
"saya sangat yakin kalau Amang Bastian mampu membahagiakan mu Inang Mak Elazer dan juga pohoppu ku.
Inang Mak Elazer, kamu sudah menabur benih kebaikan. dan kamu lah yang harus memanennya.
Inang Mak Elazer, kamu memang yang terbaik, dan kamu berhak bahagia.
Saya ikhlas dan merestui hubungan kalian berdua, semoga hubungan kalian berdua berlanjut ke jenjang pernikahan dan semoga kalian berdua berbahagia.
Karena kamu Inang Mak Elazer dan pahoppu ku berhak untuk bahagia, semoga Rahmat Tuhan selalu menyertai hubungan kalian berdua sampai maut memisahkan."
Ujar amangboru pak Iren, ucapannya membuat terharu akan jiwa besar Nya. beliau mengatakan dengan begitu tegas dan percaya diri.
"benar kata amangboru Mu, Boru Ku (Putriku)* Batak Toba, kamu berhak bahagia.
Bapak mintak maaf karena merampas kebahagiaan Mu, bapak menyesal karena telah merampas kebahagiaan mu Boru.
Hati sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang. adek-adek mu juga sudah menitipkan restu kepada Bapak.
bapak juga merestui hubungan kalian berdua, semoga hubungan ini sampai ke jenjang pernikahan dan semoga kelak pernikahan kalian berdua bahagia sampai maut yang memisahkan."
Mamak langsung memeluk bapak dihadapan kami semua, mamak menghapus air mata bapak yang mengalir di pipinya.
"maafkan mamak yang tidak bisa bertindak saat kebahagiaan mu terampas Mak Elazer, sekarang kamu berhak bahagia.
Mamak juga merestui hubungan kalian berdua."
Mamak juga memberikan restunya demikian dengan Tulang dan Nantulang Mak Saor serta yang lainnya.
Kini Bastian sudah dihadapkan Ku dan memegang kedua tanganku. sorot tatapan matanya bermakna cinta yang dalam.
"Mak Elazer, Abang sangat mencintaimu. dengan ini saya bertanya kepada Mu, sekali Abang sampaikan, bahwa tidak ada keraguan dalam Hatiku untuk mencintaimu.
Dengan aku datang kehadapan mu, dan dihadapan keluarga ku serta di hadapan keluarga Mu.
Mau kah kamu menjadi Istriku?
bisa kah aku menjadi bapak nya Elazer?"
"iya, saya bersedia menjadi istri mu bang, dan Abang bisa menjadi bapak dari Elazer.
Aku juga sangat mencintaimu dan menyayangi mu bang, dan tidak keraguan dalam hati ini untuk menerima cinta dan kasih sayang mu."
"terimakasih dek, aku hanya bisa memastikan cinta dan kasih sayang untuk mu dan Elazer.
__ADS_1
aku akan bertanggungjawab mencintai dan menyayangi kalian berdua seumur hidup ku. selama jantung ku berdetak, dan selama itu Abang menjamin kebahagiaan kalian berdua dan kelak adik-adiknya Elazer nantinya."
Prok..... Prok..... Prok..... Prok..... Prok.....
Suara tepuk tangan memenuhi ruang tamu ini, senyuman Bastian yang begitu membuat ku mabuk asmara dan kebahagiaan malam ini yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
Saor, Indah dan Rani menyajikan kopi untuk kami semua, dan terakhir untuk Bastian. seperti ada sesuatu di bisikkan nya kepada Bastian dan calon suamiku itu langsung melirikku.
"Mak Elazer sayang....."
'cieeee......
Teriak yang lainnya ketika Bastian memanggil dengan sebutan sayang.
"tadi Saor bertanya, nantinya akan tinggal dimana dan bagaimana dengan usaha jahit Ku?
Dengan ini juga saya menyampaikan, kalau saya bersedia tinggal dimana pun asal bersama Tiur dan anak-anak kami nantikan.
Untuk usaha, niat saya adalah ingin menggabungkan usaha jahit ku di komplek ini, dan tempat jahit yang sekarang ini akan menjadi cabang nya akan tetapi pengerjaan nya disini.
