
Sudah seminggu lebih sejak Rona datang kemari dengan membawa anak perempuan nya, dan sampai sekarang kabarnya tidak kunjung kami ketahui.
Hari sudah menjelang sore saatnya beres-beres, lusa tepat hari Sabtu aku dan bang Bastian akan menikah.
Sore hari ini ketika bersantai di teras rumah bersama bapak dan mamak, kami kedatangan tamu, yaitu Bapak Uda nya bang Bastian yang datang bersama istrinya.
"horas Amang Inang."
Bapak Uda nya Bastian menyapa kami seraya tersenyum dan langsung dipersilahkan oleh bapak untuk duduk.
"kami berdua tadi baru dari pekan itu raya itu, ada toko yang mau berlangganan telur ayam kepada kami.
Setelah mengantarkan sampel telur ayam dan kami singgah kemari, sebenarnya bukan hanya untuk singgah aja.
Saat kami mau kemari, Bastian meminta kami untuk bicara dengan Inang dan Amang serta Tiur, oh iya Mak Elazer.
Begini kata Bastian, lusa kan hari pernikahan Nya. jadi anak kami ingin pamit kepada bapaknya Elazer.
Biar bagaimanapun Elazer adalah anak kandungnya, setidaknya Bapak kandung Elazer mengetahui siapa yang menjadi Bapaknya.
Jika berkenan Mak Elazer bersama Bastian anak kami bertemu dengan bapak kandung Elazer."
"menurut ku itu sih ide bagus ya, tapi semua terserah Mak Elazer."
Ujar Bapak yang menyahut omongan dari bapak Uda nya bang Bastian, tapi memang benar juga. tidak ada salahnya untuk mengunjunginya.
"baiklah amangboru saya setuju, tapi saya menginginkan bapak dan amangboru pak Iren yaitu bapak kandungnya Andri untuk mendampingi kami."
"jelas mau inang Mak Elazer, amangboru dan Eda si Gabe ini menemani mu Inang Mak Elazer."
"iya Eda, saya dan Bapak akan mendampingi Eda dan calon Eda ke sana.
Eda dan calon suami Eda memang luar biasa baiknya, murah hati dan penuh kasih."
Gabe dan Bapaknya menyahut omonganku, terlihat Gabe memegang bontot makanan yang berisi makanan.
"Eda......
biasa aja Eda, kan jadi malu aku. oh iya itu apa yang di dalam bontot?"
__ADS_1
"manuk napinadar, tadi pagi kami di kunjungi oleh kedua orangtuanya Roy. pegawai ku itu, yang tinggal di mes karyawan.
amangboru dan bou itu membawa oleh-oleh ayam kampung, dan jam 3 sore tadi baru di potong Bapak.
Tolong di cicipi Eda, mudah-mudahan masakan ku cocok dengan Eda."
(Manuk Napinadar atau Ayam Napinadar adalah masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu, biasanya disajikan saat seseorang sedang mengalami suka cita seperti kelahiran anak, pernikahan, dan saat seseorang akan berangkat merantau. )
Manuk napinadar atau ayam napinadar adalah menu favorit ku, sekarang ini ayam napinadar bukan hanya untuk adat saja tapi sudah sering di masak ibu-ibu wanita Batak, biasanya sih karena permintaan dari suami nya.
ayam napinadar buatan Gabe sangat luar biasa, tapi kok banyak banget ya .
"waouuuuu.....
rasanya klop, enak dan pas di lidah ku. tapi kok seperti masakan mamak ya?"
"Iya benar seperti masakan nantulang, karena aku belajar ayam napinadar dari nantulang.
Eda jangan harap kalau almarhumah mamak ku mengajari ku masak."
Mamak langsung memegang tangan Gabe dan akhirnya Gabe tidak jadi mewek alias nangis.
Akhirnya kami bersama Bapak Uda dan Inang Uda bang Bastian makan bersama, dengan menu spesial ayam napinadar buatan Gabe.**
Sudah jam 9 pagi, tentunya sudah bersiap-siap. Elazer sudah mandi, ganteng dan wangi.
Kami menunggu bang Bastian di teras rumah ini sambil bercanda ria dengan Elazer.
'pa...pa....pa....'
Ketika bang Bastian turun dari mobilnya yang di supiri oleh bapak Uda nya, Elazer langsung memanggil dengan panggilan pa... pa...
Ketika bang Bastian menggendong Elazer, senyumnya begitu Sumirah.
Bapak Uda nya bang Bastian, bapak, Gabe dan Bapaknya dan juga aku bersama Elazer yang akan pergi menemui Andri di rumah sakit jiwa.
"Nindy....
Kamu istrihat aja di rumah ya, aku yang akan menjaga Elazer."
__ADS_1
"iya kak, hati-hati di jalan."
Nindy menjawabnya, dan kami pun berangkat dalam satu mobil.
Hanya butuh waktu 20 menit, akhirnya kami tiba di rumah sakit. setelah urusan di administrasi selesai kami dipersilahkan masuk ke ruang rawat Andri.
Andri terlihat begitu lemas, tapi dia sudah tidak di ikat lagi. tubuh nya kurus dan seperti tidak terawat.
"Andri....
bapaknya memanggil namanya, dan seketika itu Andri langsung memeluk Bapaknya.
"bapak kok lama kali datangnya, Andri ketakutan disini sendirian pak."
"gimana kabar Amang?"
"sehat pak, cuman bosan aja disini. tidak seperti di kampung, bisa memelihara ayam, babi dan kerbau sambil memetik kopi."
"kan kebun serta kandang ternak kita sudah kamu jual!"
"ngak semua pak, hanya setengahnya yang di butuhkan buat lapak tower. sisanya masih punya kita dan itu tercantum jelas di perjanjian jual belinya.
Perjanjian jual belinya masih Andri simpan di rumah kita yang di kebun."
"Andri, kamu yakin dengan ucapan mu ini?"
"iya loh pak, kalau bapak ngak percaya. mintak tolong aja sama Lae Sanggap yang di kampung untuk mencek surat perjanjian jual beli itu.
Andri simpan di lemari bawah pakaian Bapak, dalam map berwarna merah."
Bapak langsung menghubungi sepepu kami yaitu Sanggap, Cucu dari Oppung Doli Sanggap.
berhubung Sanggap masih berada di sekolah, maka bapak mintak tolong ke Oppung Doli Sanggap.
Ternyata oppung Doli Sanggap berada di kebunnya yang berbatasan dengan kebun Andri.
Tidak berapa lama oppung Doli Sanggap memberitahu kan kalau perjanjian jual beli di simpan di dalam lemari, seperti yang di ucapkan oleh Andri.
Dengan terbata-bata oppung Doli Sanggap membaca isi surat perjanjian jual beli tersebut, dan tepat sekali seperti yang di ucapkan oleh Andri.
__ADS_1