
Sesuai dengan prediksi Ku, kalau Andri dan keluarganya tidak akan berhenti mengganggu Ku. bahkan mereka bisa tahu kalau aku tinggal di Medan.
Lebih tepatnya masih kabupaten Deli Serdang, dari pusat kota Medan butuh waktu 1 jam jika tidak macet.
Pak Erik mengabari Ku, kalau beliau sangat kesal saat berhadapan dengan Andri dan Mamaknya, sampai-sampai mereka di usir secara halus oleh pak Erik.
Selanjutnya pak Erik akan memberitahu perkembangannya, surat keputusan Cerai sudah keluar namun belum ingkra.
"pak Polisi ganteng dah nongol aja, jadi grogi ni...." Mak Esra yang menggoda Ningsih saat kami ngopi bersama.
Rifan Adikku yang gagah jadi malu-malu ngak jelas karena godaan dari Mak Esra yang suka jahil.
"pak Polisi.... kenapa ngak disini aja, biar dekat sama dengan kekasih hati!" timpal Nantulang Mak Rado yang iseng.
"ngak dulu Nantulang, jika tiap hari Rifan bertemu nanti malah tergoda lagi, takut hilaf, ntar aja kalau sudah resmi."
Ningsih semakin malu dan wajahnya terlihat memerah karena ucapan dari Rifan.
Rifan sebenarnya masih dalam tahap pengawasan atasannya, itulah sebabnya Rifan ngekos lebih dekat ke Kantor Nya.
Ningsih dan Rada yang tinggal Denganku membuat Rifan agak segan tinggal bersama kami, di tambah lagi Rifan harus konsentrasi ke tugasnya agar cepat naik pangkat.
Kami semua sebenarnya sudah mengetahui Nya tapi ibu-ibu rempong ini sengaja bertanya seperti itu hanya untuk menggoda Ningsih.
"bang .... sudah pulang pengacau itu?" tanya Mamak ke Rifan.
"sudah aman Mak, tapi Rifan kasihan sama Bapak. ngak tega liat wajahnya yang kelihatan tertekan."
"Rifan.... kakak mu dan calon istri mu ini, menemui Bapak mu itu saat di rawat di puskesmas di kampung, tapi Bapak mu tidak henti-hentinya menyalahkan kakak mu dan Mamak mu karena bou mu itu sedang butuh uang banyak.
bapak mu tidak akan berubah Rifan, selama dia masih tinggal di dekat keluarga Nya. kita tidak ada artinya bagi Bapak mu.
Makanan apa ya yang di kasih bou mu itu kepada bapak mu sehingga dia Begitu nurutnya kepada bou mu itu?
Kadang-kadang Mamak berpikir, kali aja bou mu itu bermain dukun untuk menarik perhatian dan kasih sayang bapak mu.
__ADS_1
Lihatlah Uda mu bapak Simson, yang bisa di goyah kepadanya. Mamak sangat yakin bou mu itu punya pelaris agar kedua Itok nya itu nurut sama dia."
"iya .... iya Mak.... ngak habis pikir tentang Bapak, kenapa Bapak begitu membela kakaknya itu?
padahal Mamak kan jauh lebih cantik dari kakak nya itu, tapi Kenapa bapak malah begitu sayang kepada Kakaknya.
Fix ..... aku yakini kakak nya itu berdukun Mak."
"sudah..... kok malah dukun pulak, kita percayakan saja kepada Tuhan. orang-orang yang azas manfaat tidak hidup tenang.
Kak Mak Elazer.... sabar ya, Mak..... sabar ya.... pokoknya Rifan akan menjaga kalian semuanya, tidak akan ku biarkan mereka menyakiti kalian lagi.
keluarga yang ku cintai dan akan selalu ku jaga dengan sepenuh Hatiku."
"iya lah pak Polisi....
Pak Polisi. kalau malam Minggu datang kemari lah, aja kek Ningsih jalan-jalan. calon mu ini tahunya kerja.... kerja.... dan kerja.
Kyak dah punya anak 10 orang aja, heran deh lihat Nya. kalau Rada di jemput calon nya jalan-jalan, kasian calon mu ini, hanya bisa kerja dan kerja."
