
Memang sakit tapi inilah kenyataan nya, seperti nasihat dari Oppung Doli Sanggap (Oppung Doli artinya Kakek, dalam tradisi Batak panggilan seseorang itu berdasarkan anak pertamanya.
jika sudah punya Cucu, maka cucu pertama dari laki-laki yang menjadi panggilan namanya, jika belum ada cucu dari anak maka cucu dari anak perempuan pun jadi.
tapi nanti nya akan di ganti setelah cucu dari anak laki-laki lahir**). yang mengatakan jangan terlalu pusing dengan omongan orang.
Tapi itu ternyata Sulit untuk dipraktekkan, sekali lagi aku hanya tidak mau kalau Maria dan Uli salah paham dengan keadaan saat ini.
"Boru... apa kalian sudah menikah?" tanya amangboru dengan nada suaranya yang bergetar.
"kami berdua sudah menikah pak, dua minggu lagi Daniel anak pertama kami ini akan di baptis, (baptis adalah sakramen umat Kristen untuk menjadi penganut agama Kristen yang sesungguhnya) Uli dan kakak datang kemari untuk menjahitkan kebaya atas rekomendasi dari tetangga.
Uli ngak tahu kalau usaha jahit milik Eda Mak Elazer, inilah yang namanya rejeki ya, bisa bertemu bapak dan Eda Mak Elazer disni, penjahit favorit.
Bisa ketemu Tulang dan Nantulang (tulang artinya Paman dan pasangan nya adalah Nantulang. Tulang adalah saudara laki-laki dari pihak Mamak)* tradisi Batak Toba. serta keluarga lainnya, dan inilah rejeki anakku yang akhirnya bisa bertemu dengan Oppung doli Nya serta keluarga yang lainnya.
Mudah-mudahan bisa ikut hadir nanti dalam memberikan upa-upa (upa-upa adalah salah satu tradisi Batak Toba, biasanya dilaksanakan selesai acara baptisan anak, kelahiran anak, Adat pernikahan hingga Adat kematian). untuk Daniel."
Jelas Uli dengan mata yang berkaca-kaca, dan Mamak menyerahkan Daniel ke oppung Doli Nya.
Maria memanggil anaknya yang bermain di dekat ayunan Elazer dan menyuruh bersalaman dengan Oppung doli Nya.
"bapak, ini anak-anak Maria, yang laki-laki bernama Alex dan yang perempuan bernama Indri."
Ujar Maria, lalu anak-anaknya memeluk oppung Doli nya dengan begitu haru.
Oppung Doli nya hanya bisa tersenyum tapi meneteskan air matanya, tapi setidaknya beliau masih bisa bertemu dengan dua putrinya yaitu Maria dan Uli.
Nantulang Mak Saor mengambil Daniel dari pangkuan Oppung nya, sementara Mamak mengajak Alex dan Indri untuk makan siang.
Sebenarnya mamak mengajak kami semua makan, tapi Maria dan Uli menolak untuk sementara karena masih kangen dengan bapak nya. sehingga mamak menyupai Alex dan Indri makan siang.
Sebenarnya belum jadwalnya makan siang, karena ini masih 11 siang. karena itu mamak tidak terlalu memaksa.
"jadi apalah kerja bapak disni? terus bapak tinggal dimana?" tanya Uli dengan bertanya secara bertubi-tubi.
"bapak disini sebagai juru taman bersama Tulang Kalian, Oppung Doli Elazer. kami berdua memanfaatkan lahannya untuk nanam sayur dan cabai.
__ADS_1
Bapak tinggal di mes, sangat bagus lengkap AC serta peralatan rumah tangga Nya.
Jika malas masak nantinya bisa makan disini, di rumah Saor, di rumah pak Pingky dan tempat lainnya.
Disini banyak orang dari kampung kita, jadi bapak tidak akan kelaparan.
Selain menjual hasil dari taman, nantinya Mak Elazer akan menggaji bapak kok, jadi...
Drrrt... drrrt... drrrt....
Handphone ku yang terletak diatas meja bergetar, dan setelah ku lihat ternyata bou Mak Rada dari kampung yang menelpon.
