MENIKAH KARENA HUTANG ADAT

MENIKAH KARENA HUTANG ADAT
Bapak Berpaling Dari Kami.


__ADS_3

"pak Tiur.... saya juga mendapatkan harta warisan dari orang tua Ku, dan itu Aku pergunakan untuk anak-anak Ku. karena itu adalah pesan dari kedua orang tua Ku.


Pak Tiur sudah di anugerah kan 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki, yang baik, pintar dan berprestasi, istri yang baik dan penurut. tapi ....


ah..... sudah lah, bapak-ibu. pertimbangan ini bukan hanya dari sisi emosi Ku saja, tapi saya takut harta bapak dan ibu di rebut juga sama pak Tiur dan dan Mak Iren ini kelak nantinya.


Dari penuturan para penuntut Tutur Muccung (penuntut denda karena merasa difitnah), Mak Iren ini sudah di peringatkan. akan tetapi masih terus berulang hingga akhirnya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk membayar Denda.


Dendanya tidak sampai 100 juta, kecil itu bagi Mak Iren. kan orang kaya.


Jika Pak Tiur dan kakaknya masih menuntut harta bawaan Mak Tiur, maka kita harus mengusir Pak Tiur serta keluarga kakaknya dari kampung ini.


Bapak-ibu, Apakah setuju dengan sikap saya?"


"setuju...... " Para warga yang hadir menyatakan setuju. dan suara itu bergema di aula desa ini.


"baik, demi menjaga kenyamanan para warga Ku. jika Mak Iren masih menyebarkan fitnah lagi, kita denda 100 kali lipat, jika tidak mampu bayar kita langsung usir.


Jika pak Tiur dan kakaknya serta keluarga kakaknya, jika mengganggu harta bawaan Mak Tiur dan tidak kunjung keluar dari rumah Mak Tiur, saya ingin kita semua mengusir pak Tiur serta keluarga Kakaknya dari kampung ini. setuju........."


"setuju.....


"setuju..... " suara para warga yang setuju bergema di aula Desa ini.


"Amang Raja Huta (Pemangku Adat), inilah sikap dari Ku sebagai Kepala Desa yang dipilih oleh semua warga yang Disini, saya bisa menjadi Kepala desa karena di pilih warga dan mereka tentunya ingin mendapatkan perlindungan.


Saya ingin mendengar pernyataan dari Amang Raja Huta (Pemangku Adat) sebagai orang tua dan Raja. yang kami anggap sangat bijaksana. Saya mohon berikan tanggapan amang Raja Huta."


"terimakasih bapak Kades, saya juga merasa kalau Mak Iren pembuat onar. dan inilah peringatan terakhir Mak Iren.


Pak Tiur..... kau bukan laki-laki, dan kau tidak pantas jadi Bapak dari anak-anak Mu. kau bahkan menyangkal amanah dari Bapakmu.


Dengan ini juga. saya, Sebagai Raja Huta. setuju dengan sikap tegas dari pak Kades yang di setujui oleh warga.


prok....prok.... prok.... ' suara tepuk yang meriah dari para warga atas sikap Pemangku Adat.

__ADS_1


"baik bapak-ibu, sebagai pertanda dan pengingat untuk kita mengenai kejadian ini. saya sudah menyiapkan dokumen perjanjian untuk jaga-jaga. dan dokumen itu sudah disempurnakan oleh pak Kepling (kepala lingkungan).


Pertama harus di tandatangani oleh pak Tiur, demi keluarga Nya dan Mak Iren yang selalu meresahkan. dan kita para warga harus membubuhkan tandatangan sebagai saksi. pak Kepling, tolong jalankan pernyataan itu."


Kepala Lingkungan langsung melaksanakan perintah pak Kades, butuh waktu setengah jam untuk menandatangani perjanjian tersebut. dan akhirnya perjanjian itu sudah di meja pak Kades dan langsung di tandatangani oleh Pemangku Adat dan juga bapak kepala lingkungan.


"Bapak-ibu, saat ini juga perjanjian ini saya tandatangani dan kuberikan cap atas Nama desa di surat perjanjian ini.


Dengan ini, diberitahukan bahwa perjanjian ini berlaku mulai dari sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan."


