MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Mertuaku yang bringas.


__ADS_3

Karena sangat lelah, Aku langsung tidur setelah lama menunggu bang Andri pulang. sudah jam 9 malam Suamiku itu tidak kunjung pulang.


Sebelum tidur ku cek Handphone BlackBerry KW Ku tidak ada pesan apapun dari bang Andri, hingga akhirnya aku putuskan untuk istirahat.**


Pagi seperti biasanya beraktivitas, dan setelah selesai baru mandi dan lanjut menjahit. Mamak menelpon akan datang siang nanti setelah pulang dari pesta pernikahan Ferdinan anak kepala desa.


Tapi para Tukang sudah datang untuk mencat lapak jahit Ku yang masih di temani oleh Tulang pak Saor.


Pesanan Nantulang Mak Saor sudah siap fitting, dan aku lanjut untuk menjahit kebaya model lainnya yang sudah ada ukuran dari pelanggan Ku.


Setelah siap membuat pola dan menggunting bahan, aku menuju dapur untuk masak makan siang.


Masakan sudah terhidang dan para tukang yang ditemani oleh Tulang pak Saor datang merapat ke ruang tamu untuk makan siang.


Selesai makan siang dan cuci piring kemudian lanjut menjahit, terlihat dari kejauhan ibu mertuaku dan bang Andri datang dengan mengendarai sepeda motor.


"Tiur Anjing..... gara-gara kau Boru Ku (panggilan akrab dari ibu ke anaknya perempuan Nya, demikian juga panggilan bapak ke anak perempuan Nya) kabur dari rumah.... memang menantu pembawa sial kau, entah apa saya yang Sampai kan kepada Uli. betul-betul menantu pembawa sial kau."


"jaga mulut busuk mu itu, jangan sampai ku robek mulut kau itu." sanggah Mamak yang tidak kalah sengit dengan ibu mertuaku.


Mamak yang sudah datang bersama Nantulang Mak Saor langsung men nyosor ke dekat ibu mertuaku. para warga yang lalu lalang setelah pulang dari pesta pernikahan Ferdinan anak kepala desa.


Ya Tuhanku..... apa lagi ini? ....


Gumam ku dalam hati, mamak yang bersitegang dengan ibu mertuaku langsung ku hampiri. dan mata banyak warga yang melihat kami membuat ku sangat malu.


"kau sama Boru mu (putri mu) itu sama-sama pembawa sial." ucap ibu mertuaku dengan suara yang keras.


Bang Andri lagi-lagi hanya bersembunyi di belakang Mamaknya.


plak.... plak.... ' mamak menampar kedua pipi ibu mertuaku dengan sangat keras.


"berani-beraninya kau bilang boru Ku pembawa sial ya, Boru kau kabur kenapa kau menyalahkan Tiur boru ku."


(disini mertuaku sangat tidak menghargai Mamak sebagai ipar sekaligus besannya, dalam tradisi Batak. mertuaku sebagai kakak dari bapakku harus menghormati Mamak sebagai istri dari ito kandungan Nya. bagi suku Batak Toba khususnya, anak laki-laki mempunyai kedudukan yang terhormat. yang biasa disebut Tulang. jika ibu mertuaku ini meninggal, harus bapak dan Mamak yang memberi ulos terakhirnya, atau saudara kandung laki-laki nya yang lain. jika tidak ada lagi maka di ambil dari Sepupu laki-laki yang semarga dengan ibu mertuaku ini)


"kurang ajar." ucap mertuaku yang berusaha menjambak rambut Mamak.

__ADS_1


Tapi Mamak jauh lebih lihai dari mertuaku, ibu mertuaku langsung di Jambak Mamak hingga akhirnya ibu mertuaku tersungkur dan jatuh ke tanah.


Mamak mengambil kendali, perut mertuaku di duduki oleh Mamak dan wajahnya di tampar berulangkali oleh mamak.


"anjing kau ya, Boru mu yang kabur, kau salah kan Boru Ku." ujar Mamak yang terus menampar kedua pipi ibu mertuaku.


Bang Andri terlihat panik dan hendak menyeret Mamak Ku, uhmmm tidak dibiarkan ini, langsung aku ambil kayu sisa potongan dan...


Prak..... ' kayu melayang tepat di jidat bang Andri dan mengeluarkan darah segar.


"Mak.... berdarah." ucap bang Andri lalu terjatuh dan pingsang.


Mamak akhirnya melepaskan ibu mertuaku, dan langsung melihat anaknya yang terkapar dengan darah yang mengalir dari jidat Anaknya.