Saor dan teman-temannya juga bisa membuka cabang disana biar komplit dan lengkap.
Mak Elazer, Abang masih punya sertifikat tanah yang bisa di agunkan ke bank untuk menambah modal usaha kita dan selain dari penghasilan ku selama ini.
bagaimana menurutmu Mak Elazer?"
"setujui bang, jadi usaha kita semakin besar nantinya. dan aku ingin kita tinggal disini bersama bapak dan mamak."
"bentar Boru, bapak dan Mamak mu ini sudah sepakat akan tinggal di rumah yang dibelikan mamak mu itu, jika kamu sudah menikah.
biarlah kalian berdua satu rumah tanpa orang tua, bapak dan Mamak mu sudah sepakat mengenai hal itu."
Prok..... Prok.....Prok.....
Suara tepuk tangan lagi memenuhi ruangan ini lagi, bapak dan mamak langsung memelukku dengan erat Nya.
"memang usaha itu perlu untuk kelangsungan hidup, tapi gimana ini selanjutnya?
apakah masih perlu marhata Sinamot atau langsung martuppol saja?"
(marhata Sinamot, acara adat untuk membicarakan jumlah Mahar yang akan diberikan kepada mempelai wanita sekaligus membicarakan tanggal Martuppol atau tunangan dan pesta pernikahan).
Pak Rado bertanya disela-sela kebahagiaan ku ini, untuk kelanjutan perihal hubungan kami.
__ADS_1
"kami sudah siap tentunya, saya harap langsung martuppol saja demi menghemat biaya dan itu biaya bisa di pakai lagi untuk usaha kan.
kalau mengenai undangan itu tanggung jawab saya, serahkan pada ahlinya yaitu saya. karena saya punya usaha percetakan.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha "
Jawab bapak Uda Bastian dan kemudian tertawa, karena beliau terang-terangan mempromosikan usahanya.
"oke, Sinamot (mahar) gimana? eh maaf ya, lancang kali moncong (mulut) ku ini." dialog Medan.
ujar Mak Pingky yang secara tiba-tiba bertanya tentang Sinamot, yang kemudian merasa bersalah karena terlalu lancang.
"ngak apa-apa Inang Mak Pingky, saat ini kita marhori-hori dingding lah namanya. dan sudah sepantasnya Sinamot di bahas.
Dulu waktu kami di pulau Jawa dan saat kerja, saya mengumpulkan Sinamot dan saat ini masih di Bank.
Sinamot yang terkumpul sekarang sudah mencapai 200 juta lebih, dan itulah rencana nya untuk menjadi Sinamot.
Untuk beli cincin pernikahan dan biaya pernikahan nanti sudah aku persiapkan secara terpisah."
Semua yang di ruang tamu tercengang mendengar penuturan dari Bastian.
"ini saran dari saya sebagai Bapak, Sinamot 200 juta tersebut di gunakan saja untuk membangun lapak menjahit di samping lapak Mak Elazer.
Dengan uang segitu banyaknya sudah bisa membangun nya, jadi tidak perlu lagi untuk meminjam ke Bank.
Untuk pernikahan Nantinya akan urusan kami berdua."
Ujar Bapak dengan begitu yakin nya, seraya memegang tangan mamak.
"Terimakasih kasih tulang atas saran nya, tapi itu tetap lah menjadi Sinamot dari ku untuk Mak Elazer.
Terserah Nanti nya mau untuk apa, mengenai pinjaman ke Bank nantinya itu suatu keharusan tulang, agar bank tidak berhenti mempercayai kita nantinya.
Saya juga sudah hal ini matang-matang, dan jelas nya saya juga sudah menyisihkan penghasilan untuk membangun lapak nantinya.
Pinjaman dari bank hanya untuk tambahan atau pun pegangan jika yang terkumpul tidak mencukupi.
Cicilan Bank Nya itu akan menjadi tanggung jawab saya sebagai kepala rumah tangga nantinya, Sinamot tetap Sinamot."
Setelah berkata demikian, amangboru pak Iren langsung mendekati Bastian dan kemudian memeluk nya.
Seketika kami semua terdiam, hanya suara isak tangis nya yang terdengar di pelukan Bastian.
__ADS_1