
Andri masih terdiam, tidak berapa lama amangboru dan bapak tiba di ruangan ini. lega rasanya dan Andri terlihat kaget melihat Bapaknya ada di ruangan ini.
"Tiur, kenapa si tua Bangka ini disini? pasti dia yang mempengaruhi mu kan?"
"tutup mulut mu Andri, itu bapak mu. jaga sopan santun mu."
Sanggah bapak dengan membentak Andri, yang terlihat bersitegang dengan Bapaknya sendiri.
"Andri, kau kemana aja? mamak mu dimana sekarang?"
"ya.... aku di tinggal nya di ibukota kabupaten, mamak masih di rumah sakit. ngapain kau nanya mamak?
bukannya kau sudah meninggal kan mamak? tapi kenapa kau malah bertanya lagi?"
Ucap Andri kepada bapaknya yang di panggil nya dengan panggilan ' kau '
Bapak hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Andri, memang manusia yang ini agak lain.
"kenapa kau tidak mengangkat telpon ku?"
"buat apa aku mengangkat telpon dari mu?"
Andri menjawab pertanyaan bapak dengan pertanyaan lagi, benar-benar luar biasa.
"aku berusaha menghubungi mu untuk memberitahu kalau mamak mu sudah meninggal dunia."
Andri malah tersenyum kecut kepada bapaknya, yang seolah-olah mengejek bapak nya akan hal ucapan itu.
"ngaur ini si tua bangka, kau yang sebentar lagi akan mati, bukan mamak ku tua bangka.
Mamak masih di rumah sakit kok, sudah gila kau ya?"
Bapaknya hanya bisa meneteskan air matanya saat mendengar jawaban dari Andri yang menyebut nya tua bangka.
"coba kau telpon pihak rumah sakit, dan pastikan apakah mamak mu masih di rawat di sana?"
Bukannya menelpon pihak rumah sakit, Andri malah nyinyir ke bapak nya.
"Andri anjing......"
Prak.... bras...... bam.....
Maria dan Uli, yang tiba-tiba saja sudah berada di ruangan ini dengan serentak menendang Andri hingga tersungkur dan terbalik diantara meja dan kursi itu.
ah... ah.... a..... a..... Ah... ah.... a..... a.....
Andri meringis kesakitan dan berusaha untuk bangkit, sementara Bapaknya berpura-pura tidak melihat nya.
"selama ini kau berbuat semau mu, sekarang kau tidak bisa berkutik. bertobatlah Andri, perbaiki dirimu dan cari kebahagiaan mu sendiri."
Mendengar perkataan dari Maria, si Andri seperti tidak mendengarkan nya.
"kalian semua adalah kakak yang kurang ajar, yang tidak tanggung jawabnya kepada aku adik kalian dan mamak.
Mamak di rumah sakit kalian tidak perduli, anak ku di rebut oleh Tiur kalian juga tidak perduli."
__ADS_1
"sekarang mamak ada dimana Andri?"
Lagi-lagi Andri terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan dari Maria.
"masih di rumah sakit."
"rumah sakit mana Andri? asal kamu tahu mamak sudah meninggal, tapi kami dimana saat mamak meninggal."
"gila kalian semua, mamak masih di rumah sakit."
Mendengar sanggahan dari Andri, Maria langsung mengeluarkan kertas dan memberikan nya kepada Andri.
"sudahi bohong mu Andri, itu adalah photo copy surat keterangan kematian mamak."
"oh.... sudah meninggal rupanya, bagus lah sehingga ngak merepotkan lagi.
Sekarang kalian harus membantu ku untuk kembali bersama Tiur, ini semua demi anak kami berdua.
Kata mamak, kalian wajib membantu Ku tanpa pamrih dan itu perintah langsung dari mamak."
Maria langsung di tahan oleh Saor demikian juga Uli yang di tahan oleh Indah dan Rani agar berhenti menghajar Andri.
Terlihat jelas Maria dan Uli menahan emosi yang sudah memuncak.