"anak hasian Ku (anak kesayangan ku)...." katanya dengan suara yang sangat kuat.


Warga semakin banyak berdatangan dan tidak berapa lama petugas puskesmas datang berikut dengan Pemangku adat dan kepala lingkungan.


Petugas medis langsung membawa bang Andri masuk dan membaringkan tubuhnya di depan meja kerjaku dan langsung di tangani para medis.


"ito ku..... (panggilan kepada saudara perempuan ke saudara laki-laki Nya dan sebaliknya) lihat Boru ini, dia mau membunuh bere mu (keponakan)."


"berani kau menampar Tiur, kita cerai. rumah, sawah dan kebun itu dari itok Ku. aku tinggal bayar sinamot (Mahar) berupa kain sarung, tiga karung sekaligus.


Ayok tampar, tampar pak Tiur........ "


Mamak berteriak dan menangis, begitu juga denganku. sakit rasanya hati ini, sulit untuk dijelaskan.


"gara-gara Mamak kau yang sok hebat dan kau pak Tiur, Boru ku jadi sengsara seperti ini. Mamak mu yang sok kaya itu selalu menyudutkan Ku sebagai istri mu.


Boru dan anak sudah aku lahir kan, tapi Mamak kau masih belum puas dan selalu menuntut lebih dan lebih.


Mamak Mu sok kaya, untuk memberiKu mahar pun tidak sanggup. bahkan untuk membeli cangkir untuk kita mamak kau ngak sanggup, tapi selalu merendahkan diri Ku.


Semuanya keluarga Ku yang membiayai hidup kita pak Tiur, tanah tapak rumah dari orang tua Ku, biaya membangun rumah, sawah dan kebun dari itoku (saudara laki-laki). sementara Mamak Mu, Itok mu itu. hanya merendahkan harga diriku sebagai istri mu.


Pak Tiur... lihat lah, sampai Putri kita pun ikut direndahkan oleh Itok mu. jika seandainya Mamak mu masih hidup pastilah dia ikut merendahkan putriku juga."

__ADS_1


Hatiku tersayat mendengar ucapan Mamak yang setengah berteriak.


"tutup mulut mu wanita pembawa sial." ujar Mertuaku.


prak..... plak.... ' tendangan Mamak yang mengenai dada ibu mertuaku dan tersungkur jatuh ke tanah.


Plak..... ' tamparan keras melayang di pipi Mamak Ku.


Prak.... plak..... ' tulang pak Saor menendang bapak sampai tersungkur dan terjatuh tepat disamping ibu mertuaku.


"saya sudah menahan emosiku selama ini pak Tiur, berani kau menyakiti kakakku. sekarang kau mau menghajar kakakku, anjing kau....


"cukup pak Saor.... cukup....."


Ujar pak Denan dengan berteriak, kepala lingkungan. karena Tulang pak Saor hendak menendang bapak lagi.


"si anjing ini mau memukul kakakku pak Denan... " ucap Tulang pak Saor dengan suara yang bergetar karena menangis.


"cukup pak Saor, kita bicara di aula desa aja. mari semuanya kita ke Aula" ujar Kepala lingkungan.


"pak Tiur, bawa bere mu itu dari rumah Itok Ku. aku tidak Sudi melihat nya disitu." ujar Mamak.


Ternyata bang Andri sudah Siuman, dan akhirnya rumah di tutup oleh tukang dan kami semua pergi ke aula desa.**


Bapak mertua sudah hadir, dan kami duduk di tempat masing-masing sesuai pembagian yang dibuat boleh Pemangku adat.


Pemangku adat maju ke podium dan terlihat dia terlihat begitu kesal karena kejadian ini, seharusnya Pemangku adat masih berada di acara pernikahan Ferdinan yang masih berlangsung.


"ini benar-benar membuat Ku sangat marah, asyik keluarga kalian saja yang harus saya urus, mulai dari orang tua mu pak Tiur dan sekarang putrimu.


Kenapa sih dengan mu pak Tiur? apa masih kurang masalah Mu yang dulu?


Apa pak Iren tidak bisa mengajari Istrimu menjadi lebih baik lagi?


Bukan hanya Menantu mu yang bermasalah dengan Istrimu, tapi banyak warga mengadu karena kelakuan Istrimu pak Iren.


Sekarang pak Iren mau jelasin apa lagi?"

__ADS_1


Raut wajah Pemangku adat terlihat begitu sangat kesal dengan kejadian ini, sementara bapak mertua hanya terdiam.


__ADS_2