MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Perdebatan Sengit.


__ADS_3

Segala sesuatu tentang persiapan pernikahan Lisa sudah di urus oleh keluarga Ku, itu semua di lakukan agar fokus menghadapi Andri dan keluarganya.


Hari ini saya harus ke pengadilan untuk tahap perdamaian mengenai hak asuh anak, bersama pak Erik dan Mamak. kami berangkat ke pengadilan.


Kami di tempatkan di sebuah ruangan dan tidak berapa lama Andri dan Mamaknya yang di dampingi oleh pengacaranya dan kemudian masuk Hakim serta dua orang laki-laki yang mendampingi Nya.


"baik bapak-ibu, saya Hakim yang menangani kasus hak asuh anak ini. sekarang saya ingin mendengarkan pernyataan atau penjelasan dari pihak penggugat terlebih dahulu yaitu saudara Andri Pandiangan."


"terimakasih pak hakim, saya ingin anak saya yang saat ini bersama mantan istriku. karena anak itu lebih berhak sama saya. sebagai orang suku Batak, anak harus bersama Bapaknya."


"mau kasih makan apa Anakku? kau aja pengangguran. anak manja seperti kau tidak pantas mengasuh anak.


Boro-boro ngurusin anak, Kau aja masih ***** sama Mamak kau.


Oh iya bukannya kau sudah menyangkal kalau itu bukan anak mu? tapi kenapa kau malah menuntut hak asuh sekarang?


Saya tahu, jika kau dapat hak asuh anak. maka kau akan meminta uang samaku untuk keperluan anak dan sebagainya. keliatan ya, dasar parasit."


"tutup mulut Tiur, kau selalu merendahkan Anakku. kau kira saya tidak sanggup memenuhi kebutuhan Cucuku? dasar perempuan Egois."


"eh Mak Lampir, dari mana kau bisa memenuhi kebutuhan Anakku. hutang mu aja berjibun, dan kau pengangguran sama seperti anak mu.


ingat Mak Lampir, sumber uang mu sudah putus. kedua saudara laki-laki mu sudah tidak ber Taji lagi.


Satu di penjara dan satunya lagi terlilit hutang koperasi gara-gara kau Mak Lampir. bahkan kau sudah tidak punya rumah lagi.


Mau kau buat tinggal dimana Anakku? hidup di ladang seperti Suami kau itu?"


"tutup mulut Tiur, saya masih punya rumah Besar."


"Mak Lampir.... Mak Lampir.... itu rumah bapakku. sawah juga punya bapakku, kau dan anak mu tidak punya rumah.


Suami kau Mak Lampir, sudah tinggal di ladang, karena rumah yang dibelikan oleh Maria untuknya sudah kau jual untuk bayar denda Adat.


sadar kau Mak Lampir, kau sekarang sudah melarat."


"kurang ajar...." ujar mertuaku dengan bengisnya.

__ADS_1


"cukup..... hentikan." ujar Hakim dengan setengah berteriak ke arah kami berdua.


"baik, Disini anak bapak-ibu masih bayi berumur 5 bulan. apa ngak lebih baik kalian berdua untuk rujuk kembali menjadi suami istri? ini semua demi anak."


"pak Hakim yang terhormat, lebih baik saya mati daripada menjadi istri anak manja ini lagi.


Laki-laki sampah seperti ini pak, tidak pantas untuk menjadi suami apalagi menjadi seorang Bapak.


Anak Manja, pengangguran dan suka mengadu kepada Mamaknya. hidupnya laki-laki sampah hanya lah Mamaknya dan Mamak Nya."


"pantas saja kamu di ceraikan oleh Anakku, mulut Mu lantam dan hamil duluan lagi." ujar Mamaknya Andri


"Tuh lihat pak Hakim, disini dia menuduhku hamil duluan. itu artinya dia menyangkal cucunya sendiri, apa pantas mereka mengasuh Anakku?"


Pak hakim terlihat garuk-garuk kepala akan perkataan mertuaku yang tiba-tiba menuduhku hamil duluan alias hamil di luar Nikah.


"Berdasarkan ucapan saudari barusan, saya ingin bertanya lebih tegas, apakah mantan Menantu ibu hamil duluan?"