"halo Mak Elazer, bisa bicara dengan pak Iren?"
(pak Iren adalah Bapak Andri, Maria dan Uli serta Sarah, Devi dan Gabe.
Menurut tradisi Batak, panggilan seseorang itu adalah anak pertama mereka. Iren adalah anak pertama dari mantan bapak mertua Ku ini).
Sebelum menyerahkan handphone ke Bapak nya Iren, terlebih dahulu speaker handphone tersebut ku aktif.
"secepat itu inang, terus Mamaknya Andri gimana?"
"Andri sudah mengirimkan Mamaknya ke rumah sakit jiwa yang ada di ibukota kabupaten. dan sekarang Andri sudah pindah ke ibukota kabupaten."
"emangnya sudah cair pembayaran? dan kenapa bisa secepat itu?"
"kebun itu kan atas nama Andri, sehingga cepat di proses. alasan Andri adalah untuk membawa Mamaknya berobat."
"terimakasih inang Mak Rado atas informasinya, kebetulan juga saya bertemu dengan dua boru Ku.
Uli dan Maria, nanti akan akan bicarakan lebih lanjut lagi."
"baiklah kalau begitu, titip salam sama Uli dan Maria ya. Horas Amang."
Bapaknya Iren langsung lemas seketika, Maria dan Uli hanya menghela napas panjang.
"Pak... kalau untuk menebus kebun Nya, jujur Uli tidak bisa. karena kami juga baru mengembangkan usaha. semua modal sudah tertanam."
__ADS_1
"ngak usah boru, yang bapak kwatir hanya mamak kalian yang dikirim Andri ke rumah sakit jiwa."
"sebentar Pak, di ibukota kabupaten rumah sakit jiwa hanya satu dan itu milik keluarga suamiku.
sebentar biar ku telpon dulu Bapaknya Alex. biar kita tahu keadaan yang sebenarnya."
Ujar Maria sambil meraih telpon genggamnya, Maria hanya berkata " ya sudah, terimakasih pak Alex "
Obrolan itu selesai, dan Maria terlihat mengetik pesan.
"nama Mamak sudah ku kirim ke Bapaknya Alex dan karena bapak berada disini bapaknya Alex akan datang kemari. ngak jauh kok dari pak, mungkin 10 menit lagi nyampe kemari."
Ungkap Maria yang berusaha tenang, dan sekita itu juga Uli juga mengeluarkan handphone Nya dan kemudian menelepon seseorang.
Tidak berapa lama suami Maria yang bernama Goklas sudah tiba di ruang tamu, sementara Uli terlihat gelisah.
"horas Amang." ujar Nya sembari kami bersalaman dan kemudian duduk dengan tenang.
"tadi saya sudah dapat kabar, bahwa inang benar di tempat di rumah sakit kasih Bapa. inang di tempat kan di ruang isolasi karena inang sudah seperti orang yang selalu kesurupan.
Inang sudah mendapatkan perawatan medis yang intensif, walaupun dengan cara bius.
Walaupun lumpuh tapi kedua tangannya sangat kuat sehingga harus melalui bius.
Satu hal lagi, Tunggane Andri menemui sahabat ku yang berprofesi sebagai pengacara untuk mengajukan banding putusan hakim mengenai perceraiannya dengan istrinya.
Rencananya akan mengajukan banding terhadap asuh Anak, tapi semua itu di tolak oleh sahabat saya itu.
Karena Andri tidak mampu menghadirkan atau punya bukti tambahan untuk banding, berdasarkan penuturan dari sahabatku itu. Andri akan mencari Pengacara yang lain yang mau membantu Nya tanpa bukti tambahan."
"menurut mu Amang, apakah Andri akan mendapatkan pengacara yang mau membantunya?" tanya bapak Andri dengan raut wajahnya yang gelisah.
"bisa saja Amang, tapi takut nya Andri bisa di tipu orang karena ambisinya.
Semoga Andri bisa berpikir jernih sebelum ada masalah yang lebih besar nantinya."
Bersambung....
__ADS_1