Prok.... prok....prok.... prok.... ' suara tepuk yang meriah dari para warga, saat Pak Kades membubuhkan tandatangan nya dan cap.


"bagi pihak-pihak yang merasa surat perjanjian ini penting, besok foto copy dari perjanjian ini. bisa di minta di kantor kepala desa atau di rumah Pak Kepling serta di rumah Raja Huta.


Amang Raja Huta, apakah masih ada yang mau di sampaikan?"


Pemangku Adat memberi isyarat pertanda Beliau sudah merasa cukup dan Pak Kades kemudian berdiri.


"terimakasih bapak-ibu atas semua partisipasi Nya, saya mintak untuk selalu menjaga ketertiban demi kenyamanan kita bersama.


Para warga sudah mulai bubar dan aku langsung menemui Mamak yang masih duduk di kursinya.


"pak Tiur.... Kami bertiga akan membereskan pakaian mu dari Rumah, jangan pernah kembali lagi ke rumah. tidak satupun yang pernah kau beli di rumah itu.


Bahkan hasil panen sawah dan kebun selalu kau berikan kepada kakak kau itu. sudah saatnya parasit seperti kau lenyap dari kehidupan Ku."


Kata Mamak dengan berderai air matanya, aku dan Rifan menuntun Mamak untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, kami disambut air mata dari Lisa Adikku dan juga Fernando.


Fernando masuk angkatan darat sementara Lisa bekerja di salah toko pakaian mahal di Mall elit di Medan.


Selama ini Aku dan Lisa yang banting Tulang untuk membiayai sekolah Nya Fernando dan juga biaya pendidikan Rifan selama SMA dan uang sakunya selama di Akpol.


"kak.... Mak..... pakaian bapak sudah Lisa taruh di dekat jalan itu, Lisa ngak mau melihat wajah bapak lagi."

__ADS_1


Ujar Lisa dengan air matanya yang terus mengalir. kami sekeluarga hanya bisa saling berpelukan.


Mamak menyuruh kami istirahat, akan tetapi aku teringat dengan para pegawai yang ku tinggalkan. apa mereka sudah makan? apa mereka mengalami kesulitan?


Drrrt.... drrrt..... " handphone berbunyi, yang dihubungi oleh Ningsih."


"halo kak Tiur..... Ningsih antar makanan ya, kakak sudah di rumah bou?" tanya Ningsih dengan suara yang bergetar karena cemas.


"Lisa Adikku sudah masak di rumah Mamak, jadi tidak perlu lah antar makanan ya."


"baik lah kak Tiur, oh ya. ternak kakak sudah Ningsih kasih makan ya. karena ini sudah sore kami pulang ya kak. semua sudah di kunci, kakak temani bou dulu ya.


Besok biar Ningsih yang datang pagi-pagi untuk ngasih ternak kakak makan, kakak dan bou tenangkan diri dulu. untuk sementara biar Ningsih yang ambil alih ya kak.


Disini cuman Ningsih yang punya waktu luang yang banyak, karena yang lain sudah pada berkeluarga.


Kak Tiur tenang ya, kami siap membantu kakak. kak Tiur jangan lupa makan dan jangan lupa untuk menghibur bou ya kak."


"terimakasih ya Ningsih."


"sama-sama kak."


Tuhan pasti akan memberikan pertolongan bagi hamba-nya yang teraniaya, dan itu sangat nyata Kurasakan.


Ditengah terpuruknya seperti ini, Rifan dan adik-adik pulang kampung untuk memberi dukungan, Keluarga Tulang pak Saor yang selalu menyayangi kami.


Ningsih dan teman-teman yang lain membantuKu dalam hal pekerjaan dan selalu memberi dukungan, para warga dan tetangga yang memberiKu dukungan dan kekuatan.


Ini semua adalah bukti Kuasa Tuhan yang Nyata.


Marah, emosi, geram dan sakit hati. bercampur menjadi satu, disaat seperti ini hendaknya bang Andri sebagai suami ku hadir di sampingku untuk memberiku Kekuatan baru.


Jangankan Suamiku, bapakku sendiri pun lari dari kami dan berpaling mendukung kakaknya dan keluarganya.


Puji Syukur atas semua Kasih Karunia Tuhanku, yang memberiKu dan keluarga Ku dukungan dan kasih Nya.

__ADS_1


__ADS_2