"Andri, silahkan pergi dari sini. jika kau masih mengganggu di sini, aku tidak segan-segan menyeret mu ke penjara."
kenapa sih kau tidak pernah berubah Andri? mamak yang selalu membela mu dan kau bersyukur mamak meninggal. apa kau layak jadi manusia?
sekarang apa tujuan mu untuk rujuk?"
"anak mu yang mana Andri? siapa nama anak mu."
Andri lagi-lagi terdiam, memang manusia benar-benar di luar biasa.
"Andri, hewan saja masih ingat dengan anak-anaknya. tapi kau tidak ingat siapa nama anak mu sendiri.
Mungkin saja kau tidak tahu jenis kelamin anak mu?"
"bagaimana saya tahu, Tiur memperkenalkan anak ku kepadaKu."
plak.... Plak.... Plak.... Plak....
Dua tamparan dari Bapaknya melayang di pipi Andri.
"kau ini pura-pura bego atau memang sudah gila?
Tiur dan keluarganya sudah pernah pulang kampung saat mamak mu sekarat di rumah yang di ladang itu yang sudah kamu jual.
Saat di rumah pak Saor, kamu datang menemui Tiur. dan kamu menggendong anak mu sendiri.
Tapi masih bisa-bisanya kau berkata Tiur tidak memperkenalkan anak ku kepadamu, dasar benalu.
Berubah lah Andri, mamak mu sudah meninggal. sudah tidak ada lagi yang membela mu."
Ekspresi Andri kemudian berubah seketika setelah mendengar ucapan bapaknya, Andri menangis dan kemudian berlutut dihadapan Bapaknya.
__ADS_1
"bapak....
Andri di tipu pengacara sialan itu, dia berjanji akan membantu Andri untuk merebut hak asuh anak dan menggugat harta gono-gini Tiur.
Andri sudah memberikan seluruh uang penjualan Kebun itu pak.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Andri menang.... mamak.... mamak... "
Aneh dan sangat aneh, Uli terlihat menghubungi seseorang. sementara Andri dipeluk oleh bapaknya.
"ini semua gara-gara mamak, dia yang menyuruh Andri untuk menceraikan Tiur.
Tiur... kamu mau kan memaafkan aku?
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
pasti mau lah, kau Tiur jangan kayak anjing.
benar-benar keterlaluan kau ya.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mamak sialan, semua bego....
Mamak yang menyuruhku untuk tidak tinggal bersama Tiur.
Mamak yang menurutku untuk tidak mengakui anak kami.
Mamak yang menyuruhku untuk mendekati si janda gatal itu.
ini semua gara-gara mamak, tolong Andri pak.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha"
Ucap Andri, dan terus menerus mengoceh yang mengalahkan almarhumah Mamaknya atas semua kejadian ini.
Semua kesalahan demi kesalahan terucap dari mulut nya secara berulang-ulang, tiada hentinya Andri mengucapkan hal itu.
Menangis dan ngoceh kemudian tertawa, lalu memaki-maki almarhumah mamak nya.
Tidak berapa lama, Suami Maria dan suami Uli datang dengan membawa petugas medis dari rumah sakit jiwa tempat Almarhumah Mamaknya di rawat.
Andri dibawa dengan ambulan, sempat melawan yang akhirnya di lumpuhkan dengan obat penenang.
Hanya Bapaknya dan bapak yang menemani petugas medis itu berangkat ke rumah sakit, sementara Maria dan Uli ikut kami masuk ke dalam rumah.
Maria dan Uli akan bertanggungjawab atas biaya rumah sakit dari Andri kelak nantinya, mereka berdua berjanji tidak akan merepotkan Ku.
Andri tidak ada hubungannya lagi denganKu, itulah sebabnya mereka akan bertanggung-jawab atas Andri.
Setelah selesai mengucapkan hal tersebut, Maria dan Uli memelukku bergantian sembari meminta maaf kepadaKu.
Tangisan dan haru memenuhi ruangan ini, aku hanya bisa menghapus air mata kedua kakak beradik itu.
__ADS_1