"iya...."


"berarti anak dari saudari Tiur bukan cucu ibu kalau Begitu, dan kenapa ibu menuntut hak Asuh yang bukan Cucu ibu sendiri.


Kita bertemu lagi di tahap mediasi, dan saya berharap saudara penggugat membawa bukti akan Akan yang kalian gugat hak Asuhnya, sekian dan terimakasih."


Hakim dan dua orang yang bersamanya langsung meninggalkan kami di ruangan ini dan sorot mata Mamaknya Andri begitu menyeramkan.


"ibu kok ngomong seperti itu? saya jadi ragu, apakah Anak ibu Tiur ini, anak kandungnya pak Andri?


apa pak Andri sudah pernah menggendong anak dari ibu Tiur?" pengacara Andri bertanya keheranan.


"boro-boro mengendong, liat anak saya mereka tidak Pernah pak.."


"gimana caranya melihat anakku? kamu aja tidak pernah memperlihatkan nya kepadaKu."


"helloo.... kau jelas tahu aku melahirkan, tapi kau kemana? tiga jam lebih saya di puskesmas kesakitan sebelum lahiran, tapi kau tidak pernah muncul.


Saat di rumah waktu itu, menoleh pun kau tidak. sekarang muncul pertanyaan aneh dari kau, pura-pura bodoh atau memang bodoh?"

__ADS_1


"dari tadi kau asyik menyalahkan anakku aja, dari kami tahu kalau kau melahirkan? gila kamu ya." ucap Mamaknya Andri dengan sengitnya.


"kampung kita tidak terlalu luas Mak Lampir, waktu ke puskesmas saya lewat depan rumah Kalian. tetangga Ku saja tahu, kalau aku sudah berada di puskesmas dan hendak melahirkan.


Kau Mak Lampir.... ngak usah pura-pura ngak tahu, karena sebenarnya kalian tidak mengakui Anakku.


Tujuan utama Kalian adalah untuk harta gono-gini, kalian berdua berharap bisa memperoleh harta gono-gini yang tidak pernah kalian ketahui.


Jangan Mimpi kau Mak Lampir, tidak sedikitpun itu dari uang kau dan anak Kau yang ku pakai untuk membangun usaha ku.


Andri.... sungguh Aku benar-benar kecewa terhadap Mu, saya kira kau akan berubah. tapi nyata itu hanyalah hayalan Ku saja.


Kau tetaplah Andri si anak manja, jangan harap kau dapat apapun dari Ku."


"Kau kira sudah hebat? kau ngak ada apa-apanya. lihat saja, akan ku buat menyesal dan tidak akan pernah bersama anak mu lagi.


Akan ku ambil Cucuku dari kau, dan kau tidak akan pernah bertemu dengan Nya."


"Mak Lampir.... baru saja kau menyangkal cucu mu Sendiri, buktikan aja dulu kalau punya Cucu ya."


Ku tinggalkan mereka yang terdiam, rasanya ampun sekali melihat keluarga Mantan Suami ku ini.**


Kami sudah sampai di rumah, dan Minggu depan kami akan berhadapan lagi. jadi Aku butuh ekstra tenaga.


"kak.... dari mana Kalian?" tanya bapak yang sudah tiba di rumah ini.


"dari pengadilan Pak." jawab Ku singkat.


Rifan, Fernando dan Lisa menghampiri kami di ruang tamu ini. terutama Rifan, dia begitu serius menatap wajah Bapak.


"bapak kok cepat kali datangnya? kan Abang bilang Minggu depan aja datangnya?" tanya Rifan dengan raut wajahnya yang serius.


"bapak kangen sama anak-anak Bapak, apa kalian masih membenci Bapak?"


"menurut Bapak Gimana? perlu Rifan jelaskan?"


"apa yang harus bapak lakukan agar anak-anak bapak mau memaafkan Bapak?" tanya bapak dengan berderai air matanya.

__ADS_1


Rifan langsung melihat Ku dan raut wajahnya seperti merencanakan sesuatu, dan itu yang Ku tunggu-tunggu.


Aku ingin melihat reaksi Bapak ketika anak-anaknya menuntut sesuatu yang tidak pernah di pikirkan Nya.


__ADS_2