"iya loh Nantulang, Rifan juga mau gitu. jalan di malam Minggu. tapi Rifan melakukan semua ini demi masa depan ku bersama Ningsih.
"uhmmm..... merah Nya pipi boru pudan (putri bungsu) oppung Ruth ini. cup.... cup.... dah .... ini kopi dingin, tadi di beli Rado di depan itu untuk kita."
Lagi-lagi Nantulang Mak Rado menggoda Ningsih yang sibuk menggambar sambil ngopi bersama.
"Ningsih ngak mau bou, Ningsih lebih suka kopi hitam panas seperti ini."
Ujar Ningsih dengan menolak kopi dingin dari Nantulang Mak Rado, yang akhirnya di ambil oleh Rifan dan tatapannya itu Begitu manis ke arah Ningsih.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Melihat ekspresi dari Ningsih kami hanya bisa tertawa bersama. karena jam istirahat kami sudah mau habis akhirnya kami kembali bekerja.
Sementara Ningsih, ku mintak untuk menemani Rifan pujaannya di ruang makan kami ini.***
__ADS_1
Aku dan Ningsih sebagai desain, yang melayani tamu di depan ini. ruangan Besar dengan ruangan khusus bagi kami berdua.
Ini sebenarnya gedung milik Saor yang nantinya akan menjadi tempat butiknya, lumayan besar dan bertingkat.
Jujur Aku sangat salut dengan pemikirannya, begitu luasnya rencana bisnisnya. Indah yang sudah belajar salon akan menyewa gedung ini, sementara Rani juga akan menyewa gedung ini juga untuk tempat mediciur pedikur dan juga untuk tempat spa.
Tiga serangkai itu tidak mau berpisah, dan juga tidak mau kuliah. kata mereka bertiga, otak nya masing-masing tidak nyampe ke bangku kuliah.
Lagi-lagi aku harus cemburu melihat perlakuan dan kasih sayang serta dukungan dari keluarga mereka.
Saor, Indah dan Rani. dibiayai modal kerja oleh orang tua mereka, terutama bapak mereka masing-masing yang sangat antusias mendukung rencana dari Putri-putrinya.
Iya.... mereka bertiga memang bernasib baik, punya Bapak yang mencintai dan menyayangi mereka. berbeda Denganku ini yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Bapak.
Mak Rado dan Mamak bertanggung jawab akan bakal dan model Payet, mulai dari order barang sampai dengan model potongan bahan.
Mak Esra dan Rada, serta Mak Pingky bertanggung jawab mengenai mesin dan bordir serta pembagian pekerjaan karyawan lainnya.
Sementara aku dan Ningsih bertanggung jawab terhadap desain dan menghadapi tamu.
Mulai dari security sampai tim produksi, total karyawan sudah mencapai 35 orang. Aku tidak menyangka kalau semua berjalan sesuai dengan keinginan Ku dan semuanya berjalan dengan sangat lancar.
Tidak lama lagi Saor dan dua sahabat nya akan gabung dengan kami dan tentunya kompleks ini akan semakin komplit untuk para wanita yang mau memanjakan diri dan pandangan Nya.
Semoga saja berjalan dengan baik dan semua cita-cita terkabul kan.
Lisa Adikku bersama calon Nya sudah mempunyai wisma atau gedung mewah, bapak Rado dan Bapak nya si Esra sudah menjadi pegawai Lisa di gedung tersebut.
Gedung mewah milik Lisa satu kompleks dengan tempat usahaku ini, sementara kami tinggal dibelakang komplek ini yang terhubung langsung dengan komplek usaha kami.
Hari berganti hari dan pelanggan kami sudah semakin banyak, hingga akhirnya saya harus menambah pegawai.
Tiga sahabat dari kampung sudah mulai membuka usahanya, dan disini aku benar-benar cemburu melihat Saor, Indah dan Rani.
Bapak mereka bertiga begitu sigap membantu mereka, aku hanya bisa gigit jari melihat kemesraan mereka bertiga dengan Bapaknya masing-masing.
__ADS_1
Dasar pengacau......
Pengacau hati........