Kebaya cantiknya. kata Saor kamu menjahit Nya.


Tadi pagi juga kak Gabe bilang kalau kamu ahli dalam menjahit karena dilihatnya pajangan dress itu, tolong lah jahitkan untukku. dress yang aku punya terlalu seksi, tidak pantas di pakai di kampung ini. tolong lah Edak Tiur.


Edak Tiur.... kawan mu berantam itu mamak, jangan lah bawa-bawa ke bisnis. gini aja lah edak Tiur, anggap aja aku orang lain atau kenalan Saor seperti yang pesan dress itu.


Edak Tiur.... aku mau jahitkan dress juga, tolong ya.!"


Uhmmm.... ya sudahlah, namanya juga kerjaan. kalau Uli suka ya syukur, kalau di hina nya ya resiko.


"ok, sini biar Tiur ukur badan kakak."


Langsung deh si Uli senyum sumringah dan mendekat ke arahku serta merentangkan kedua tangannya, akhirnya selesai ukur juga dan Uli kembali duduk.

__ADS_1


"kak, pilih kainnya dan warna Nya."


(karena masih merasa sungkan memanggil nya Edak, takutnya di anggap nya saya sok akrab)


Langsung dia memilih dan warna biru muda menjadi pilihannya, dan menurut ku itu cocok dengan warna kulitnya yang hitam manis.


"Edak Uli... warna itu ngak cocok dengan kulit hitam manis mu itu. menurut yang cocok warna merah muda atau warna pink sekalian, dan tambahan rekomendasi warna hijau toska itu. tapi yang paling aku rekomendasi warna merah muda dan pink."


"gitu ya, ya sudah biar seperti Saor yang kecentilan itu. Aku pilih warna pink aja deh." jawab Uli yang akhirnya memilih warna pink.


"ini daftar model dress, silahkan Edak pilih-pilih...


"ngak usah repot-repot, toh juga aku ngak ngerti. pokoknya buat aja yang cantik ya."


"baiklah Edak, eh kak Uli."


"santai aja." jawabnya yang mulai sok akrab.


"begini saja, Edak besok datang untuk fitting. nah disitulah Edak Uli akan lihat model desain nya dan disitu bisa dilihat kekurangannya."


Uli berlalu begitu aja, dan uang panjar nya diberikannya satu juta. ini bukan panjar tapi bisa untuk membuat empat dress sekaligus.


Rasa kantuk sudah hilang dan langsung lanjut aktivitas menjahit, dress dan Kebaya Indah dan Rani sudah selesai.


Dress dan Kebaya dua sahabat itu kuberi sentuhan terakhir berupa Payet untuk menambah kesan mewahnya, dan akhirnya selesai.


Pola dress untuk Uli sudah ku buat sekarang tinggal gunting bahan, yang aku buat dua model uhmmm jadi deh. selanjutnya menjahit Nya agar bisa di fitting besok.


Ingin membuatnya kebaya dan untuk bawahannya akan Ku padukan dengan Sarung batu hadiah pernikahan, karena sangat banyak di dalam lemari.


"selamat siang kak Tiur..... " ucap kedua sahabat itu dengan tersenyum.


"selamat siang Adek-adek ku yang cantik."

__ADS_1


Aku menjawab salam dari Indah dan Rani yang sudah tiba di rumah untuk mengambil dress dan Kebaya pesanan mereka.


Tergantung di lemari yang ber hanger, Indah dan Rani langsung menyambar dari tanganKu dan senyuman kebahagiaan mereka berdua adalah kepuasan bagiKu.


"cantik kali kak...."


"iya.... iya ampun, kok bisa jadi cantik kali gini ya." ujar Indah yang menyahuti omongan Rani.


Mereka berdua memberi kekurangannya yang seharusnya 130 ribu lagi, tapi di beri 300 ribu lagi.


"dek... kebanyakan ini, kebaya kalian sudah lunas, tinggal dress seharga 130 ribu."


"ngak apa-apa kak." kata mereka berdua dengan kompak.


"iya, aku puas dengan hasil jahitan kakak. uang itu Indah kumpulin dari gaji yang diberikan mamak ku karena berpartisipasi memelihara ternak."


"sama kak, Rani juga gitu. jadi tidak serta Merta mintak dari mamak, terimakasih kak. kami pamit pulang... dah kak Tiur....


Ujar Rani dan mereka berdua langsung pulang, karena ini jadwal ternak untuk makan siang alias nyemil maka pintu dan jendela aku tutup.


Selesai menutup pintu dan jendela, baru saja melangkah sudah suara ketukan pintu. aku hanya mengintip dari lubang kecil itu, karena suara itu familiar.


Benar kan itu adalah Gabe, kakak Iparku si mulut Jabir yang sama seperti Mamaknya. malas menghadapi Nya, akhirnya pintu tidak ku buka. dan sengaja berdiam diri di ruang tamu.


Untung saja aku tidak langsung ke belakang rumah, karena akhirnya si mulut Jabir itu menggedor-gedor pintu dapur dan tetap aku biarkan. aku memang tidak tahu tujuan nya datang kemari tapi yang jelas aku malas bicara dengan Nya.


Suara ketukan itu sudah hilang, setelah ku intip lagi wanita si mulut Jabir itu sudah pergi dan aku keluar untuk melihat ternak Ku, lebih baik melihat ternak dari melihat si mulut Jabir itu. lebih baik menghindar dari berdebat dengannya, buang-buang tenaga dan waktu.


Selesai urusan ternak dan kebun sayur, langsung mandi dan istrihat, kali ini aku memilih istrihat di kamar agar lebih tenang.


"Edak Tiur.... oh Edak Tiur....."


Baru saja rebahan sudah terdengar suara memanggilku dari luar dan Itu adalah suara milik Uli, mau ngapain lagi sih dia?

__ADS_1


Setelah ku intip Uli datang bersama Gabe, karena ingin istirahat pintu tetap tertutup untuk mereka berdua.


__ADS_2